Aku dan Persib [2] : Baheula Persib Jawara
1937. Pada masa itu di Bandung, berdiri
perkumpulan sepak bola yang dimotori orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken
(VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah dan mengejek Persib sebagai
perkumpulan kelas bawah. Pasalnya, pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika
itu sering dilakukan di lapangan pinggiran kota Bandung, seperti Tegallega dan
Ciroyom.
Namun
karena kesadaran diri pribumi akibat penjajahan kolonial dan local pride tumbuh. Olahraga yang
sejatinya adalah hobi atau kesenangan, tidak mungkin lagi harus terus dilakukan
dengan unsur pemaksaan dan ancaman. Semangat bersama untuk bangkit terus
berkembang dan besar. Persib akhirnya bisa merebut hati warga dan menegaskan
diri sebagai perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan
sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan
SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula
lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI,
Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion
Siliwangi). Situasi ini mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung di masa itu.
1986. Pertandingan final ketiga Persib di
kompetisi Perserikatan dalam jangka waktu yang berurutan melawan Perseman
Manokwari. Pada dua pertandingan final sebelumnya (1983 dan 1985), Persib dua
kali kalah dari PSMS Medan. Dua-duanya terjadi melalui drama adu penalti yang
menyakitkan, membuat penantian mereka untuk menjadi juara bertambah menjadi 25
tahun.
“Nista, Maja, Utama,” kata Ateng Wahyudi, ketua Umum
Persib, menjelang pertandingan final. Itu adalah peribahasa Sunda yang kurang
lebih berarti “Sudah keterlaluan, tak layak diberi ampun lagi karena sudah
cukup perilaku jeleknya”. Peribahasa yang konon mujarab karena mampu mengungkit
semangat pemain-pemain Persib di laga final. Hingga akhirnya sosok Djajang
Nurjaman lah yang melepas dahaga juara bagi Persib dan pendukungnya lewat gol
kemenangan yang dicetaknya. Sosok yang juga sukses menjadi juara bersama Persib
sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih.
![]() |
| Djajang Nurjaman (Djanur) dan Indra Thohir (Abah). Kedua sosok legenda yang luar biasa, kolaborasi keduanya acapkali mengantarkan Persib juara. |
Tanggal
17 April 1994, setelah berjalan
sekitar 41 satu musim, kompetisi Perserikatan berakhir karena akan digabungkan
dengan kompetisi Galatama di musim selanjutnya. Dan di hari yang sangat penting
itu, Persib Bandung berhasil menutupnya dengan gelar juara – gelar kelima
Persib di kancah Perserikatan. Dua gol Persib yang dicetak oleh Yudi Guntara
dan Sutiono Lamso mengakhiri perlawan hebat yang dilakukan juara bertahan, PSM
Makassar, di Senayan.
Musim
itu merupakan salah satu musim terbaik Persib di kancah Perserikatan. Di bawah
asuhan Indra Thohir, salah satu pelatih tersukses Persib Bandung, Maung Bandung
mempunyai generasi emas – perpaduan antara pemain senior dan para pemain muda
potensial. Sebagai pemain senior, Kekey Zakaria, Robby Darwis, dan Yusuf
Bahtiar tak ragu untuk membimbing para pemain muda seperti Asep Dayat, Mulyana,
dan Asep Komara. Persib hampir selalu tampil menyerang dan menghibur. Persib
lebih dulu menerapkan pola tiki – taka
seperti Barcelona saat ini, jauh sebelum istilah asing untuk gaya bermain
passing pendek kaki ke kaki itu dikenal seperti sekarang dan booming. Pun dengan karakteristik pemain
yang ada mulai dari fisik yang relatif pendek dan sprint yang cepat. Mereka kemudian berhasil menjadi yang terbaik
dalam babak penyisihan di Wilayah Barat. Dari 14 pertandingan, Maung Bandung 8
kali menang, 5 kali imbang, dan hanya kalah sekali (satu-satunya kekalahan yang
dialami sepanjang kompetisi). Torehan gol mereka pun cukup bagus: mencetak 20
gol dan hanya kemasukkan enam kali.
Adalah
Persija Jakarta yang menjadi satu-satunya ujian berat Persib dalam perjalanan
mereka meraih gelar Perserikatan tahun 1994 itu. Dalam pertandingan semifinal
yang berkualitas, yang menurut Aang Witarsa merupakan pertandingan final
sesungguhnya, Persib harus berjuang sekuat tenaga untuk mengakhiri perlawan
Persija. Setelah pertandingan berhakhir imbang 1-1 di waktu normal, adu penalti
pun dilangsungkan. Beruntung, Persib yang biasanya kalah dalam adu penalti
berhasil memenangkan pertandingan. Setelah tendangan penalti terakhir Yusuf
Bachtiar memastikan kemenangan Persib, puluhan ribu bobotoh yang memadati Senayan
bersorak. Ateng Wahyudi pun hanya bisa meneteskan air matanya dari bangku
cadangan.
![]() |
| Robby Darwis (Bima) sebagai menjadi sosok senior paling berpengaruh untuk pemain Persib karena pengalamannya bermain bersama timnas. |
1995. Dibandingkan dengan era Perserikatan
dan Galatama, ada banyak perubahan yang terjadi saat Liga Indonesia I
digulirkan. Salah satu yang paling menonjol adalah diperbolehkannya tim-tim
yang ikut berkompetisi di Liga Indonesia tersebut menggunakan jasa pemain
asing. Ada nama Roger Milla, superstar timnas Kamerun di Piala Dunia
1990; Jackson F. Tiago, penyerang asal Brasil yang tajam sekaligus lincah
"menari samba"; dan juga Dejan Glusevic, yang pernah menjadi juara
dunia bersama timnas Kroasia U-21, yang ikut meramaikan kompetisi yang
disponsori oleh rokok Dunhill tersebut. Meski demikian, Persib Bandung dengan
100% pemain lokalnya, yang mayoritas menjadi bagian dari skuat Persib ketika
memenangi Perserikatan tahun sebelumnya, tetap menjadi yang terbaik di tanah
air. Setelah menutup liga amatir (Perserikatan) dengan gelar juara, anak asuh Abah
Indra Thohir tersebut juga membuka sejarah panjang liga profesional Indonesia
dengan torehan serupa.
![]() |
| Pemain Persib menikmati kemenangan menjadi juara Liga Indonesia (Ligina 1) pertama musim 1994/1995 |
Menjelang
pertandingan semifinal Indonesia Super League (ISL) 2014 saat itu, Bobotoh dilarang memberikan dukungan secara langsung
saat Persib bermain di luar kandang oleh PT. Liga karena supporter Persib
dianggap melakukan pelanggaran di pertandingan sebelumnya. Oleh karena itu
Ridwan Kamil mengajak Bobotoh untuk menyiasati hukuman tersebut dengan
bertelanjang dada, melepaskan segala macam atribut yang mewakili kecintaan
mereka terhadap Persib. "Kita simpan semuanya di dalam dada,"
barangkali seperti itulah makna aksi Ridwan Kamil dan para bobotoh tersebut.
![]() |
| Kang Emil mengajak bobotoh melakukan ‘Buligir Day’ dan tetap santun didampingi dirigen Viking kang Yana. |
Di
luar dugaan, melalui babak perpanjangan waktu, Persib berhasil mengalahkan
Arema 3-1. Sempat tertinggal melalui gol Beto Goncalves pada menit ke-46,
Vladimir Vujovic, jendral lini pertahanan Persib, berhasil menyamakan kedudukan
pada menit ke-83. Setelah gol tersebut, angin kemenangan terus mengarah ke
Maung Bandung. Arema tak berkembang. Dua gol tambahan dari Atep dan Konate
memaksa Arema dan Aremania-nya yang juga memadati Jakabaring mengucapkan
sayonara.
![]() |
| Vlado Si Hati Biru, mempertahankan harapan Persib ke Final ISL 2014. |
Mengetahui
tim kesayangannya melaju ke final, semakin banyak Bobotoh yang berdatangan ke
Jakabaring. Mereka tak keberatan tak beratribut. Sudah 19 tahun mereka menanti
gelar juara. Ketika ada tanda-tanda besar bahwa penantian tersebut akan segera
berakhir, mereka akan melakukan apa saja agar dapat terlibat di dalamnya. Maka,
pada pertandingan final melawan Persipura, Jakabaring dipenuhi oleh puluhan
ribu orang yang "berhati biru", yang akan mendukung Persib dengan
segenap jiwa dan raganya.
Meski hanya menghadapi 10 orang pemain Persipura sejak pertengahan babak pertama karena kartu merah yang diterima oleh Bio Paulin, bek tengah Persipura, Persib harus bersusah payah dalam pertandingan tersebut. Bagaimanapun, Persipura adalah salah satu tim terbaik Indonesia dan langganan final ISL. Sempat unggul 2-1 pada awal babak kedua, Persib terus-terusan digempur oleh Persipura. Permainan kolektif mengandalkan satu-dua sentuhan yang diperagakan Boaz Salossa dkk. membuat mereka tak terlihat seperti bermain dengan sepuluh orang. Pada akhirnya Persipura berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-79 melalui Boaz. Hingga perpanjangan waktu berakhir, kedudukan tak berubah. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu penalti. Kita semua tahu bagaimana cerita akhirnya, bukan? Ahmad Jufriyanto, algojo terakhir Persib Bandung, membuat Jakabaring meledak. Persib berhasil meraih gelar juara ISL untuk pertama kalinya. Dan para Bobotoh yang tidak hadir di Jakabaring menggosok matanya, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat melalui layar kaca. Sukses juara ISL 2014 menjadi sangat istimewa karena sudah 19 tahun PERSIB paceklik gelar juara setelah terakhir juara Liga Indonesia I 1994/1995.
Meski hanya menghadapi 10 orang pemain Persipura sejak pertengahan babak pertama karena kartu merah yang diterima oleh Bio Paulin, bek tengah Persipura, Persib harus bersusah payah dalam pertandingan tersebut. Bagaimanapun, Persipura adalah salah satu tim terbaik Indonesia dan langganan final ISL. Sempat unggul 2-1 pada awal babak kedua, Persib terus-terusan digempur oleh Persipura. Permainan kolektif mengandalkan satu-dua sentuhan yang diperagakan Boaz Salossa dkk. membuat mereka tak terlihat seperti bermain dengan sepuluh orang. Pada akhirnya Persipura berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-79 melalui Boaz. Hingga perpanjangan waktu berakhir, kedudukan tak berubah. Pertandingan pun harus dilanjutkan dengan adu penalti. Kita semua tahu bagaimana cerita akhirnya, bukan? Ahmad Jufriyanto, algojo terakhir Persib Bandung, membuat Jakabaring meledak. Persib berhasil meraih gelar juara ISL untuk pertama kalinya. Dan para Bobotoh yang tidak hadir di Jakabaring menggosok matanya, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat melalui layar kaca. Sukses juara ISL 2014 menjadi sangat istimewa karena sudah 19 tahun PERSIB paceklik gelar juara setelah terakhir juara Liga Indonesia I 1994/1995.
Piala Presiden 2015. Satu tahun liga diberhentikan karena
permasalahan PSSI yang dibekukan. Digelarlah turnamen untuk tetap menjaga iklim
persepakbolaan. Turnamen yang memang hanya diikuti beberapa tim saja, namun
tetap bergengsi karena diikuti oleh tim – tim besar dan menjadi satu – satunya
kompetisi nasional yang dilaksanakan tahun itu. Kompetisi yang diikuti oleh
para pemain profesional, pemain asing, dengan regulasinya yang menyerupai liga.
Persib menjadi tim favorit yang diunggulkan juara, dengan materi pemain juara
ISL 2014 serta tambahan amunisi baru seperti Ilja Spasojevic dan Zulham Zamrun
yang dikukuhkan menjadi pemain terbaik turnamen.
Momen
20 tahun lalu terulang, Persib berhasil kembali mengukir sejarah baru dengan
melakukan back – to – back again
juara persepakbolaan nasional. Hegemoni yang harus terus dipertahankan sembari
menunggu kembali warasnya PSSI.
| Parade Persib setelah mampu mengawinkan gelar ISL 2014 dengan Piala Presiden 2015. Istilah Bandung Juara mulai menjadi trend saat itu. |
--
Sumber
referensi :
Gambar
di google
http://simamaung.com/video-highlight-persib-vs-arema-semifinal-isl-2014/
http://simamaung.com/video-highlight-persib-vs-arema-semifinal-isl-2014/









Tips Bermain Digitron Sbobet Online Ayo Daftar Sekarang Juga Dan Dapatkan Bonus Berlimpah !!!
BalasHapus