Aku dan Persib [3]: Warisan Budaya Sunda

Sampurasun! Rampes!
Kumaha damang ? Pangestu.

Dua kalimat percakapan diatas nampaknya adalah suatu template yang akan kamu dapati bila berkunjung ke daerah Sunda khususnya Provinsi Jawa Barat. Salam dan menanyakan kabar adalah dua hal pembuka yang biasanya mengawali sebuah lanjutan percakapan dan periwayatan agar siap menyimak hingga selesai.

Aku adalah seorang anak laki – laki keturunan berdarah murni suku Sunda baik dari Ayah dan Ibu. Keduanya sama – sama lahir di Garut, pun dengan aku dan kakak laki – laki ku. Kami sekarang lama tinggal di Bekasi dengan sebelumnya pernah beberapa tahun di Bandung. Intinya kami adalah penduduk lokal dan asli Jawa Barat. Sehari – hari dirumah pun kami menggunakan Bahasa Sunda.

Entah bagaimana ceritanya, yang pasti keluargaku dan Persib memiliki ikatan emosional yang sangat kuat. Mungkin ini adalah karuhun (warisan) dari orangtua dan para leluhur. Dimana yang kuingat setiap Persib bertanding, baik sebelum dan sesudahnya selalu saja cerita tentang Persib baheula yang ayahku sampaikan. Ayah seakan bisa mengilustrasikan bagaimana suasana ketika Persib bertanding di Bandung. Ia kisahkan tentang perjuangannya mendapatkan tiket dengan cara menjual baju dan membantu temannya berdagang minuman ringan. Dan yang mengejutkan adalah ternyata ayah pernah bermain bersama Persib junior saat itu dengan berposisi sebagai seorang kiper.

Doktrin tersebut seakan terus terngiang setiap aku bermain sepakbola. Nampaknya menjadi pemain Persib adalah mimpi dari setiap anak laki – laki Sunda. Bisa berkostum biru, mencetak gol, dan mencium lambang di dada seakan menjadi angan. Hingga akhirnya aku pun secara sadar mulai mencintai Persib dengan hati, bukan lagi karena intervensi.

Aku sendiri sangat mengidolakan beberapa tokoh yang pernah berjasa bagi Persib diantaranya adalah Zaenal Arief, Djajang Nurjaman, Robby Darwis, Indra Thohir, Makan Konate, dan Vladimir Vujovic (Hati Biru). Mereka masing – masing punya cerita tersendiri dalam menginspirasi.
--

Apakah hanya Persib di Jawa Barat ?
Merunut sejarahnya, Persib merupakan persatuan sepak bola yang pendiriannya erat dengan pembentukan identitas Bandung dan Jawa Barat. Kecintaan khalayak kepada Persib sudah muncul sejak klub sepak bola ini pertama berdiri pada 14 Maret 1933. Klub ini diidentikkan sebagai sepak bola kaum pribumi yang menantang dominasi prestasi kolonial Belanda. Tahun 1937, Persib meraih gelar juara perserikatan untuk pertama kali seusai mengalahkan Persis Solo di final yang digelar di Stadion Sriwedari, Solo. Kemenangan Persib di Solo itu didukung langsung oleh ratusan suporter atau Bala Korawa (sebutan suporter Persib lain) yang datang dari Bandung.

Saat final Perserikatan di Senayan (Stadion Utama Gelora Bung Karno) yang mempertemukan Persib dan PSMS Medan tahun 1983, misalnya, mobilisasi lebih dari 100.000 orang menuju Jakarta serempak dilakukan di banyak daerah di Jabar. Bahkan, Gubernur Aang Kunaifi meminta aktivitas di Jawa Barat saat pertandingan final dihentikan sementara guna memberikan dukungan kepada Persib. Meski Persib kalah 2-3 dari PSMS Medan lewat adu penalti, lolosnya Persib ke partai puncak itu diapresiasi pencinta sepak bola di Jawa Barat karena mereka bermaterikan pemain lokal. Bahkan, permainan Persib di laga itu memberikan rasa bangga bagi masyarakat Jawa Barat.

Pada kompetisi perserikatan berikutnya, virus Persib makin menjangkiti warga Jawa Barat. Pertandingan final yang digelar di Senayan mencatat rekor penonton terbesar dalam sejarah sepak bola nasional. Saat itu, stadion disesaki lebih dari 150.000 penonton, sebagian besar dari bobotoh Persib. Padahal, kapasitas Senayan hanya mampu menampung 120.000 penonton. Dalam buku Asian Footbal Flub 1987, pertandingan itu tercatat memecahkan rekor dunia sebagai pertandingan amatir dengan jumlah penonton terbanyak. Meski Persib kembali kalah 3-4 melalui adu penalti dari PSMS, sambutan bobotoh kepada tim kesayangannya tak pernah surut.

Puncaknya saat Persib kembali tampil di laga final kompetisi perserikatan pada 11 Maret 1986. Kali ini menghadapi Perseman Manokwari, Papua. Lebih dari 100.000 bobotoh dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Cianjur, Kuningan, Cirebon, dan kota lainnya di Jawa Barat berbondong-bondong ke Jakarta. Dalam pertandingan final itu, Persib unggul 1-0 dan meraih juara perserikatan untuk ketiga kalinya.

Penantian panjang dahaga gelar selama 25 tahun pun tuntas. Sepanjang jalan dari Bogor hingga Bandung disesaki lautan manusia menyambut kemenangan Persib. Massa tak putus-putusnya ngajajar dan melambaikan tangannya dan senyum kemenangan saat tim Persib melintas di jalan.

Prestasi Persib yang relatif stabil pada dekade 1980-an hingga 1990-an, tak pelak, membuat publik sepak bola Jawa Barat tak bisa berpaling lagi dari Persib. Di mana pun Persib bertanding, ribuan bobotoh selalu menonton dan mendukungnya. Bahkan, jika main di kandang sendiri, bobotoh menyesaki stadion untuk mendukung tim kebanggaannya. Padahal, Persib bukan hanya satu-satunya klub sepak bola di Jawa Barat. Di Kabupaten Bandung ada klub Persatuan Sepak Bola Kabupaten Bandung (Persikab), Kabupaten Ciamis mempunyai PSGC Ciamis, Persikabo di Kabupaten Bogor, Persika di Karawang, Persikad di Depok, dan Pesik di Kuningan. Semua klub tersebut berlaga di divisi utama, satu level lebih rendah dibandingkan dengan Liga 1 Indonesia. Meski demikian, di daerah yang memiliki klub sepak bola itu, Persib tetap lebih populer dibandingkan klub setempat.

Prestasi Persib Bandung.

Bahkan, ketika tim sepak bola Bandung Raya yang juga berasal dari Bandung yang kini menjadi Madura United mencatat prestasi fenomenal dengan memenangi Liga Indonesia 1995/1996 yang sebelumnya dimenangi Persib, fanatisme bobotoh Jawa Barat dalam mendukung Pangeran Biru tak pernah surut. Seolah-olah Persib telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bobotoh dan mereka rela melakukan apa pun hanya untuk mendukung klub kebanggaannya
--

Persib Identitas Urang Sunda
Selain faktor ikatan sejarah dan pewarisan turun-temurun, secara implisit identitas Sunda atau Jawa Barat begitu melekat dalam jati diri Persib dan bobotoh. Persib kerap dijuluki sebagai Maung Bandung. Dalam mitologi Sunda, maung merupakan perwujudan metafisik dari Prabu Siliwangi, raja dari Kerajaan Sunda pada abad ke – 14. Maka, penyebutan maung yang dilekatkan pada Persib dapat menunjukkan bahwa Persib sebetulnya bernilai emosional, yakni kebanggaan masyarakat Sunda. Dan Bandung sebagai jantung serta ibukota Propinsi Jawa Barat.

Tokoh Sunda Dedi Mulyadi yang juga menjabat Bupati Purwakarta mengakui Persib menjadi spirit orang Sunda yang sangat kuat sebagai identitas daerahnya.

Pendapat hampir senada disuarakan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang mengatakan kemenangan dua kali Persib 2014-2015 (Liga Indonesia dan Piala Presiden) memberikan makna kepada masyarakat Sunda agar selalu percaya diri untuk menang di kompetisi apa pun. Hingga akhirnya dalam penyelenggaraan PON di Jawa Barat tahun 2016. Mengusung slogan Jabar Kahiji, orang Sunda sukses menjadi tuan dirumah sendiri sebagai juara umum.

Kebudayaan Sunda yang seakan menyatu dengan dukungan kepada Persib, melahirkan banyak istilah. Persib BUTUT misal, merupakan sebuah cacian yang sering dilontarkan oleh bobotoh dari tribun maupun melalui doa didepan layar kaca karena kalah ataupun permainan yang menjemukan. Bukan berarti sebuah penghinaan, tapi ini merupakan bukti kecintaan dan kasih sayang agar Persib tidak pernah puas dan berkembang. Mungkin dasarnya orang Sunda yang suka heureuy (bercanda), budaya yang sebenarnya mulai hitz sejak final Perserikatan tahun 1985 ini saat itu dibalas oleh pemain PERSIB dengan melakukan ngalelewe (meledek) kembali kearah supporter tanpa rasa benci. Seperti yang biasa dilakukan oleh SVD. Tidak dengan pemain lain yang akhir – akhir ini justru cenderung baper dan membalas balik dengan sikap atau Dimana kalian ketika kami kalah ? Jangan dukung kami ketika kami menang.

