Rekam Aksara
Mentoring Leader Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor
Batch 2
Mentor: Ichsan Firdaus (Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Komisi IX Dapil Bogor)
Gedung Nusantara I Lantai 11 Ruang 1111
Senin, 23 Desember 2019. 14.30 – 17.00 WIB.
Prolog
20 hari sejak launching program Mentoring Leader
HA IPB Batch 2, aku masih belum bertemu mentorku.
Ada rasa iri saat membaca grup WA karena beberapa mentee sudah bertemu mentornya.
Mereka saling berbagi notula ataupun memo
dari hasil mentoring. Kemarin, di
grup yang sama juga Pak Jamil Azzaini menanyakan siapa saja yang masih belum
bertemu mentornya. Saat itu juga,
hadir panitia yang menawarkan diri untuk direpotkan bilamana ada mentee yang kesulitan menghubungi mentor. Aku manfaatkan kesempatan
tersebut untuk cerita kondisiku. Aku dan Safikri lebih tepatnya, kami berdua
sekelompok berpasangan dengan mentor
di bidang politik yakni Ichsan Firdaus. Komunikasi terakhir kami hanya
pasca launching 3 Desember 2019 lalu.
Setelah itu, kami segan menghubungi karena menduga kesibukan beliau.
Hari itu juga aku mendapat
informasi bahwa mentor kami Pak
Ichsan bersedia ditemui besok hari Senin, 23 Desember 2019 di tempat kerjanya di Gedung Nusantara Gedung DPR RI. Beliau mengundang kami ke kantornya untuk mentoring. Sayang sekali, Safikri partner mentee ku belum berkesempatan
hadir karena posisinya sedang tidak di dekat Jakarta. Aku konfirmasi kabar
tersebut langsung ke beliau. Kali ini dengan cepat direspon dan dipersilahkan
untuk datang esok siang hari. Hari itu juga malam harinya aku segera pulang
dari rumah orangtua di Garut, +/ 200 km dari Jakarta.
13.30 waktu yang ditentukan
kemarin, beliau tidak kunjung memberi kabar. Aku memberanikan diri bertanya
apakah hari ini jadi atau tidak. Beliau akhirnya membalas dan mempersilahkan
untuk segera ke ruang kerjanya saja. Sempai di kantornya, aku mengurus
administrasi dan menunggu konfirmasi karena cukup ketat untuk bisa masuk sebagai
tamu. Sampai di ruang kerja beliau, ternyata aku sudah
ditunggu. Ada rasa tidak enak karena saat itu juga ternyata ada tamu lain.
“Gapapa, duduk sini gabung aja. Ini teman saya, sesama aktifis dulu.”. Kalimat
pertama yang menjadi pemantik diskusi kami selanjutnya hari itu.
![]() |
| Kartu tanda pengenal untuk tamu ke Gedung Nusantara. Harus registrasi menggunakan identitas KTP. |
Beliau memulai percakapan
dengan menanyakan kabar, latar belakang, dan harapanku dalam program Mentoring
Leader ini. ‘Gimana, apa yang mau kamu dapat? Cerita aja.”. Aku jawab dengan
sangat hati – hati, karena takut menimbulkan kesan pertama yang tak baik.
Kemudian beliau bertanya, “Apa cita-citamu?”. Aku jawab yang ini lebih percaya
diri, “Jadi presiden, Pak.”. Beliau tersenyum, temannya yang ada disebelahku
juga makin memperhatikan dan berkata “Menarik! Dulu cita-cita seperti ini
diucapkan anak kecil, tapi sekarang ada yang mengucapkan di usia segini. Perlu
kita arahkan ini.”.
“Baik, kalau begitu saya beri
kamu tugas. Buatlah dua tulisan dengan minimal 5 halaman. Tulisan pertama ceritakan
tentang mimpimu menjadi presiden dan visi besar tentang republik ini tahun 2045
di 100 tahun kemerdekaannya. Akan bagaimana bangsa ini kau bawa dan peran apa
yang kau ambil 26 tahun kedepan. Tulisan
kedua tentang bagaimana kamu
mewujudkan mimpimu, langkah apa yang sudah dilakukan untuk mencapai mimpimu,
apa yang akan kamu lakukan untuk mewujudkannya, kemudian bila mimpimu tidak
terwujud apa rencana lainmu.”. Belum selesai mencatat, beliau melanjutkan “Dua
minggu bisa selesai?”. “Siap!” Spontan aku menjawab.
Pertanyaan beliau berikutnya,
“Kamu sekarang sibuk apa? Kerja dimana? Udah lulus kan?”. Aku ceritakan
kesibukan dan pekerjaan saat ini, yaitu ikut membantu Gubernur Jawa Barat
melalui program Patriot Desa untuk mendampingi desa tertinggal membentuk
BUMDes. Tanpa menjawab, beliau mengambil sebuah buku yang masih tersegel dan
memberikannya kepadaku, “Ini dibaca ya, tau kan Sofyan Sjaf. Di desa nanti sambal
baca-baca terus tulis kalau ada ide pemikiran.” Buku yang diberikan berjudul Involusi Republik Merdesa karya Sofyan
Sjaf cetakan IPB Press. Dari dua topik diatas, makin berkembanglah percakapan
kami beberapa jam kedepan. Sangat menarik apa yang dibahas. Berikut akan coba
aku bagi dalam beberapa sub topik.
![]() |
| INVOLUSI REPUBLIK MERDESA karya Sofyan Sjaf |
Filosofi Anggrek
Ichsan Firdaus, sampai tingkat
sekolah menengah tumbuh dan besar di kota Bekasi. Beliau memimpikan menjadi
seorang anggota DPR sejak kecil. “Waktu itu SD kelas 6 naik bus dari Bekasi –
Kalideres, ketika lewat depan Senayan saya berkata suatu hari akan kerja
disana. Saya sampaikan hal itu kepada ibu saya.” kenangnya. 2014, Ichsan
berhasil mewujudkan mimpi tersebut. Pertama kali saat dirinya mencalonkan
diri menjadi anggota dewan, saat itu juga beliau langsung menang menjadi
anggota DPR RI dari daerah pemilihan yang sulit karena lawan politik yang
berat. “Di
2019 saya meraih suara tertinggi di dapil bahkan melebihi nomor urut 1, anak
ketua umum saya sendiri yang mana dia tidak lolos.”.
Dalam proses mewujudkan mimpi
tersebut, beliau sangat konsisten, istiqomah, dan fokus. Ketika SMA, oleh guru
BP beliau diminta menggambarkan cita–citanya. Kemudian beliau menggambarkan
dirinya bersama keluarga berlatar belakang Gedung DPR yang sejak kecil sering
dilalui lengkap dengan burung garuda dan bendera merah putih. Ketika ditanya
gurunya, apa cita-citanya, hari itu Ichsan Firdaus percaya diri menjawab “Saya
ingin menjadi anggota DPR, Bu.”. Lanjut, beliau menceritakan awal mula
bagaimana bisa menjadi seorang anggota DPR padahal sebelumnya sempat bekerja
menjadi konsultan ISO. Namun kegigihannya mewujudkan mimpi, mengantarkannya
kembali ke track yang benar.
“Saya dulu seorang staf ahli
DPR RI, saya ikut pak Ade Komarudin (Akom) anggota dewan dari Partai Golkar.
Saya dulu masuk Golkar karena sering membantu beliau.”. Salah satu filosofi
hidup yang dipegang oleh Ichsan Firdaus adalah filosofi anggrek. “Meskipun
hidup menempel pada inang pohon besar, tetapi bukanlah sebagai parasit atau
benalu yang merugikan apalagi memalukan. Tetapi justru menjadi bunga yang
menghiasi pohon, menarik minat banyak orang dan akhirnya banyak dicari orang.
Anggrek bernilai jual tinggi. Anggrek sangat adaptif, ia tidak memilih inangnya
untuk hidup. Dimanapun bisa tumbuh cantik bahkan tidak perlu dirawat sekalipun.
Tetapi ingat, anggrek tidak boleh jatuh ke tanah karena akan cepat layu
kemudian mati.”.
Filosofi Cahaya
“Semua bermula dari tesis
S2 saya yang membahas tentang Partai Golkar, yang kemudian menjadi branding diri saya. Saya juga dikenal sebagai ahli strategi politik.
Saya aktif menulis dan membantu beliau (Pak
Akom) menyiapkan pidato
atau naskah lain. Kebiasaan menulis saya rawat sejak menjadi aktifis mahasiswa.
Tulisan saya beberapa dimuat di media cetak nasional. Dari sana branding saya menguat.”. Beliau lalu
mengkritik mahasiswa sekarang yang kurang banyak aktif menulis. “Jangan jadi
salah satu dari masalah bangsa ini, minim literasi. Bacalah apapun yang kamu
suka atau yang tersedia. Kemudian tuliskanlah pikiranmu. Lalu rajinlah
berdiskusi agar dapat banyak masukan dan sudut pandang.”.
Kemampuan menulis Bang Ichsan
dilatih sedari dulu, dimulai dari kebiasaannya membaca sejak remaja. Semasa
sekolah menengah, setiap hari Bang Ichsan selalu membaca surat kabar harian
Kompas seperti ada SOP-nya. “Saya mulai dari halaman 3 yang isinya politik
dalam negeri, kemudian langsung lompat ke halaman 9 karena disana
ada berita olahraga. Setiap hari Selasa juga saya beli majalah Hai seperti
remaja pada umumnya
agar tidak ketinggalan informasi.”
Filosofi hidup lain yang dipegang oleh Bang Ichsan adalah filosofi
cahaya dikutip dari sebuah pidato mantan Ketua Umum Partai
Golkar, Aburizal Bakrie;
“Jadilah
cahaya, yang laron-laron saja membutuhkan sehingga akan selalu
mendekat kepadanya, apalagi manusia. Namun ketika gelap bahkan bayangan
pun takut pada kita. Dia tidak tampak dan tidak akan terlihat.”.
Dari pernyataan diatas adalah bahwa Bang Ichsan orang yang memegang
teguh integritasnya untuk selalu dibutuhkan orang. Beliau menjaga sekali kepercayaan
orang kepadanya dan selalu membantu bila memang diperlukan.
Tentang Partai dan Politik
Diskusi tema ini dimulai dari pertanyaan, Kamu mau jadi
presiden jalur apa? Bagaimana caranya?”. Kemudian beliau menjelaskan beberapa
jalur yang bisa ditempuh menjadi presiden. Ada dari kalangan aktifis, akademisi,
militer, cendekiawan, dan politisi sejati. Belum selesai, beliau melanjutkan
dengan pertanyaan “Memang kalau mau jadi presiden harus berpartai?”. Beliau
urutkan presiden pertama sampai terakhir republik ini disertai kisah dibalik
suksesnya mereka menjadi presiden. Soekarno jadi presiden karena dipercaya
banyak tokoh lain karena habis – habisan berjuang menjadi aktifis pergerakan
kemerdekaan. Soekarno tidak berpartai sebelum jadi presiden, tetapi membentuk
partai setelah terpilih untuk melanggengkan kekuasaannya.
Soeharto menjadi presiden di tengah kemelut isu
konspirasi global. Militer saat itu sangat kuat pengaruhnya di republik ini. Soeharto
diperkuat oleh Golkar dari parlemen. Golkar menguasai seluruh ABRI dan PNS. Pembangunan
di awal kepemimpinannya sangat baik dan terasa. Namun setelah tahun 1988, yang
nampak justru Pak Harto yang korup. Power corruption is absolutely. Beliau berniat melanggengkan kuasanya dengan korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Keluarga Cendana hampir menguasai seluruh sektor
republik ini di akhir masa jabatannya.
Habibie, akademisi yang juga kader partai Golkar diminta
menuntaskan berbagai masalah yang ditinggalkan pendahulunya. Gus Dur, ulama
besar yang dianggap bisa menjadi penengah dari berbagai konflik yang timbul
pasca reformasi dan krisis moneter. Tokoh sentral organisasi masyarakat (ormas)
terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) berpolitik melalui Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sosoknya sukses mengakar
rumput di masyarakat bawah terkhusus umat Islam yang merupakan mayoritas di
Indonesia.
Megawati Soekarnoputri, yang konsisten menjadi politikus
meneruskan perjuangan ayahnya mengawal demokrasi dan menjadi ketua umum PDI-P
(Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Partai pemenang dua pemilu edisi
terakhir. Sukses membersamai wong cilik
sehingga siapapun kadernya di dapil manapun pasti menang. SBY, militer yang pandai
berpolitik. Beliau belajar sangat baik dari seniornya dan dari posisi kursi
menteri yang pernah didudukinya bidang politik, hukum, dan keamanan negara. Kini
beliau susah payah membangun partai Demokrat untuk bisa bersaing di papan atas
partai politik setiap pemilu (pemilihan umum). Semua anaknya didorong untuk
bisa meneruskan kiprahnya.
Terakhir Jokowi, Bang Ichsan beropini kalau ini adalah
kecelakaan sejarah. Bukan seorang
presiden yang by design dan bisa
menurunkan kepemimpinannya. Beberapa anaknya
mulai terjun ke dunia politik, akankah berhasil atau tidak kita tunggu saja. Jokowi
sebelumnya tidak berlatar belakang politisi meskipun sebelumnya menang di
pemilihan kepala daerah. Jokowi dianggap orang baik yang bisa mengakomodir
kepentingan banyak orang. Mental pengusaha kayunya melekat kuat. Sebagai kader
PDI-P, Jokowi benar – benar sukses menjadi jelmaan wong cilik yang berhasil memimpin republik dengan gaya kekiniannya.
Partai hanya kendaraan politik
saja sebagai prasayarat ikut pemilihan. Selebihnya tetap pada
basis massa yang dipunya. Basis massa tergantung akan individu yang dicalonkan.
Di beberapa daerah banyak kepala daerah yang mencalonkan diri dari jalur
independen. Memang kebanyakan kalah. Menurutku
ini akan jadi tren. Dimana orang
tidak lagi melihat latar belakang partai, tetapi lebih kepada siapa orangnya dan gagasan apa yang dibawa serta
integritasnya. Sangat
penting memiliki sebuah integritas bagi seseorang apalagi politisi, agar ia
menjadi orang yang dicari dan selalu dipercaya. Integritas juga modal utama
dalam hidup. Politisi boleh jadi orang pragmatis tapi tidak oportunis.
Dalam hidup kita hanya mati sekali, dalam politik kita
bisa mati berkali – kali dan hidup lagi.
– Winston Churcill
Banyak politisi yang
dikhianati dan disakiti tetapi mereka bisa bangkit lagi. Mahatir Muhammad, keluar dari penjara kini terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia dan
merupakan pimpinan negara
tertua di dunia. Ini membuktikan
bahwa selama kita berintegritas. Kepercayaan dan dukungan publik tidak akan
hilang begitu saja.
Politik penuh dengan simbol.
Harus ada yang orang lain lihat dan rasakan dari hasil kerja kita. Legacy
sangat penting bagi seorang politisi. Apa yang telah kita perbuat untuk orang lain yang menjadikan kita
dikenang orang. Peninggalan haruslah suatu
karya orisinil yang bermanfaat dan longlast. Bang Ichsan kini memiliki 17 desa binaan di dapilnya di Kabupaten Bogor. Hingga tanggal 10 Januari 2019 agenda DPR RI adalah reses, turun ke dapil untuk
menyerap aspirasi masyarakat.
Bang Ichsan mendorong saya melakukan akselerasi dalam
mewujudkan mimpi. Beliau ceritakan kisah kisah pemuda yang sukses jadi pemimpin
dunia seperti Tony Blair, JF Kennedy, dan Soekarno. Program Mentoring Leader
diharapkan mampu memotong lag sekitar
20 tahun. Mentor mampu memberikan
arahan serta pengalamannya sehingga mentee
dapat melakukan pertumbuhan eksponensial. Pilihan jalur apa yang dipakai untuk
jadi presiden harus mulai ditentukan sedini mungkin. Agar kedepan jalur
tersebut bisa lebih cepat diakses dan diperlebar.
Bidang politik bukanlah sebuah pilihan yang salah, namun
harus dipastikan benar caranya. Politik
bukan berarti menghalalkan segala cara
untuk memenangkan jabatan.
Politik justru penuh kebaikan, bagaimana kita memanfaatkan amanah dan jabatan. Banyak hal kebaikan yang tidak semua orang bisa lakukan tanpa jabatan. Politik memang dekat pengkhianatan, tetapi untuk orang yang
berintegritas hal tersebut tidak akan pernah
dilakukan.
Ketika kita berkuasa, kita tidak akan pernah bisa
menyenangkan semua orang. Yang perlu kita lakukan adalah memposisikan diri
sebaik mungkin menjadi orang yang tepat di saat dan tempat yang tepat. Ketika berkusasa
perhatikan orang kecil dan minoritas. Obama adalah role model
sukses soal minoritas. Negro hitam, muslim, tetapi jadi pemimpin negara super power dunia. Pelajari juga
bagaimana cara Lee Kuan
Yew membangun Singapura yang merupakan
minoritas di tengah orang Melayu.
Dengan luas wilayah yang kecil, tetapi menjadi negara
dengan pendapatan per kapita terbesar di dunia. Ada juga Xi Jinping yang
membawa China membuktikan diri menjadi penguasa dunia dengan paham komunisnya. Prinsipnya yang
terkenal adalah ‘Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting
bisa menangkap tikus.’.
Role model kepemimpinan
terbaik pasca kenabian sudah dicontohkan dengan baik oleh Khulafaur Rasyidin. Tinggal bagaimana kita menyesuaikannya dengan kebutuhan
dan kondisi bangsa. Banyak contoh kepemimpinan serta sistem negara yang ada di
dunia. Seperti demokrasi bangsa kita hari ini yang justru jadi pemicu utama
perpecah belahan. Apakah masih
relevan saat ini? Atau kembalikan saja kepemimpinan
otoriter, bukankah saat
itu kita pernah berjaya? Lalu apakah konsep
negara Islam adalah yang terbaik? Buktinya hanya Turki dari sekian negara Islam
yang masuk menjadi anggota G-20. Bukankah
komunis yang justru mendominasi dunia saat ini? Kembali, semua pertanyaan tersebut haruslah disesuaikan
dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Merdeka
sejak dalam pikiran. -Pramoedya Ananta Toer
Kita boleh saja berpaham komunis, liberalis, atau
sosialis dalam pikiran. Tetapi tetap Pancasilais dalam tindakan. Dengan khidmat
mengikuti aturan negara dan tidak mengganggu hak-hak orang lain.”. Kalimat yang
paling aku sukai dari cerita Bang Ichsan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang
sering think out of the box dan mampu
melakukan perubahan. Di
MIT ada 2 prinsip yang dipegang teguh
mahasiswanya. If you want to change the world, make a new
technology. If you cannot make a new technology, make a new society. Choose it! Kalimat yang luar biasa menurutku untuk membentuk mindset seseorang.
Jadilah pemimpin yang rendah hati. Kita sering kali
mendengar kata koordinasi dan kolaborasi belakangan ini. Koordinasi dan kolaborasi adalah dua hal
yang paling mudah dikatakan, tapi sulit diimplementasikan. Setiap instansi
ataupun personal punya ego, gengsi, dan target masing-masing. Kemudian selalu konkret menjalankan visi misi yang
dimiliki. Vision is good, but how to implemented is great.
