Swalayan Pangan 2025
Pangan adalah hidup
matinya suatu bangsa.
- Ir. Soekarno, 1963
Sederhananya,
urusan makanan adalah tentang pemenuhan kebutuhan. Anggota tubuh sejengkal di
perut yang kewajibannya harus ditunaikan setiap hari. Idealnya sehari tiga kali,
seakan menjadi bom waktu yang dilupakan. Terlena oleh isu lain yang sekarang
sedang marak, padahal akan hancur berkeping – keping seluruh elemen bangsa ini
ketika nanti meledak.
![]() |
| Bahan Pangan Indonesia |
Ketika
pangan diampakkan, percaya atau tidak kita semua bisa sengsara. Ketika konflik
dunia terjadi bukan lagi tentang perebutan wilayah, namun semakin sepele karena
hanya untuk sekarung beras dan sebotol air. Disanalah, peran para pemuda yang
visioner dan pemimpin bangsa saat ini untuk meminimalisir terjadinya hal – hal
demikian.
Dalam masa
pemerintahan SBY dalam periode keduanya, beliau memiliki sebuah Masterplan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3I) 2011 – 2025. Dalam
Masterplan tersebut, visi negara Indonesia pada tahun 2025 adalah mewujudkan
masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. MP3I merupakan
langkah awal untuk mendorong Indonesia menjadi Negara maju dan masuk dalam 10
besar (G – 10) di dunia pada tahun 2025. Hal tersebut didasari atas pertumbuhan
ekonomi tinggi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Strategi pelaksanaan
MP3I dilakukan dengan mengintegrasikan 3 elemen utama, yaitu :
1. Mengembangkan potensi
ekonomi wilayah di 6 koridor ekonomi Indonesia : Jawa, Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, Bali – Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku – Papua. ;
2. Memperkuat
konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan global. ;
3. Memperkuat kemampuan
SDM dan IPTEK nasional untuk pendukung pengembangan program.
Melalui langkah MP3I,
akan menempatkan Indonesia sebagai Negara maju tahun 2025 dengan pendapatan per
kapita yang berkisar antara USD.14.250 – USD.15.500 dan nilai total Produk
Domestik Bruto (PDB) di kisaran USD.4,0 – USD.4,5 Triliun. Untuk mewujudkannya
diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 – 7,5 persen pada periode 2011
– 2014, dan sekitar 8,0 – 9,0 persen pada periode 2015 – 2025. Pertumbuhan
ekonomi tersebut akan dibarengi oleh penurunan inflasi sebesar 6,5 persen pada
periode 2011 -2014 menjadi 3,0 persen pada 2025. Kombinasi pertumbuhan dan
inflasi seperti itu mencerminkan karakteristik Negara maju.
Dari berbagai angka
statistik diatas, diketahui bahwa begitu menjanjikannya apa yang menjadi
prediksi dan perhitungan sementara. Taksiran tersebut harus dikaitkan dengan
praktek di lapangan, yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang sudah
direncanakan.
Di Asia Tenggara,
Indonesia adalah Negara dengan kawasan terluas, penduduk terbanyak, dan
sumberdaya alam terkaya. Hal ini menempatkan kita sebagai kekuatan utama. Di
sisi lain, konsekuensi dari diimplementasikannya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
mengharuskan Indonesia meningkatkan daya saingnya guna mendapatkan manfaat
nyata dari adanya hal tersebut.
Indonesia memiliki
bonus demografi pada tahun 2025 dimana hampir 70 persen populasi penduduknya
berada di usia kerja produktif. Implikasi pentingnya adalah penyediaan lapangan
kerja agar produktifitas maksimal. Lebih penting lagi, pendayagunaan SDM yang
lebih ditingkatkan. Kemajuan ekonomi juga telah membawa peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang tercermin dalam
pendapatan per kapita, namun dalam perbaikan berbagai indicator social
dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dalam periode 1980 dan 2010 yang
meningkat dari 0,39 ke 0,60.
Produk ekspor unggulan
Indonesia seperti gas alam, batubara, panas bumi, timah, nikel, dan bauksit
atau bahan mineral lainnya sudah harus tidak diandalkan lagi. Bukan tanpa
alasan, hasil bumi dari fosil bisa habis sewaktu – waktu tanpa sebuah
penyimpanan energi yang jelas bisa diperbaharui lagi atau tidak. Produk ekspor
pangan unggulan Indonesia yang masih berupa bahan mentah namun jalam jumlah
masif kakao dan kelapa sawit. Menjadi tantangan bagi para anak bangsa untuk
meningkatkan nilai tambah dari kedua komoditas utama tersebut. Mungkin produk
minyak kelapa sawit dan produk olahan kakao yang tepat guna kepada konsumen
global.
Letak geografis,
dengan diberkait sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia menempatkan
Indonesia pada posisi yang sangat strategis dalam jalur pelayaran kontainer
global dan perdagangan. Indonesia sudah seharusnya me-monopoli semua yang
melintas di wilayah kedaulatan lautnya. Pemberlakuan biaya melintas atau
perpajakan lainnya yang bisa disesuaikan dengan valuasi kerusakan dampak
lingkungan yang disebabkan kapal – kapal. Perhatian terhadap benthos bisa
dijadikan alasan kuat untuk menjaga kelestarian karena terakumulasi tumpahan
minyak atau zat kimia lainnya. Kehidupan plankton yang menjadi pemeran utama
dalam produktivitas perairan harus diperhatikan pula
Pemanfaatan atas air
laut, yang merupakan dua per tiga wilayah Negara Indonesia harus mulai kita
lakukan. Teknologi penurunan salinitas atau kadar garam air laut untuk air
minum harus segera direalisasikan dan diproduksi secara masal. Karena mengingat
kandungan mineral yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Harapannya hal
ini menjadi solusi bagi selalu kurangnya air untuk konsumsi di beberapa wilayah
tanah air.
Industri perikanan
tangkap sangat besar dengan beraneka ragam karakteristik laut yang masuk dalam
wilayah Indonesia. Terkhusus sebagai pemilik keanekaragaman tertinggi untuk
jenis ikan karang. Iklim tropis yang stabil juga menjadi faktor kunci
keberhasilan tersedianya produk pangan unggulan dari perikanan. Kelestarian
ekosistem karang, lamun, dan mangrove harus terus dijaga sebagai produsen
makanan bagi ikan.
Kebijakan penggunaan
alat tangkap yang ramah lingkungan seperti mata jaring seukuran ikan dewasa,
tidak menggunakan bom, potas, racun ikan, dan kapal pukat bisa mengurangi over fishing yang belakangan ini
terjadi. Dimana di beberapa wilayah perairan dilaporkan semakin sedikitnya
jumlah dan jenis ikan yang tertangkap. Khusus untuk kasus migrasi ikan tuna,
yang merupakan komoditas ekspor dunia diperlukan suatu perlakuan berani.
Indonesia yang wilayah lautnya dilewati oleh migrasi ikan tuna harus
mengeluarkan sikap tegas dan kebijakan pro untuk mengurangi kerugian
produktifitas dan melindungi proses recruitment
ikan tuna tersebut akar populasinya terjaga.
Di bidang kehutanan,
reboisasi dan tebang pilih harus terus digalakkan untuk menekan angka
pembalakan liar yang merugikan. Indonesia harus bisa mempertahankan predikat
sebagai paru – paru dunia. Karena hubungan antara kehutanan, pertanian,
perikanan, dan kelautan sangat saling mempengaruhi dalam siklus hidrologis.
Perubahan iklim yang terjadi perlu diantisipasi dengan berbagai kebijakan
restorasi dan konservasi wilayah – wilayah yang vital untuk global.
Dengan melihat
dinamika global yang terjadi serta memperhatikan potensi dan peluang keunggulan
geografi dan sumberdaya yang ada, Indonesia harus memposisikan dirinya sebagai
basis ketahanan pangan dunia. Indonesia harus menjadi pusat pengolahan produk
dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Dengan
catatan tetap ramah linkungan dan berkelanjutan.
Inovasi atas bahan pangan ataupun mekanisasi
pengolahan bahan pangan sangat dibutuhkan Indonesia, mengingat jumlah penduduk
yang akan terus meningkat setiap harinya tidak diiringi perluasan lahan
pertanian. Diversifikasi pangan mungkin
menjadi solusi alternatif atas masalah ini. Ketika beras bisa dijadikan analog.
Atau tanaman mengandung karbohidrat seperti jagung, singkong, ubi, ataupun
kentang. Namun, lagi – lagi kembali ke budaya dan habit bangsa kita sendiri.
Yang masih berpegang teguh dengan “belum
makan, kalau belum makan nasi”.
Blue economy dan Green economy harus mulai dipertimbangkan oleh pemerintah kita.
Inilah saat yang tepat untuk bangkit dan mulai mengejar ketertinggalan.
Indonesia sebagai Negara agraris dan poros maritim dunia harus terus ditanamkan
kepada setiap elemen bangsa. Agar tercapainya tujuan Negara yang tercantum
dalam UUD1945.
Terlepas sesuainya
atau tidak dari apa yang diakumulasikan dari berbagai point diatas. Kita dapat
menyimpulkan bahwa adanya sebab – akibat atas langkah seperti apa yang akan
diambil kedepannya. Ini bukan tentang lagi pemenuhan kebutuhan sejengkal di
perut, ini sudah menyangkut harga diri bangsa dan sejengkal tanah air. Percaya
saja, dengan Nawacita dan sejumlah Paket Kebijakan Ekonomi yang dibawa Jokowi –
JK untuk meneruskan kepemimpinan republik bisa terwujud.

Komentar
Posting Komentar