Besarnya dukungan publik kepada Persib tak bisa dimungkiri karena Persib sudah menjadi bagian dari budaya yang berkembang tidak hanya di Bandung, tetapi sudah mengakar ke seluruh Jawa Barat. Menjadi bobotoh Persib pun pada akhirnya menjadi sebuah budaya yang diwariskan dari orangtua kepada anaknya. Dan, budaya ini tengah berlangsung dari tahun 1933 hingga sekarang ini. 

Memori kolektif warga Jawa Barat terhadap kejayaan Persib itu sudah seperti layaknya budaya dan diwariskan secara turun-temurun. Bobotoh yang saat ini berusia 30-40 tahun, memiliki kenangan romantika masa kecil ketika diajak orangtuanya atau saat remaja menonton Persib di Stadion Siliwangi atau di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka pun kini kerap mengajak anak-anaknya menonton pertandingan Persib sama seperti yang dilakukan orangtua mereka kepadanya. Alhasil, selama ada Persib, budaya itu akan tetap hidup dan berkembang selama diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain di arena pertandingan, besarnya animo masyarakat terhadap Persib terlihat dari sangat mudahnya menemukan perbincangan tentang Persib di Jawa Barat, terutama menjelang pertandingan Persib. Di rantau pun orang-orang Jawa Barat dan Sunda sangat terbiasa membincangkan Persib. Mereka membicarakan Persib seperti bagian dari diri mereka sendiri.
--

Istilah Sunda
Prung Geura Tarung!
Seruan untuk segera bertanding dan membuktikan diri.

Hiji Oge Maung
Berarti sebuah keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri dalam kondisi apapun. Tidak takut akan apa yang menjadi pilihan.

Halik Ku Aing
Kata yang menjadi trendmark dari Robby Darwis (Bima), yang berarti “Biarkan! Saya saja”.  Dijuluki Bima karena berbadan besar seperti dalam cerita Pandawa Lima, yang berposisi sebagai bek seakan siap bertarung seluruh jiwa raga untuk merebut bola dan mematahkan serangan musuh. Sebuah bentuk pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang akan terjadi.

Persib Nu Aing
Bahasa sunda yang egaliter. Frase yang paling sering terdengar dan diucapkan. Sebuah ikrar dan pengakuan atas kepemilikan Persib yang ada pada setiap individu bobotoh. Kecintaan terhadap Persib datang dari hati yang tulus. Bukan semata pemeo belaka.

Persib Duriat Aing
Persib berarti segalanya. Paribasa bahwa ketika Persib kalah, bobotoh akan sulit tidur, shalat tidak khusyuk, dan tidak enak makan. Karena Persib menyangkut seluruh aspek kehidupan.


Persib, moal ngeper ngadu nasib
Gambling. Bukan berarti sebuah perjudian, hanyalah sebatas sikap berani ambil resiko karena sejatinya diperlukan suatu pengorbanan untuk mencapai suatu tujuan.

Persib nepi ka paeh
Istilah ekstrem yang digunakan para Viking demi membela Persib sekalipun mempertaruhkan nyawa. Bukti kecintaan selama hidup di dunia. Biasa menjadi slogan para Viking perbatasan yang dekat dengan rival.

Ketika kasus kematian salah seoang Viking yang diduga dibunuh oleh oknum kelompok suporter lain.

Nu penting mah Persib menang
Dedikasi atas pengorbanan apapun yang siap diberikan bobotoh dalam mendukung, asalkan Persib bisa memenangkan pertandingan.

Persib BUTUT
Istilah yang sangat sarat sejarah kini sedang ramai digunakan dalam hastag atau ungkapan terhadap performa Persib yang buruk atau menurun.

Ka Persib make manah
Persib dengan hati. Ini tentang kemurnian diri dan sucinya niat. Persib adalah sesuatu yang mendalam, melibatkan lebih jauh dari perasaan. Berjuang untuk sebuah kebanggaan dan kehormatan. Bukan sekedar popularitas apalagi ucapan terima kasih.

Sumber referensi :

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa