Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa

Senin, 13 Januari 2020 
Pukul 20.00-22.00 WIB 
Pemateri: Betty Epsilon Idroos, M.Si T

eori perubahan sosial bisa dikaji melalui struktur fungsional dan konflik (Karl Marx). Kedua hal ini bisa dipelajari sendiri dari berbagai sumber yang banyak tersedia di Internet. Untuk malam ini, Yunda Betty menitik beratkan bahasan orientasi pada penyadaran dan pengingatan tentang ke-Hmi-an. Menurut Cascio dalam Sedarmayanti (2010:114), orientasi adalah pengakraban dan penyesuaian dengan situasi atau lingkungan. Reorientasi yang dimaksud oleh Yunda Betty adalah evaluasi HmI sekarang ini dengan kesesuaian berbagai hal dalam anggaran dasar. 

HmI kini terlalu sibuk dengan berbagai hal politik dan sejenisnya yang justru secara tidak langsung merusak organisasi. Politik adalah seni mencapai tujuan untuk kebaikan bersama (Aristoteles). Reorientasi politik yang dimaksud adalah pengembalian arah dan tujuan mahasiswa untuk memberi kebermanfaatan. 

Jauh sebelum itu, HmI sebagai organisasi yang besar dan tua harus tetap memegang budaya lama yang menjadi ciri khas. Setiap kader harus bisa menjadi dirigen, mampu menyanyikan hymne dengan not yang benar, teknik lobing atau persuratan yang baik, paham tata cara persidangan, dan lain sebagainya. 

Teknik lobing sangat penting dalam berpolitik khususnya kemampuan komunikasi dan etika. Sekarang ini banyak kader HmI yang kurang baik beretika khususnya kepada senior dan alumni. Kader jarang sekali menjaga silaturahmi dan hanya menghubungi ketika membutuhkan bantuan. Proposal kegiatan dan persuratan adalah dua senjata yang sering digunakan kader untuk menghubungi senior serta alumni. 

Persuratan adalah salah satu contoh penting cerminan seorang berorganisasi dengan baik atau tidak. Surat bersifat kelembagaan dan tidak perlu di personifikasi. Parahnya perkaderan di HmI saat ini menjadi cerminan bahwa hal hal mendasar mulai ditinggalkan, padahal yang demikian sangat penting sebagai identitas organisasi. Ini merupakan pengalaman Yunda Betty sendiri saat kesulitan mencari anggota KPU di daerah dari kader HmI. 

== 

Ke-Kohati-an 

Dalam himpunan semesta, Kohati adalah bagian dari HmI. Posisinya ada didalam dan tidak akan lebih besar dari organisasi induknya. Kohati harus bisa menempatkan diri sebaik mungkin dan membaca peluang untuk berkembang. Namun persoalan perkaderan serta rekrutmen adalah pekerjaan besar seluruh kader HmI tidak hanya Kohati. Hal hal yang bisa dilakukan adalah menyediakan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan calon kader agar menarik minatnya untuk bergabung. HmI harus mampu membaca situasi dan memilih isu yang relevan untuk melakukan branding dan meningkatkan bargaining position. 

Setelah anggota bergabung, pengurus mempunyai kewajiban untuk memenuhi harapan mereka. Harapan inilah yang sering tidak direalisasikan oleh pengurus, sehingga anggota kecewa dan merasa tidak merasakan berproses di HmI. 

Bersama yunda Betty Epsilon Idroos, M.Si alumni IPB yang kini menjadi Ketua KPU Provinsi DKI Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme