Aku dan Persib [4]: Diaspora Bobotoh


Diaspora berarti penyebaran. Dalam konteks pergerakan manusia, diaspora merujuk pada penduduk yang menetap di negara lain karena berbagai faktor, misalnya perang atau mencari penghidupan yang lebih baik. Dalam perkembangan globalisasi, diaspora sudah menjadi suatu bentuk kekuatan ekonomi baru bagi sebuah bangsa. Jika dahulu mereka ini disebut dengan perantau, maka kini istilah itu sebaiknya diganti dengan diaspora. Hal ini disampaikan oleh penggagas Diaspora Indonesia, Dino Patti Djalal, yang juga Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dalam acara Sosialisasi Diaspora Indonesia di KBRI Kuala Lumpur, 1 Maret 2013.

Diaspora adalah orang yang merantau atau perantau. Istilah rantau untuk orang Sunda bukanlah sesuatu yang asing. Sudah sejak lama kata tersebut menjadi sebuah pertanyaan yang belum bisa dijawab dengan pasti hingga hari ini. Berkaitan dengan karakter orang Sunda yang malas merantau ataupun bukanlah sebuah suku bangsa yang sohor karena kisah perantauannya.

Budaya Sunda sangatlah menjunjung tinggi Indung tungkul rahayu, bapa tangkal darajat (menghormati orang tua). Perasaan para kolot (orang tua) Sunda yang Inggis ku bisi, rempan ku sugan (khawatir yang berlebihan) apabila anaknya berada jauh. Selain itu, orang Sunda sesungguhnya adalah salah satu suku yang paling bersyukur dengan apa yang dikaruniakan. Mereka cenderung malas untuk meninggalkan kampung halamannya, karena merasa semua yang mereka butuhkan sudah ada disini tidak jauh dari sekitar. Kurang lebih tervisualisasi dari Si Kabayan yang menokohkan karakter orang Sunda.

Pengakuan indah dan ramahnya tanah Pasundan dari orang asing yang belum lama tinggal bersama.

Masyarakat Sunda yang memiliki tanah warisan dari leluhur yaitu provinsi Jawa Barat (Jabar), sangatlah menjaga apa yang menjadi karuhun dari nenek moyang mereka. Tak pelak Gemah ripah repeh rapih dinikmati tulus. Gemah ripah artinya subur makmur, cukup sandang, pangan, dan papan yang tersedia di keindahan alam. Repeh rapih artinya rukun, damai, aman, dan sentosa yang menjadi kunci untuk memanfaatkan kekayaan alam yang subur menuju kesejahteraan masyarakatnya. Kedua hal inilah yang menjadi penyebab utama orang Sunda jarang merantau.

Lambang Provinsi Jawa Barat

Di era modern ini, perkembangan zaman dan persaingan mendesak orang Sunda untuk keluar dari zona amannya. Dengan alasan Along-along bagja (belum mendapatkan kebahagiaan), mereka siap mengadu nasib dan bersaing. Para diaspora Sunda adalah para penyuka tantangan dan ketidak pastian un

tuk melakukan pangumbaraan (perantauan). Setidaknya ada dua peribahasa kuno yang menggambarkannya;  Ngadeupaan lincar (tidak mau pergi jauh dari rumah sebelum diundang), Moro taya tinggal kaya (harta kekayaan yang sudah ada ditinggalkan karena ingin pindah ke tempat yang serba tidak ada), dan Tunggul di parud, catang di rumpak (menyingkirkan semua rintangan). Kata – kata tersebut menunjukkan bentuk sebuah sikap keberanian. Pun dengan kondisi daerah asal yang sebelumnya ditinggali kini juga banyak dihuni oleh pendatang, memperkuat alasan untuk ikut melakukan perantauan ke kampung orang lain. Bisa dilihat https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1273 menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi urutan pertama yang didatangi.
--

Nasib di Tanah Rantau

Klise yang mengikat nurani dan pikiran bagi mereka yang jauh dari tempat asalnya.

 "Jujur saja orang Sunda itu hade gawe (bagus kerja), someah (sopan) dan tidak mencari onar. Bahkan kondisi ekonomi warga Sunda yang merantau di Makassar itu kalau dibilang menengah ke atas," tutur salah seorang warga Sunda yang tinggal di Kota Makassar, Rachmat Gunadi kepada wartawan disela Festival Sundanese Makassar 2, Gelora Sultan Hasanudin, Makassar, Minggu (17/6/2015). 

Bahkan di Makassar sekitar 4.000 warga dengan etnik Sunda berada di posisi ekonomi menengah ke atas. Dia mengatakan, sebagian warga Sunda yang merantau ke Makassar mampu berwira usaha sendiri. Salah satunya dalam menjajakan produk makanan seperti batagor, bubur ayam, kupat tahu dan karedok. "Orang Makassar suka dengan makanan Sunda. Makannya di sini makanan Sunda laku banget," katanya.

Mari lihat data statistik negara di https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1273 ada berapa orang Sunda yang melakukan diaspora terutama ke daerah Lampung, Kalimantan, dan Papua. Bisa kamu bisa dengan suku Batak dan Minang, siapa yang lebih tinggi merantau keluar daerahnya ? Lalu cek lagi di kolom lainnya tentang para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri, menempatkan Jawa Barat di nomor 2 sebagai provinsi pengirim TKI terbanyak setelah Jawa Tengah.

Warga Sunda yang merantau di luar Provinsi Jawa Barat diklaim bisa hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain dan Teu unggut kalinduan, teu gedag kaanginan (teguh pendirian). Bahkan, selain bisa hidup mandiri, warga Sunda Jabar ini mampu menjaga martabat etnik mereka seperti tercermin dalam kalimat Kalakuan lunca linci luncat mulang udar tina tali gadang, omat kalakuan lali tina purwadaksina (kita harus menuruti etika atau sesuatu yang sudah di tentukan) dan Bisa lolondokan, kudu bisa kabulu kabale (bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang lain supaya akrab dimana saja berada).

 Karena demikian jarang sekali kita mendapat informasi bila terjadi konflik Maung ngamuk gajah meta (ada kerusuhan atau kekacauan) suku pendatang yang orang Sunda dengan penduduk lokal.  Kesantunan juga selalu dijadikan teladan dalam pergaulan seperti Undur katingali punduk, datang katingali tarang (jika pergi, tidak berlalu begitu saja; pamitan lebih dahulu ketika akan pergi seperti ketika datangnya) atau punten – punten kepada tuan rumah.

Warga Sunda di Makassar sendiri sering berkumpul, Warung kopi menjadi tempat favorit. Selain itu, suporter Persib alias bobotoh di Makassar jumlahnya cukup banyak. "Kalau nongkrong, ya kami paling di warung kopi. Apalagi kalau Persib main. Itu pasti rame. Ada beberapa titik nonton bareng," tambah Rachmat. Sesuai dengan pesan kolot mereka yaitu Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak (selalu bersama). Pondok jodo panjang baraya (rasa persaudaraan harus tetap dijaga) untuk Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay tangan  (saling bekerjasama membangun kemitraan yang kuat).





--

Popularitas Tanpa Batas
Menyebarnya orang Sunda ke seluruh penjuru dunia, menyebabkan penyebaran virus Persib meluas se jagat raya. Persib kini Kakoncara kamana-mana, ka jamparing angin-angin (sudah sangat terkenal). Dibuktikan dengan prestasi Persib dan fans nya sebagai klub paling popular di Indonesia dalam seluruh media social yang ada seperti Facebook, Twitter, dan Instagram jauh mengungguli tim lokal lain.

Persib Bandung dinobatkan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sebagai klub paling populer di kawasan Asia. Persib mengalahkan tim-tim besar yang berasal dari Malaysia, Thailand, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. AFC merilis salah satu indikator penobatan Persib menjadi tim paling populer berdasarkan jumlah pengikut di media sosial bahkan jumlah follower Facebook Persib mencapai angka 9,5 juta orang.

Tahun 2017. Dalam sebuah polling, klub berjulukan Maung Bandung ini juga memiliki tingkat kepopuleran yang masuk dalam 10 besar dunia. Persib mengalahkan Arsenal, Juventus, Liverpool, dan AC Milan yang secara berurutan berada di posisi 7 hingga 10. (lengkapnya https://www.thetoptens.com/best-football-soccer-club/). Kepopuleran Atep cs hanya kalah dari Chelsea, Bayern Munchen, Manchester United, Real Madrid, dan Barcelona.

Prestasi yang dicapai Persib memang menurun ketimbang di musim 2014. Pasalnya, tim asuhan Djadjang Nurjaman hanya menempati peringkat empat kendati menggondol trofi Indonesia Super League (ISL) kala itu. Tak hanya itu, predikat tim terbaik dunia yang pernah diraih 2015 mengulang capaian 2013 lalu. Hasilnya pun cukup mengejutkan setelah hasil voting per tanggal 20 Oktober 2015, menempatkan Persib Bandung di peringkat pertama dengan perolehan suara sebesar 44 persen.

Begitu juga dalam sebuah pemberitaan Federasi sepak bola dunia FIFA, dalam akun Instagram resmi FIFA @fifaworldcup dengan turut mengunggah foto Essien yang tengah mengenakan kostum Maung Bandung. Seperti diberitakan, rerata engagement setiap unggahan dalam akun dengan 4,1 juta followers itu biasanya hanya berkisar di angka 25 ribuan likes serta hanya ratusan komentar. Namun, begitu mereka mengunggah foto Michael Essien yang berseragam Persib, angka tersebut melonjak pesat. Hingga Jumat 17 Maret 2017 kemaren, unggahan FIFA tersebut dikatakan sudah mendapatkan 62.700 likes lebih dan lebih dari 6.500 komentar dari netizen. Angka itu menyalip unggahan foto ulang tahun dua pemain Afrika lainya, Didier Drogba (47.683 likes dan 166 comments) dan Samuel Eto'o (36.806 likes dan 62 comments).

Sumber gambar : sumberfakta.com

Sumber referensi :
Gambar di google

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa