Rekam Aksara


Mentoring Leader Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor Batch 2
Mentor: Ichsan Firdaus (Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Komisi IX Dapil Bogor)
Gedung Nusantara I Lantai 11 Ruang 1111
Senin, 23 Desember 2019. 14.30 – 17.00 WIB.

Prolog
20 hari sejak launching program Mentoring Leader HA IPB Batch 2, aku masih belum bertemu mentorku. Ada rasa iri saat membaca grup WA karena beberapa mentee sudah bertemu mentornya. Mereka saling berbagi notula ataupun memo dari hasil mentoring. Kemarin, di grup yang sama juga Pak Jamil Azzaini menanyakan siapa saja yang masih belum bertemu mentornya. Saat itu juga, hadir panitia yang menawarkan diri untuk direpotkan bilamana ada mentee yang kesulitan menghubungi mentor. Aku manfaatkan kesempatan tersebut untuk cerita kondisiku. Aku dan Safikri lebih tepatnya, kami berdua sekelompok berpasangan dengan mentor di bidang politik yakni Ichsan Firdaus. Komunikasi terakhir kami hanya pasca launching 3 Desember 2019 lalu. Setelah itu, kami segan menghubungi karena menduga kesibukan beliau.
Hari itu juga aku mendapat informasi bahwa mentor kami Pak Ichsan bersedia ditemui besok hari Senin, 23 Desember 2019 di tempat kerjanya di Gedung Nusantara Gedung DPR RI. Beliau mengundang kami ke kantornya untuk mentoring. Sayang sekali, Safikri partner mentee ku belum berkesempatan hadir karena posisinya sedang tidak di dekat Jakarta. Aku konfirmasi kabar tersebut langsung ke beliau. Kali ini dengan cepat direspon dan dipersilahkan untuk datang esok siang hari. Hari itu juga malam harinya aku segera pulang dari rumah orangtua di Garut, +/ 200 km dari Jakarta.
13.30 waktu yang ditentukan kemarin, beliau tidak kunjung memberi kabar. Aku memberanikan diri bertanya apakah hari ini jadi atau tidak. Beliau akhirnya membalas dan mempersilahkan untuk segera ke ruang kerjanya saja. Sempai di kantornya, aku mengurus administrasi dan menunggu konfirmasi karena cukup ketat untuk bisa masuk sebagai tamu. Sampai di ruang kerja beliau, ternyata aku sudah ditunggu. Ada rasa tidak enak karena saat itu juga ternyata ada tamu lain. “Gapapa, duduk sini gabung aja. Ini teman saya, sesama aktifis dulu.”. Kalimat pertama yang menjadi pemantik diskusi kami selanjutnya hari itu.

Kartu tanda pengenal untuk tamu ke Gedung Nusantara. Harus registrasi menggunakan identitas KTP.

Beliau memulai percakapan dengan menanyakan kabar, latar belakang, dan harapanku dalam program Mentoring Leader ini. ‘Gimana, apa yang mau kamu dapat? Cerita aja.”. Aku jawab dengan sangat hati – hati, karena takut menimbulkan kesan pertama yang tak baik. Kemudian beliau bertanya, “Apa cita-citamu?”. Aku jawab yang ini lebih percaya diri, “Jadi presiden, Pak.”. Beliau tersenyum, temannya yang ada disebelahku juga makin memperhatikan dan berkata “Menarik! Dulu cita-cita seperti ini diucapkan anak kecil, tapi sekarang ada yang mengucapkan di usia segini. Perlu kita arahkan ini.”.
“Baik, kalau begitu saya beri kamu tugas. Buatlah dua tulisan dengan minimal 5 halaman. Tulisan pertama ceritakan tentang mimpimu menjadi presiden dan visi besar tentang republik ini tahun 2045 di 100 tahun kemerdekaannya. Akan bagaimana bangsa ini kau bawa dan peran apa yang kau ambil 26 tahun kedepan. Tulisan kedua tentang bagaimana kamu mewujudkan mimpimu, langkah apa yang sudah dilakukan untuk mencapai mimpimu, apa yang akan kamu lakukan untuk mewujudkannya, kemudian bila mimpimu tidak terwujud apa rencana lainmu.”. Belum selesai mencatat, beliau melanjutkan “Dua minggu bisa selesai?”. “Siap!” Spontan aku menjawab.
Pertanyaan beliau berikutnya, “Kamu sekarang sibuk apa? Kerja dimana? Udah lulus kan?”. Aku ceritakan kesibukan dan pekerjaan saat ini, yaitu ikut membantu Gubernur Jawa Barat melalui program Patriot Desa untuk mendampingi desa tertinggal membentuk BUMDes. Tanpa menjawab, beliau mengambil sebuah buku yang masih tersegel dan memberikannya kepadaku, “Ini dibaca ya, tau kan Sofyan Sjaf. Di desa nanti sambal baca-baca terus tulis kalau ada ide pemikiran.” Buku yang diberikan berjudul Involusi Republik Merdesa karya Sofyan Sjaf cetakan IPB Press. Dari dua topik diatas, makin berkembanglah percakapan kami beberapa jam kedepan. Sangat menarik apa yang dibahas. Berikut akan coba aku bagi dalam beberapa sub topik.

