Tentang Orientasi
![]() |
| MPKMB IPB 53 |
Tradisi dan Disiplin
Tradisi merupakan roh dari
sebuah kebudayaan, dengan tradisi sistem kebudayaan akan menjadi kokoh. Bila
tradisi dihilangkan maka ada harapan suatu kebudayaan akan berakhir di saat itu
juga. Setiap sesuatu menjadi tradisi biasanya telah teruji tingkat efektifitas
dan tingkat efesiensinya. Efektifitas dan efisiensinya selalu mengikuti
perjalanan perkembangan unsur kebudayaan. Berbagai bentuk sikap dan tindakan
dalam menyelesaikan persoalan kalau tingkat efektifitasnya dan efesiensinya
rendah akan segera ditinggalkan pelakunya dan tidak akan pernah menjelma
menjadi sebuah tradisi. Tentu saja sebuah tradisi akan pas dan cocok sesuai
situasi dan kondisi masyarakat pewarisnya.
(Bastomi, 1984: 14)
Bastomi, Suwaji. 1986. Kebudayaan
Apresiasi Pendidikan Seni. Semarang: FKIP
Kita saling mengetahui bahwa masa
orientasi kampus di Indonesia sudah terkenal dengan tradisi kekerasan dan tekanannya.
Sebuah penekanan nilai ‘disiplin’ yang selalu menjadi argumen diadakannya
sistem ini. Sebenarnya, apakah memang penekanan disiplin ini merupakan hal yang
masih sesuai? Akankah kita menciptakan generasi yang lebih baik dengan sebuah
orientasi kampus yang ‘disiplin’? Disiplin disini berarti teratur sesuai dengan aturan yang
berlaku, dimaksudkan kepada pendekatannya preventif atau represif.
![]() |
| Kekerasan fisik di STPDN. |
Tujuan
Menuju masa-masa orientasi
pengenalan kampus tahun ajaran baru 2018.
Menarik
untuk disimak, akan seperti apa berjalannya proses pengenalan dan bagaimana para
rektor baru universitas mencitrakan dirinya di tahun pertama kepemimpinannya.
Senang bila di akhir pelaksanaan nanti kita mendengar tidak adanya tindak
kekerasan (fisik dan psikis) yang melebihi batas wajar. Tetapi, bukan berarti
tindak kekerasan telah hilang sepenuhnya dari acara wajib ini. Apa mungkin, mahasiswa
baru yang menjalani orientasi nanti akan sudah merasa bahwa orientasi kampusnya sudah jauh dari kata
perponcloan, sehingga mereka diam saja dan menikmatinya? Mungkin saja.
Secara rinci dan
terukur, memang seyogianya kampus memiliki visi jelas dari kegiatan orientasi.
Jangan sampai bahkan sudah selesainya kegiatan, peserta belum mendapat goal yang diinginkan dan dibutuhkan
untuk kedepan. Atau mungkin panitia hanya merasa bangga didepan adik kelasnya karena
selesai melanjutkan tradisi atau sukses meningkatkan gengsi.
Adanya payung hukum
Seiring
banyaknya pemberitaan soal tindak kekerasan dalam masa orientasi, perlu ditindaklanjuti
serius oleh pemerintah selaku pengambil kebijakan. Isu Hak Asasi Manusia (HAM)
dan penindasan tidak selayaknya diangkat dan dibesar – besarkan sampai
berlebihan. Adanya payung hukum yang melindungi berbagai kegiatan dan seluruh
pihak yang terlibat, sepertinya cukup membantu menjamin kenyamanan. Dengan
demikian, diharapkan seluruh kegiatan akan berkiblat pada kesesuaian kebutuhan.
Kebutuhan
Sesuai
kodratnya, manusia memiliki kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan tersebut haruslah
menjadi sebuah dasar dan alasan mengapa suatu hal dilakukan. Orientasi harus
menjadi sebuah kebutuhan bagi seluruh stakeholder
terkait. Panitia, peserta, dan pihak kampus harus menduduk perkarakan hal ini
secara bersama agar timbul keseriusan. Ya, sebagaimana otomatis bila kebutuhan
tidak terpenuhi maka akan selalu ada rasa kurang dan ketidaksempurnaan. Semua
harus paham kenapa dan bagaimana orientasi dilakukan sebaiknya. Bukan semata
program kerja atau peraduan gengsi dengan kampus tetangga.
Ketidak terpaksaan
Sesuatu yang
bersifat koersif / memaksa dewasa ini tidaklah lagi hal yang keren. Orang –
orang yang hidup dalam keterpaksaan sangat tampak tertekan dan menunjukkan
ketidakbebasan. Makanya, sifat kesukarelawanan (volunteerism) sekarang mulai jadi trend dan makin mewabah. Dimana orang – orang kini melakukan suatu
hal dengan asas kesukaan, sehingga akan muncul rasa totalitas dan keikhlasan.
Orientasi harus bersifat volunteerism.
Bagaimana caranya ? Panitia atau pihak penyelenggara harus bekerja keras
menjadikan masa orientasi adalah masa yang dinginkan semua orang, masa yang
menyenangkan, dan penuh dengan kenangan. Dengan demikian, kedepan dan secara
berlanjut maka akan semakin meningkat peminatan akan orientasi ini.
Perploncoan
semacam menjadi public enemy di masa
orientasi. Peserta jauh sebelum kegiatan berlangsung punya kecenderungan sudah
merasa trauma atau phobia dengan kata orientasi. Mungkin
yang ada di pikirannya sebatas ‘dikerjain senior’ atau melakukan sesuatu yang useless. Interpretasi tersebut ada
karena bukanlah sebuah kesadaran yang timbul dari pemikiran sendiri. Dari sudut
pandang panitia, perploncoan bisa jadi ajang balas dendam atau penegakkan nilai
disiplin kepada mahasiswa baru dengan harapan akan lebih baik dari dirinya.
Kalau begini, ada satu nilai yang tidak terakomodir. Keteladanan. Sebaik baiknya teladan adalah pencontohan oleh orang
yang memberi saran / masukkan. Dari sisi pihak kampus, perploncoan ditakuti
institusi karena adanya kekhawatiran aduan dari orang tua peserta atas tindak
tanduk panitia yang diluar nalar. Lalu ada pelaporan, masuk media, dan
informasinya terus menjalar. Tapi panitia akan berasumsi dalam batas wajar.
Hingga akhirnya pihak kampus dan panitia main kucing – kucingan saling kejar –
mengejar informasi untuk melakukan pembenaran. Kampus mencari, panitia
menutupi. Keduanya mutlak salah, tidak saling terbuka dan transparan. Ini harus
dibenarkan. Yang paling dikorbankan adalah peserta, tidak tahu menahu soal
diatas tapi dampak konfliknya terasa oleh mereka. Sungguh optimisme dari
peserta haruslah diiringi dengan kedewasaan panitia serta kepercayaan kampus
agar terciptanya masa orientasi yang benar – benar mendidik dan elegan.
Perploncoan harus benar – benar dilawan dan tidak dibiasakan.
![]() |
| Potret masa orientasi di beberapa sekolah di Indonesia. |
Appreciate
inquiry
Penanaman paham
baru tentang optimisme sangat baik sebagai sebuah awalan bagi seseorang di
lingkungan baru. Dengan menawarkan mimpi dan harapan, seseorang akan lebih suka
menjalani kegiatannya. Mereka yang merasa akan mencapainya, berusaha sebaik
mungkin mewujudkannya. Pemikiran positif bisa dirangsang dengan pembiasaan.
Penggunaan kata – kata negatif seperti ‘jangan’
cobalah diminimalisir. Semua yang bersifat larangan tidak dibenarkan banyak
digunakan karena berpotensi menimbulkan rasa penasaran yang belum terukur
resikonya. Diksi ‘sebaiknya’ cukup
untuk menggantikan. Salah satu metode yang bisa dicoba dalah appreciate inquiry.
Reward and
punishment
Tidak semua
individu bisa nyaman dalam keadaan tertekan, apalagi menerima masukkan yang
mengarah pada hinaan atau cacian yang melukai perasaan. Beberapa sangat perlu
untuk mendapatkan sebuah pujian. Reward
and punishment harus mulai diterapkan. Pengapresiasian kepada mereka yang
mampu melakukan lebih dari target yang diminta dan seharusnya diganjar dengan
sebuah rasa kebanggaan. Berlaku sebaliknya bagi mereka yang kurang dari
capaian, perlu diingatkan dengan cara yang membangun agar bisa bersaing dan
tidak tertinggal dari yang lain. Ini akan berdampak pada persaingan internal,
sehingga siapa saja akan berlomba – lomba dalam kebaikan. Perlu juga
disampaikan diawal bahwa ini bukan untuk saling mengalahkan, tetapi siapa yang
lebih bisa memenangkan.
Mentor dan fasilitator
Salah satu hal
yang diperlukan oleh individu di lingkungan baru adalah peminatan. Diperlukan sebuah
arahan umum untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan. Mahasiswa baiknya
sejak awal perkuliahan sudah diperkenalkan pada beberapa bidang yang bisa
digeluti dan bergengsi, agar dalam kampus tercipta iklim prestatif dan
kompetitif. Klasterisasi bisa menjadi solusi agar adanya fokus kedepan seperti
mahasiswa berprestasi, aktifis pergerakkan, entrepreneur, dan lain sebagainya. Setelah
mahasiswa baru melakukan peminatan, sangat baik bila dilanjut dengan adanya
sebuah pendampingan. Pendampingan bersifat mentorship yaitu belajar bersama
langsung dengan mereka yang sudah lebih dulu melakukan atau bahkan expert di
bidang tersebut. Learning by doing
akan bisa lebih cepat diterima daripada hanya belajar sebatas teori tanpa
praktek. Dalam proses mentoring, mentor
wajib melakukan monitoring dan
evaluasi secara berkala.
Alat orientasi
- · Struktur / hirarki organisasi beserta fungsi dan wewenang.
- · Peta umum lokasi.
- · Peta fasilitas.
- · Anekdot atau hal unik kampus.
- · Handbook kebijakan / peraturan kampus.
- · Buku saku yang berisi informasi penting dan catatan pelanggaran.
- · Deskripsi rinci perbedaan tiap departemen dan fakultas beserta kelebihannya.
- · Informasi lengkap beasiswa.
- · Mekanisme pengajuan dana lomba atau permohonan bantuan.
- · Prosedur dan kontak untuk dihubungi dalam keadaan darurat.
- · Denah bangunan beserta prosedur pemakaian dan kontak operator.
Referensi Orientasi dari Kampus Luar Negeri
Masa orientasi di Nanyang
Technological University (NTU) Singapore cukup berbeda dengan masa orientasi di Indonesia dengan
pelaksanaan yang sangat
bermacam-macam. Ada orientasi dari fakultas masing-masing, seperti dari Hall
(sebutan untuk dorm) dan juga club
kemahasiswaan
yang ada di NTU. Semua orientasi itu sifatnya opsional, sehingga jika mahasiswa
baru tidak
mau mengikutinya, tidaklah menjadi masalah. Orientasi dari fakultas bertujuan
untuk mengenalkan mahasiswa baru tentang universitas, sedangkan orientasi dari
Hall dan Club memiliki orientasi for fun
dan ingin membuat pesertanya lebih bonding,
serta untuk menarik anggota baru untuk masuk ke club tersebut.
Orientasi fakultas hanya
berlangsung 3 hari dan sangat fleksibel,
peserta dapat datang kapan saja dan apabila ingin mengikuti orientasi hanya dua
hari pun tak masalah. Acara hari pertama adalah ice breaking game dan campus
tour. Hari kedua
adalah sesi penjelasan mengenai kurikulum dan administrasi. Di hari ketiga, ada
welcoming ceremony sebagai penutup
masa orientasi. Orientasi di NTU sebenarnya diserahkan kepada organisasi
kemahasiswaan tiap fakultas. Misalnya sebuah fakultas di NTU mengadakan beach day. Permainannya bisa saja menjadi tidak senonoh.
Tetapi hal yang perlu digarisbawahi, orientasi di NTU sangatlah diperhatikan
oleh pihak universitas, mereka memberi secara gratis berbagai barang yang bisa
digunakan untuk penunjang kuliah kedepan,
seperti tas, buku, laser pointer, dan flash disk.
Orientasi di University of
Amsterdan
disebut Intreeweek. Orientasi
ini diselenggarakan oleh pihak universitas dan melibatkan terutama mahasiswa
internasional dan exchange students.
Tujuan utamanya adalah membantu mahasiswa
untuk membiasakan dirinya dengan fasilitas kampus, layanan, dan geografi kota itu
sendiri. Intreeweek
ini tidak wajib. Untuk berpartisipasi, mahasiswa harus mendaftar di satu minggu
sebelumnya. Namun, program pengenalan sarjana untuk masing-masing fakultas
adalah hal yang wajib. Harga pendaftarannya bervariasi dalam beberapa tahun
terakhir. Pada tahun 2016, harganya adalah senilai 110 €.
Di hari pertama, seluruh
peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok yang dipimpin oleh dua mahasiswa
senior (mentor), dan dilengkapi
dengan gelang yang memungkinkan mereka untuk mengakses semua acara Intreeweek.
Biasanya kelompok ini terbentuk atas dasar program studi, untuk membantu mahasiswa dari fakultas yang
sama lebih mengenal satu sama lain. Kemudian, upacara pembukaan untuk tahun
ajaran baru dilaksanakan di ruang kuliah utama. Pada hari-hari berikutnya, pagi
hari biasanya didedikasikan untuk eksplorasi berbagai kampus dan fasilitas
universitas seperti perpustakaan, layanan mahasiswa, dan pusat olahraga.
Pada sore hari, kegiatan team building berlangsung, seperti
kunjungan ke museum, berjalan wisata di sekitar Amsterdam, dan berolahraga.
Akhirnya, di malam hari, peserta dapat memperoleh akses eksklusif ke beberapa
klub malam dan bar paling populer di kota Amsterdam dengan menunjukkan gelang
mereka.
University of Sydney
Orientation week adalah waktu yang cukup membuat mahasiswa baru dan mahasiswa
lama cukup ‘pusing’. Minggu orientasi dimulai dengan upacara penyambutan di
Balai Agung dan diikuti oleh malam barbekyu dengan teman-teman sefakultas. Di sepanjang jalan utama universitas, Eastern
Avenue, berjajar penuh dari satu ujung ke ujung dengan club dan societies yang
sedang mencari anggota baru.
Masing – masing college di Sydney
University mengatur program orientation
week mereka sendiri terpisah dari orientation
week universitas. Ini biasanya berupa
minum-minum, belajar lagu perguruan tinggi, dan ritual inisiasi. Misalnya,
salah satu college memiliki tradisi
yang melibatkan freshmen mengenakan academic gown dan membawa batu bata ke
mana pun mereka pergi selama orientation
week. Mereka harus memperkenalkan batu bata mereka ke semua orang yang
mereka temui.
Orientasi di Yale
University terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah set atas 45 program
pra-orientasi pilihan yang dapat dipilih oleh mahasiswa salah satunya, dan
orientasi utama untuk semua mahasiswa baru yang disebut Camp Yale. Tujuan kedua bagian orientasi Yale adalah untuk membantu
mahasiswa baru untuk dapat menyesuaikan diri dengan rumah baru mereka, menjaga
mereka terus-menerus terlibat sehingga dapat terbiasa dengan kehidupan kampus,
dan mengatur suasana yang kondusif untuk always
meet new people and
make new friends.
Program pra-orientasi di
Yale adalah Culture Connections (CC),
Freshmen Outdoor Orientation Trip (FOOT), Harvest, and Orientation for
International Students (OIS). Culture
Connections (CC) adalah program yang lahir
dari keragaman budaya dan etnis di Yale
University. Program ini melibatkan serangkaian diskusi tentang bagaimana
keragaman dari mahasiswa merupakan hal yang penting dari The Whole Yale Experience. FOOT dilakukan dengan sebuah perjalanan ke hiking
trails
terkenal, New
England selama 4-6 hari. Banyak Yalies (sebutan untuk mahasiswa Yale) yang
mendaftar untuk FOOT, karena seringkali berakhir dengan mendapat teman-teman
terbaik mereka di sana. Harvest
adalah program dimana mahasiswa
menghabiskan 3-4 hari di peternakan Yale dan melibatkan diri dengan berbagai
kegiatan hortikultura serta pertanian. Sedangkan OIS adalah program 4-hari yang
dirancang untuk membantu mahasiswa internasional transisi ke kehidupan di
negara dan budaya baru. Ini melibatkan serangkaian diskusi interaktif,
perjalanan dan kegiatan, dengan tujuan membantu mahasiswa internasional untuk
mengenal satu sama lain lebih baik sebelum Camp
Yale dimulai.
Camp
Yale
merupakan bagian wajib dari orientasi mahasiswa yang mencakup berbagai kegiatan
sosial, sesi informasi mengenai keamanan kampus, pelecehan seksual, dan kehidupan akademik.
Setiap residential college di Yale
juga melakukan mengatur sendiri welcome
reception dan kegiatan bagi mahasiswa
untuk mengenal satu sama lain sebelum kelas dimulai, sehingga membuat kampus
Yale a more familiar and feels like home.
Orientasi di Massachusetts
Institute of Technology (MIT) tidaklah jauh berbeda dengan yang lain. Intinya
banyak presentasi mengenai; telling us not
to work too hard, setting priorities, seeking help from Mental Health services,
and information about student
services.
Terdapat juga presentasi mengenai alcohol
and sexual health training yang
disampaikan melalui pertunjukan teater. Ada juga kegiatan lainnya seperti Activities Midway (mengenai klub,
organisasi, tim di kampus), Academic Expo
(mengenai kelas-kelas dan jurusan yang ditawarkan), acara pengenalan
organisasi-organisasi akademik yang menangani magang, riset, di kampus maupun
aborad, dan Core Blitz (presentasi mengenai
kelas-kelas dasar dan kredit yang harus dipenuhi selama kuliah di MIT).
Mahasiwa baru juga kemudian diajak jalan-jalan ke akuarium di Boston.




Komentar
Posting Komentar