Golongan Karya
Bahasan akhir sampailah pada partai Golkar (Golongan
Karya). Partai yang mengantarkan Bang Ichsan di posisi anggota DPR RI. Beliau
cerita beberapa hal unik tentang partainya. Golkar yang sedari dulu selalu
mendominasi tiga besar parlemen memiliki rahasia. “Partai Golkar punya ciri khas tidak seperti partai lain. Tidak
punya basis massa, namun memiliki tokoh kunci yang bisa mengumpulkan massa dan
suara.”. Hal ini juga merupakan titik lemah partai di masa
mendatang. Dimana suara dipegang penuh oleh tokoh yang berpengaruh, bukan basis
massa. Tokoh tersebut rentan untuk diklaim atau dibajak partai lain dengan
tawaran yang menggiurkan. Dengan demikian, suara dan basis massa pun akan ikut
pindah.
Salutnya politisi partai Golkar paham betul cara
berpolitik. Mereka menghindari politik dua kaki. Banyak kader partai Golkar
yang merasa tidak sejalan dengan pengurus partai dan membuat gerakannya
sendiri. Daripada harus tetap bertahan mengikuti mekanisme partai tetapi
setengah hati dan malah menggerogoti dari dalam. Lihat saja partai baru yang
sekarang bermunculan seperti Gerindra, Hanura, dan Nasdem contohnya. Kaderisasi
yang kurang baik juga menjadi pekerjaan rumah partai berlogo beringin ini. Ini
yang sekarang sangat dikhawatirkan oleh pengurus partai.
Lebih lanjut cerita tentang pengurus, partai Golkar adalah partai oligarki. Sebelum reformasi, tiga pilar utama
Golkar dulu adalah dari
kalangan ABRI, politisi
murni, dan aktifis
partai. ABRI dan PNS sudah pasti dipengaruhi Golkar karena rezim
Orde Baru yang begitu lama sehingga cenderung mengakar. Politisi murni yang
dimaksud adalah tokoh yang memang memiliki kemampuan berpolitik sangat baik
sehingga bisa masuk partai sebagai andalan. Pasca reformasi dan pembaharuan
internal, kini yang tersisa
hanya aktifis partai.
Aktifis partai yang dimaksud adalah para pengurus yang
memang menjunjung tinggi nilai partai dan setia dengan alasan bertahan masing –
masing. Aktifis partai kini terbagi
menjadi tiga, yaitu darah biru atau AMPI (Anak Menantu Ponakan Istri), pengusaha, dan aktifis
sungguhan. Darah biru adalah mereka yang
mempunyai hubungan keluarga dengan para pendahulunya di partai Golkar. Seperti
anak yang mengikuti ayahnya, istri yang menggantikan suaminya, atau sanak
saudara lain. Ini juga menjadi salah satu titik lemah Golkar karena dalam
partainya sendiri sudah memelihara nepotisme. Pengusaha yang dimaksud adalah
mereka yang punya modal sosial finansial besar yang di era seperti ini bisa
sangat mempengaruhi apapun. Aktifis sungguhan sebagai contoh adalah mereka yang
memang punya basis massa dan memperjuangkan sesuatu hal untuk kepentingan orang
banyak.
Pesan
terakhir Bang Ichsan menutup diskusi sore hari itu; “Saya
dulu hanya anak seorang marbot masjid, ibu saya hanya mengurus anak,
keluarga, dan rumah tangga. Saya bisa jadi anggota DPR.
Kamu yang anak PNS bukan tidak mungkin menjadi seorang presiden. Jadikan
masalah hidupmu menjadi tantangan agar terus berkembang dan berpikir. Kita harus
terus berpikir mencari cara-cara baru menyelesaikannya. Selalu minta
ridho kedua orangtua, bapak dan ibu. Ibu terutama. Ridho
ibu untuk hidup, ridho ayah untuk rezeki. Kenapa ibu didahulukan dan diulang 3
kali untuk diutamakan. Karena selama kita hidup, pasti ada rezekinya. Uang
memang penting, tapi bukan segalanya. Makanlah untuk hidup, jangan hidup untuk
makan. Makanlah secukupnya. Selebihnya manfaatkanlah untuk orang lain yang
lebih membutuhkan.”.
![]() |
| Foto bersama mentor: Ichsan Firdaus |



Semoga bukunya dapat dikunyah,,,Hehehe
BalasHapus