Mahakarya Pemuda Indonesia Membangun Peradaban

Gambar terkait
Sewaktu kecil anak-anak lelaki menjadi perhiasan mata karena lucunya, karena dia tumpuan harapan, maka setelah dia besar, dia menjadi kebanggaan karena kejayaan hidupnya (Buya Hamka)
Secara bahasa, pemuda adalah seorang laki – laki yang sudah mencapai tahap dewasa. Frase paling sering didengar adalah pemuda harapan bangsa. Begitu beratnya tanggungjawab yang harus diemban, dimana seluruh negeri menaruh harapan. Pemuda yang baik, senantiasa akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi unggul untuk melaksanakan tugas mulia tersebut. Sayangnya, tidak semua pemuda berpikiran demikian.
            Menuju tahun 2030, dimana Indonesia akan mendapat bonus demografi. Dimana jumlah usia kerja sangat tinggi, namun lapangan pekerjaan semakin terbatas. Diperlukannya suatu kegiatan kewirausahaan yang mampu menyerap tenaga kerja atau padat karya.
Karya secara harfiah berarti sebuah hasil ciptaan atau perbuatan. Ketika ditambah dengan satu kata lagi yaitu maha, arti di awal tadi terasa akan semakin hebat terdengar. Mahakarya merupakan sebuah karya yang berada di kasta tertinggi. Baik dari hasilnya ataupun prosesnya yang harus dipastikan membutuhkan pengorbanan besar dan cita – cita yang tinggi. Tidak sembarang orang juga yang mampu membuat mahakarya.
Kata karya ketika disandingkan dengan kata peradaban bisa menjadi sebuah korelasi. Peradaban menurut bahasa adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin suatu bangsa, sopan santun, dan budi bahasa. Intinya adalah suatu sistem yang struktur dan terkait satu sama lainnya untuk mengatur hidup manusia. Peradaban juga bisa kita terjemahkan sebagai suatu zaman atau masa dimana saat itu ada sebuah kecenderuangan atau dominansi.
Salah satu yang mungkin bisa dijadikan contoh adalah peradaban Mesir Kuno yang dipimpin Firaun. Ketika mampu menghasilkan sebuah mahakarya berupa bangunan piramida dan Sphinx, yang mulai saat itu menjadi simbolis bangsa mereka sendiri. Atau didalam negeri kita punya candi Borobudur, yang merupakan mahakarya dari peradaban wangsa Syailendra dibawah pimpinan raja Samaratungga.
Dari dua contoh diatas yang kita dapatkan adalah sebuah pengaruh dari pemimpin masa itu dengan bangsanya untuk menciptakan sebuah mahakarya. Hal ini mengartikan bahwa perlu adanya sinergisitas antara yang memilki kekuasaan dengan para pelaksana. Dalam konteks hari ini, mungkin bisa kita artikan presiden dengan para pemuda. Dimana para pemuda seharusnya tidak serta merta mengikuti begitu saja perintah dari pemimpinnya. Tetapi ikut mengambil peran untuk menyusun dan merekontruksi apa yang akan dilakukan.
Seperti di awal, idealnya pemuda yang baik harus berada di posisi pimpinan. Agar bisa menyampaikan dengan baik dan sesuai peradaban tentang sebuah proses penciptaan mahakarya. Namun sayang, dewasa ini masih banyak pemuda yang cenderung apatis dan tidak proaktif untuk mau terlibut menyelesaikan permasalah bangsa. Penciptaan mahakarya haruslah bertujuan untuk mencari solusi dan mengatasi masalah yang ada. Jangan lagi hanya sekedar simbolis atau lambang kejayaan.
Di Indonesia sendiri, sebenernya terdapat banyak pemuda yang baik dan memiliki sebuah karya. Hanya saja mereka belum bisa tampil ke permukaan atau malah malas. Sayangnya lagi, mereka semua belum memiliki kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi untuk kolaborasi. Padahal kita sama – sama yakin diantara hasil diskusi mereka nanti akan ada sebuah titik temu atau irisan tentang visi dan misi yang akan ditempuh untuk memajukan peradaban negeri ini.
Kita punya Ricky Elson dengan mobil listriknya, Dallu dengan konsep Melukis Harapan di Gang Dolly, dan Rio Haryanto sang pembalap Indonesia yang mengaharumkan nama benua Asia di kancah balap mobil dunia. Kita juga harus berbangga dengan inovasi anak muda yang berkesempatan mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Dengan program PKM, telah banyak tercipta beberapa calon – calon mahakarya yang ada dari hasil pemikiran dan implementasinya.
Kendala utama sekarang adalah bagaimana cara mempersatukan para pemuda dalam sebuah visi yang besar. Yang didalamnya harus terdapat misi – misi kebaikan dan dari niat tulus ikhlas memberi. Pemuda harapan bangsa harus memimpin negeri ini dengan sebaik – baiknya. Para penyiar kebaikan haruslah berada di garis terdepan dalam pengambil kebijakan dan menempati posisi strategis.
Teringat sebuah perkataan dari salah satu tokoh muda, Anies Baswedan; “Kalau semua orang baik bayar pajak, dan tidak ada yang menjadi politisi. Apakah rela kita membiarkan uang pajak yang kita bayar di-korupsi?”. Dari sana kita ambil pelajaran bahwasanya perubahan harus dilaksanakan di semua bidang, berbarengan, dan dalam satu masa yang sama.
Dalam pidato yang sangat memorable-nya, presiden pertama kita Bung Karno menyatakan betapa pentingnya kehadiran seorang pemuda. Namun yang diharapkannya pasti lebih, bukan sekedar hadir tetapi juga mampu memberi dampak nyata dan berkarya. Dimana dalam pidatonya beliau umpamakan dengan hanya sepuluh pemuda saja, Indonesia akan mampu mengguncangkan dunia.
Pemuda hanya butuh kesempatan dan kepercayaan. Bukan bermaksud untuk menyalahkan keadaan. Karena sayangnya di negeri ini, kehadiran pemuda masih dipandang sebelah mata oleh para orangtua yang memiliki kekuasaan. Sehingga kita berada dalam sebuah batasan dan sangat sulit untuk bisa terus berkembang. Bagaimana mereka selalu saja membandingkan antara perencanaan yang matang dengan pengalaman. Yang padahal pengalaman itu sendiri belum tentu baik dan sesuai lagi dengan kondisi sekarang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa