Aku dan Persib [1] : Persib Kiwari

Menjaga asa juara.
Sumber : persib.co.id

PSSI kembali normal. PT. Liga kembali menyelenggarakan kompetisi sepakbola tertinggi tanah air dengan sponsor utama Gojek – Traveloka, kedua perusahaan jasa transportasi online yang kini seakan menjadi sebuah kebutuhan primer di masyarakat perkotaan. Liga Gojek Traveloka mendatangkan banyak minat dari para sponsor untuk turut andil dalam hajat ini. Setelah lesunya persepakbolaan nasional selama kurang lebih 3 tahun tanpa kompetisi liga resmi. Hal ini juga berdampak bagi seluruh klub peserta, dimana dapat terlihat jelas dari jersey yang digunakan yang sangat pinuh dipadati oleh nama dan logo sponsor. Pun dengan regulasi liga yang mewajibkan klub memainkan minimal 3 orang pemain U-23 nya selama 45 menit babak pertama pertandingan dan diperbolehkannya klub mengontrak pemain marquee player.

Regulasi U-23 diproyeksikan untuk persiapan menghadapi Sea Games 2017, AFF CUP, dan Piala Asia 2018. Agar pelatih timnas mempunyai banyak pilihan dalam menjaring bakat. Marquee player sendiri memiliki syarat harus memiliki nilai kontrak diatas batas maximal kontrak pemain atau 3 miliar rupiah per musim serta pernah bermain minimal 1 kali di putaran final Piala Dunia. Sebuah harapan positif yang akan membangun iklim sepakbola dalam negeri lebih bergengsi.

Persib menjadi salah satu klub yang paling sexy untuk para investor. Persib yang memiliki basis supporter fanatik seolah menjadi tambang uang yang akan terus dieksploitasi. Animo Bobotoh dan masyarakat Jawa Barat untuk mendukung klub ini seakan menjadi magnet bagi para sponsor menawarkan kerjasama. Apalagi Persib yang sekarang sudah berbentuk PT. Persib Bandung Bermartabat (PBB), pengelolaan klub sudah sangat profesional seperti perusahaan swasta yang dikelola oleh konsorsium.

Indikasi isu komersialisasi sepakbola yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam konsorsium pun PT. PBB mencuat. Manager Persib Bandung, Umuh Muchtar disinyalir salah satu tokoh penting didalamnya, termasuk juga CEO Inter Milan Erick Thohir yang tergabung didalamnya. Juga terdengar kabar bahwasanya juga ada rivalitas antara kubu ‘Bandung dan Jakarta’, perbedaan pendapat antara pengurus lokal dengan para investor dalam tubuh konsorsium itu sendiri. Hal ini semakin menjadi perpecahan yang seharusnya tidak terjadi. Bagaimanapun kondisi tersebut akan berpengaruh terhadap fokus dan keseimbangan tim. Yang mana tim sendiri khususnya pemain tidak akan pernah bisa sendiri tanpa ofisial dan manajemen.

Persib yang dicetak menjadi tim bertabur bintang justru menjadi boomerang karena terlalu banyak intervensi dan campur tangan manajemen kedalam tim. Bagaimana mungkin seorang pelatih kepala diatur untuk melakukan rotasi, dan memilih line up bahkan tidak mengetahui soal belanja pemain. Djanur dikabarkan tahu akan kedatangan Michael Essien hanya satu hari sebelum peresmian. Sebuah tindakan yang tidak perlu dilakukan karena Essien dianggap bukanlah sebuah kebutuhan. Sebuah kecerobohan sikap ketika terlalu menjadikan Persib sebuah bisnis dan industri. Persib telah melanggar tradisi. Kepercayaan akan produk lokal binaan sendiri, harus kalah pamor karena pasar dan investasi. Perlu adanya keyakinan penuh dari manajemen kepada tim kepelatihan untuk menyesuaikan strategi dan taktik di lapangan. Toh bila kemenangan terus didapat, akan selaras dengan keuntungan lain.


Grand Launching Golden Era Persib 2017

Dampaknya adalah dari 11 laga yang telah dijalani, Persib hanya mampu 4 kali menang, 4 kali seri, dan 3 kali kalah. 2 kekalahan beruntun dari Bali United yang diisi banyak sekali mantan pemain Persib musim lalu menjadi pukulan telak dan kekalahan dari Bayangkara FC di Bekasi adalah klimaks kekecewaan mendalam dari bobotoh. Persib seakan kehilangan nyawanya. Meskipun setelahnya di laga kandang bisa menang atas Persiba Balikpapan itupun dengan skor tipis 1 – 0 yang saat itu ada di dasar klasemen dan zona degradasi, tim sekelas Persib harusnya bisa lebih dari itu. Persib kembali menelan kekalahan dalam away day melawan tim semenjana Barito Putera. Persib tampil sangat buruk. Persib yang aku saksikan 4 pertandingan terakhir bukanlah Persib yang aku kenal, tapi tetap saja rasa cinta ini tidak pernah dusta. Sampai pluit akhir pertandingan ditiup aku setia menyaksikan dari layar kaca. Bulan Juli ini akan menjadi bulan yang sangat sibuk bagi Persib Bandung. Tercatat 6 pertandingan harus dilakoni termasuk didalamnya El Classico melawan Persija Jakarta tanggal 22 Juli dengan menjadi tim home terlebih dahulu.


Jadwal pertandingan bulan Juli

Hasil pertandingan hingga pekan ke - 11

Klasemen sementara hingga pekan ke - 11

Persib perlu melakukan pembenahan menuju bergulirnya putaran kedua. Target juara tidak boleh diturunkan meskipun keadaan sangat sulit. Persib harus bergerak aktif dalam bursa transfer pemain dengan mendatangkan pemain – pemain yang bisa mendongkrak kembali asa dan semangat pemain lain untuk bersama meraih gelar juara.

Dari sisi teknis permainan, Persib sangat membutuhkan sosok striker target man. Cederanya Serginho Van Dijk dan belum maksimalnya Charlton Cole harus segera dicarikan solusi. Keduanya memutuskan balik ke kampung halaman negara asal mereka untuk penyembuhan. Ilja Spasojevic menjadi opsi terbaik aku pikir untuk saat ini. Mengingat dia pernah membela dan membawa Persib juara di Piala Presiden 2015 dan musim ini pun cukup moncer dengan tim nya Melaka United di Malaysia Premier League, hingga menjadi top skor liga dengan mengemas 30 gol dari 34 pertandingan.

Gaya bermain Persib yang mapay gawir atau memanfaatkan lebar lapangan dengan mengandalkan kecepatan di pos sayap tetap harus disempurnakan dengan finisher yang baik agar semua peluang yang tercipta tidak sia – sia. Akan percuma maneuver dan crossing yang dilakukan tanpa finishing yang baik. Pun apabila melakukan cut inside, karena sejatinya seorang striker harus tetap terlihat mengamcam didalam penalty box untuk menarik perhatian ataupun melakukan screening mengelabui bek dan kiper lawan.

Febri Hariyadi, Atep, Tantan sendiri harus mulai mencari gaya bermain baru karena sejauh ini pergerakkannya sudah sangat terbaca dan mudah dihafal. Febri butuh seorang playmaker handal yang mampu mengatur ritme permainan dan supply bola setengah matang untuk kemudian dieksekusi oleh para striker, hal tersebut sementara belum ditemukan di salah satu gelandang Persib saat ini. Mungkin Dedi Kusnandar paling cocok karena teknik passing-nya yang paling baik dan berkelas, namun perannya yang belum berbagi tugas dengan baik dengan Hariono menyebabkan Dedi lebih banyak merebut bola dan menjelajah lapangan dibanding fokeus memberikan keypasses kepada pemain winger ataupun striker. Transisi permainan dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya harus terus dilatih. Ya memang, kondisi ini harus didukung oleh hadirnya seorang playmaker jenius yang tahu kapan harus melakukan counter attack cepat, delay bola, ataupun build up play.

Adanya variasi formasi dari skema 4-5-1dan komposisi pemain juga seharusnya menjadi evaluasi jajaran kepelatihan. Essien dan Matsunaga yang belum bisa bermain maksimal karena tidak ditempatkan pada posisi seharusnya. Terlebih untuk Essien sepertinya perlu ada treatment khusus. Essien yang berlabel marquee player dengan nilai kontrak mencapai 9 miliar semusim seharusnya bisa menjadi teladan yang baik dengan segudang pengalaman kelas dunia yang dimilikinya, namun harapan besar itu seakan sirna melihat apa yang dilakukannya di lapangan. Essien belum menunjukkan kelas dan kedewasaannya, Essien belum bermain dengan hati. Sedangkan Matsunaga yang hatinya sudah biru tidak banyak diberi kesempatan tampil dan di posisi idealnya.

Maitimo dan Kim Jeffrey yang belum menemukan waktu bermain terbaiknya. Pun dengan pemain U-23 yang masih tidak bermain lepas selain Gian Zola dan Febri Hariyadi. Henhen Hendriana dan Ahmad Basith harus bisa memanfaatkan waktu 45 menit tiap pertandingannya untuk membuktikan diri pantas dalam tim bukan karena regulasi. Apabila memungkinkan sebaiknya ada refreshment stock. Billy Keraf, Agung Mulyadi, dan Angga Febryanto sebaiknya diganti dengan pemain yang memiliki gaya bermain berbeda.

Lini belakang yang merupakan line – up dari tim juara ISL 2014 harus semakin padu. Taktik defense zonal marking harus lebih dimatangkan koordinasinya. Back up ketika duo center back overlap pun harus dimengerti oleh semua pemain. Karena bukan menjadi rahasia lagi bila Vlado dan Jupe memiliki insting goal yang cukup baik melalui set piece. Rap – rap atau total football gaya Belanda bisa dicoba agar rasa saling membutuhkan semakin terjalin. Merebut bola sedini mungkin harus diterapkan, mungkin metode 8 detik Juergen Klopp dan Pep Guardiola baik diterapkan. Tidak harus selalu menunggu lawan masuk di sepertiga terakhir lapangan.

Persib harus mulai mengurangi ketergantungan pada kekuatan kuartet bek utamanya karena regulasi. Henhen yang biasa dimainkan sejak awal di bek kanan, menyebabkan kompetisi antara Supardi dan Tony Sucipto. Jajang Sukmara dan Wildansyah juga harus diberikan kesempatan tampil agar menjaga kestabilan apabila salah satu dari Vlado dan Jupe berhalangan tampil karena cedera ataupun akumulasi.

Untuk lini pertahanan kiper, rotasi secara berkala diperlakukan karena kelemahan masing – masing kiper kita sudah terbaca lawan. Made dan Deden bisa bersaing merebut tempat utama. Namun apabila ada lawan yang relatif lebih mudah, tidak salah memberikan jam terbang kepada Imam Arief untuk tampil.

Laga melawan PSM Makassar dan Madura United haruslah menjadi pembuktian, keseriusan Persib untuk ikut dalam perburuan gelar juara. 3 point nanti menjadi harga mati. Secara peringkat keduanya jauh diatas Persib untuk saat ini, juga dari sisi kualitas dan kolektifitas permainan. Ini menjadi tantangan untuk ditaklukan. Persib yang menyetujui regulasi liga mengenai penggunaan pemain U-23 karena merasa sangat dirugikan yang harus ditinggalkan Zola dan Febri hingga akhir Agustus. Persib kemungkinan akan menurunkan tim senior secara penuh untuk misi memangkas jarak dengan pemuncak klasemen sembari terus menjaga asa menjadi juara dan berharap tim lain diatasnya tergelincir.

Ayo bangkit Persib, bangkit Maung Bandung ku! Ku yakin kau bisa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa