Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berkelanjutan Sebagai Solusi Kesejahteraan Nelayan Legon Wetan
Indonesia
dengan garis pantai terpanjang di dunia memiliki potensi untuk menjadi
poros maritim dunia. Salah satu caranya adalah dengan terus mengembangkan
daerah pantai tersebut. Ekosistem pesisir berupa mangrove, lamun,
dan karang membutuhkan perhatian lebih untuk dikelola sebaik mungkin. Sejauh
ini pengelolaan kawasan pesisir masih terfokus pada pelayanan jasa ekowisata.
Isu pemanasan global yang semakin nyata dirasakan, sangat berdampak terhadap
kawasan pesisir. Hal ini dikarenakan terjadinya abrasi yang disebabkan oleh
mencairnya es di seluruh dunia yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut
secara global dimana termasuk Indonesia sendiri yang cukup terdampak.
Salah satu
daerah yang mengalami abrasi pantai adalah desa Legon Wetan, Subang,
Jawa Barat. Legon Wetan merupakan daerah pesisir pantai yang seharusnya
secara alami sebagian besar dari wilayah tersebut adalah hutan mangrove
yang kini terus mengalami intrusi (Soraya 2012). Intrusi adalah penyusupan
air laut ke dalam pori – pori batuan dan mencemari air tanah yang terkandung
di dalamnya sehingga menyebabkan air tanah berubah menjadi lebih asin
(Taufiqorahman 2014). Ekosistem mangrove mempunyai
kemampuan dalam mengendalikan
intrusi air laut melalui mekanisme pencegahan pengendapan CaCO3
oleh badan eksudat akar, pengurangan kadar garam oleh bahan organik hasil
dekomposisi serasah, peranan fisik susunan akar mangrove yang dapat mengurangi
daya jangkauan air pasang ke daratan, dan perbaikan sifat fisik dan kimia
tanah melalui dekomposisi serasah. Kerapatan mangrove berkontribusi terhadap
tingkat luasan akresi, distribusi sedimen dan tinggi elevasi permukaan. Namun
demikian, penurunan tutupan mangrove dalam skala
besar akan mengurangi
fungsinya secara fisik sebagai penjaga kestabilan garis pantai, mencegah
abrasi, pengendali intrusi, penangkap lumpur dan sedimen, pengendali banjir,
serta pemelihara kualitas air (Salim 2016).
Hutan mangrove disana
sebagian besar hilang karena dialihfungsikan menjadi
tambak. Konversi mangrove yang luas menjadi tambak dapat mengakibatkan
penurunan produksi perikanan dan mempengaruhi produktivitas di perairan
sekitarnya (Harahab 2009). Seperti contoh menurunnya produksi udang (Metapenaeus sp.), ikan
glodok, dan kepiting bakau (Scylla sp.) yang
menjadi komoditas
utama hasil perikanan.
Potensi
sumber daya ikan laut hasil tangkapan (non budidaya) di Kabupaten Subang
pada tahun 2012 mencapai 18.324 ton. Produksi sub sektor perikanan laut menurut
jenis dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) di Subang Tahun 2012 Kecamatan Legon
Kulon dengan total produksi 4250,53 ton dengan nilai produksi mencapai Rp.
56.249.706,86. Sarana usaha yang digunakan para nelayan disana adalah perahu
layar dan perahu motor tempel dibawah 10 GT dengan alat tangkap sederhana
seperti pancing, jaring insang (gill net), dan
payang.
Tambak tidak
selalu berarti hilangnya mangrove, hal ini
dapat dilihat pada pola
tambak tumpang sari yang di praktekkan di beberapa tempat di utara Jawa awalnya.
Pada pola ini mangrove di tanam di bagian tengah tambak.
Sistem ini sangat
baik untuk diterapkan karena selain mempertahankan keberadaan mangrove dan wilayah muara, juga dimanfaatkan oleh burung air sehingga
meningkatkan keanekaragaman
hayati. Pada dasarnya konversi hutan mangrove menjadi
tambak dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu tambak terbuka dan tambak hutan. Sistem tambak
terbuka merupakan sistem tambak dengan ditebangnya seluruh hutan mangrove. Sedangkan
sistem tambak hutan merupakan sistem pertambakan yang mengkombinasikan
konservasi hutan mangrove dengan pembukaan lahan tambak. Sistem
tambak hutan ini merupakan suatu aplikasi pemanfaatan ekosistem mangrove
untuk dijadikan area tambak ramah lingkungan yang memadukan pohon atau
hutan (sylvo) dengan budidaya perikanan (fishery). Tambak silvofishery dapat mengakomodasi
tujuan rehabilitasi ekosistem pesisir secara luas tanpa mengurangi manfaatnya
secara ekonomi (Rusdianti dan Sunito 2012).
Manfaat
mangrove dalam silvofishery diantanya adalah memperkuat kontruksi
pematang tambak oleh akar mangrove, daun mangrove dapat digunakan sebagai
pakan ternak, pematang dipakai untuk lintasan pejalan kaki, tempat hidup juvenile
ikan dan terciptanya sabuk hijau di kawasan pesisir. Dalam kegiatan budidaya
salah satu manfaat mangrove adalah dapat
digunakan untuk tandon yang difungsikan
sebagai biofilter alami. Mangrove dapat
menjebak dan mendaur ulang berbagai
logam berat dan bahan kimia lainnya. Mangrove juga dapat
menstabilkan konsentrasi
NO3-N dan PO4-P dan juga mampu menghambat perkembangan Vibrio
sp. sehingga mangrove dapat
memperbaiki kualitas air tambak (Rusdianti dan
Sunito 2012).
Pada
ekosistem mangrove, terjadi rantai makanan detritus.
Sumber utama detritus
adalah hasil penguraian guguran daun yang jatuh ke perairan oleh bakteri dan
fungi. Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting
mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran
bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien)
bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya. Bakteri
dan fungi tadi
dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata
dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat
tinggi. Produktivitas perairan yang tinggi juga menjadi tempat hidup yang baik
bagi mikroorganisme anaerob. Beberapa jenis dari fitoplankton merupakan makanan
yang penting bagi beberapa jenis ikan, khususnya udang. Dinoflagellata dan
diatom merupakan makanan yang penting bagi udang, khususnya dari jenis Metapenaeus
sp.. Sementara dalam kolam budidaya jenis fitoplankton tersebut dimanfaatkan
ikan bandeng sebagai pakan alaminya (Prahastianto 2010).
Mangrove bukan sekedar
pencegah abrasi, bisa juga diolah menjadi berragam
makanan (Kalitouw 2015). Salah satunya getuk goreng. Mangrove juga dapat
dibuat menjadi jenis produk yang lainnya seperti dodol dan tape. Apalagi sebelumnya,
para petambak Blanakan telah berhasil mengembangkan produk minuman
dari buah salah satu jenis mangrove, yakni Sonerratia
caseolaris. Orang-orang menamainya jus pidada. Budidaya lebah madu juga
dapat dikembangkan di hutan
mangrove. Bunga dari Sonneratia sp. dapat
menghasilkan madu dengan kualitas
baik. Areal hutan mangrove yang masih terkena pasang surut dapat dijadikan
pembuatan garam yang dapat dilakukan dengan perebusan air laut dengan kayu
bakar dari mangrove yang mati.
Berbagai
macam obat dapat dihasilkan dari tanaman mangrove. Kulit batang
pohonnya dipakai untuk bahan pengawet dan obat – obatan. Campuran kulit batang
beberapa spesies mangrove tertentu dapat dijadikan obat
penyakit gatal atau peradangan
pada kulit. Secara tradisional tanaman mangrove dipakai
sebagai obat penawar
gigitan ular, rematik, gangguan alat pencernaan dan lain - lain. Getah sejenis
pohon yang berasosiasi dengan mangrove atau Excoecaria
agallocha mengandung cairan kimia yang dapat berguna untuk mengobati sakit akibat sengatan
hewan laut. Air buah dan kulit akar mangrove muda dapat
dipakai mengusir
nyamuk. Daun mangrove bila di masukkan dalam air bisa dipakai dalam penangkapan
ikan sebagai bahan pembius yang memabukkan (stupefied).
Hutan mangrove juga dapat
dijadikan sebagai suatu kawasan ekowisata alam.
Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan
dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan
kesejahteraan penduduk setempat (Mulyadi 2009). Kegiatan wisata tersebut disamping
memberikan pendapatan langsung bagi pengelola melalui penjualan tiket
masuk dan parkir, juga mampu menumbuhkan perekonomian penduduk di sekitarnya
dengan menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, seperti membuka
warung makan, menyewakan perahu, dan menjadi pemandu wisata.
Edukasi mangrove kepada siswa SD di Desa Legon Wetan
|
Edukasi
sangat penting dan dibutuhkan untuk melanjutkan apa yang telah direncanakan
jangka panjang agar tetap sesuai dengan tujuan awalnya. Salah satu upayanya
adalah berupa bentuk sosialisasi sejak dini kepada anak – anak untuk memberikan
pencerdasan pentingnya menjaga lingkungan dan peran mangrove bagi kehidupan mereka kedepan. Dengan demikian, harapannya akan terus berlangsung
suatu pengelolaan berkelanjutan yang tidak pernah berhenti.
DAFTAR PUSTAKA
Harahab, N. 2009. Pengaruh Ekosistem Hutan Mangrove Terhadap Produksi
Perikanan Tangkap (Studi Kasus di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur).
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (1): 100-106 ISSN: 0853-6384
Perikanan Tangkap (Studi Kasus di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur).
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (1): 100-106 ISSN: 0853-6384
Kalitouw, W. 2015. Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove di Desa Tiwoho,
Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara.
Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara.
Mulyadi, E. dkk. 2009. Konversi Hutan Mangrove Sebagai Ekowisata, Jurnal
Ilmiah Teknik Lingkungan. Vol.1 Edisi Khusus
Ilmiah Teknik Lingkungan. Vol.1 Edisi Khusus
Prahastianto, E. 2010. Keberadaan Mangrove dan Produksi Ikan di Desa
Grintng,
Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Brebes. IPB [Skripsi]
Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Brebes. IPB [Skripsi]
Rusdianti, K dan Sunito, S. 2012. Konversi Lahan Hutan Mangrove Serta
Upaya
Penduduk Lokal dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove. Jurnal
Perikanan dan Kelautan. ISSN : 1978-4333, Vol. 06, No. 01
Penduduk Lokal dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove. Jurnal
Perikanan dan Kelautan. ISSN : 1978-4333, Vol. 06, No. 01
Salim, AG. Dkk. 2016. Pengaruh Penutupan Mangrove Terhadap Perubahan
Garis
Pantai dan Intrusi Air Laut di Hilir DAS Ciasem dan DAS Cipunegara,
Kabupaten Subang. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Vol. 23, No.3, : 319-
326
Pantai dan Intrusi Air Laut di Hilir DAS Ciasem dan DAS Cipunegara,
Kabupaten Subang. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Vol. 23, No.3, : 319-
326
Soraya, D. dkk. 2012. Perubahan Garis Pantai Akibat Kerusakan Hutan
Mangrove
di Kecamatan Blanakan dan Kecamatan Legon Wetan, Kabupaten Subang.
Jurnal Perikanan dan Kelautan. ISSN 2088 – 3137. Vol. 3 No. 4 (355 – 364).
di Kecamatan Blanakan dan Kecamatan Legon Wetan, Kabupaten Subang.
Jurnal Perikanan dan Kelautan. ISSN 2088 – 3137. Vol. 3 No. 4 (355 – 364).
Taufiqorahman, A. 2014. Pemodelan Tinggi Gelombang Akibat Keberadaan
Hutan
Mangrove di Desa Mayangan, Kabupaten Subang. Jurnal Akuatika ISSN
0853 – 2532. Vol. V No. 1
Mangrove di Desa Mayangan, Kabupaten Subang. Jurnal Akuatika ISSN
0853 – 2532. Vol. V No. 1

Komentar
Posting Komentar