INVOLUSI REPUBLIK MERDESA karya Sofyan Sjaf

Filosofi Anggrek
Ichsan Firdaus, sampai tingkat sekolah menengah tumbuh dan besar di kota Bekasi. Beliau memimpikan menjadi seorang anggota DPR sejak kecil. “Waktu itu SD kelas 6 naik bus dari Bekasi – Kalideres, ketika lewat depan Senayan saya berkata suatu hari akan kerja disana. Saya sampaikan hal itu kepada ibu saya.” kenangnya. 2014, Ichsan berhasil mewujudkan mimpi tersebut. Pertama kali saat dirinya mencalonkan diri menjadi anggota dewan, saat itu juga beliau langsung menang menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan yang sulit karena lawan politik yang berat.Di 2019 saya meraih suara tertinggi di dapil bahkan melebihi nomor urut 1, anak ketua umum saya sendiri yang mana dia tidak lolos.”.
Dalam proses mewujudkan mimpi tersebut, beliau sangat konsisten, istiqomah, dan fokus. Ketika SMA, oleh guru BP beliau diminta menggambarkan cita–citanya. Kemudian beliau menggambarkan dirinya bersama keluarga berlatar belakang Gedung DPR yang sejak kecil sering dilalui lengkap dengan burung garuda dan bendera merah putih. Ketika ditanya gurunya, apa cita-citanya, hari itu Ichsan Firdaus percaya diri menjawab “Saya ingin menjadi anggota DPR, Bu.”. Lanjut, beliau menceritakan awal mula bagaimana bisa menjadi seorang anggota DPR padahal sebelumnya sempat bekerja menjadi konsultan ISO. Namun kegigihannya mewujudkan mimpi, mengantarkannya kembali ke track yang benar.
“Saya dulu seorang staf ahli DPR RI, saya ikut pak Ade Komarudin (Akom) anggota dewan dari Partai Golkar. Saya dulu masuk Golkar karena sering membantu beliau.”. Salah satu filosofi hidup yang dipegang oleh Ichsan Firdaus adalah filosofi anggrek. “Meskipun hidup menempel pada inang pohon besar, tetapi bukanlah sebagai parasit atau benalu yang merugikan apalagi memalukan. Tetapi justru menjadi bunga yang menghiasi pohon, menarik minat banyak orang dan akhirnya banyak dicari orang. Anggrek bernilai jual tinggi. Anggrek sangat adaptif, ia tidak memilih inangnya untuk hidup. Dimanapun bisa tumbuh cantik bahkan tidak perlu dirawat sekalipun. Tetapi ingat, anggrek tidak boleh jatuh ke tanah karena akan cepat layu kemudian mati.”.
 Aku memaknai dalam filosofi yang diungkapkan kanda Ichsan Firdaus. Beliau kemudian lebih akrab kupanggil bang Ichsan karena kita ternyata berasal dari fakultas yang sama semasa di IPB dan berlatar belakang organisasi ekstra kampus yang sama juga. Budaya memanggil senior laki-laki yang lebih tua dengan sebutan ‘Bang’, beliau tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena justru merasa lebih muda. Dari filosofi tersebut aku menangkap maksud, bahwa kesuksesan beliau saat ini tidak terlepas dari seorang mentor. Seorang tokoh besar yang kemudian ia ikuti, dampingi, dan teladan dalam mewujudkan mimpinya. Role model yang bisa diakses dan memberi kesempatan untuk tumbuh. Hal inilah yang membuat beliau tertarik mendaftar sebagai mentor di program Mentoring Leader HA IPB. Beliau kini harus menjadi pohon inang tersebut dan mempersilahkan siapapun yang ingin belajar darinya menjadi anggrek yang kemudian akan siap dicari orang. “Pasti akan menjadi sebuah kebanggaan bagi seorang mentor ketika melihat mentee-nya berhasil.”.

Filosofi Cahaya
“Semua bermula dari tesis S2 saya yang membahas tentang Partai Golkar, yang kemudian menjadi branding diri saya. Saya juga dikenal sebagai ahli strategi politik. Saya aktif menulis dan membantu beliau (Pak Akom) menyiapkan pidato atau naskah lain. Kebiasaan menulis saya rawat sejak menjadi aktifis mahasiswa. Tulisan saya beberapa dimuat di media cetak nasional. Dari sana branding saya menguat.”. Beliau lalu mengkritik mahasiswa sekarang yang kurang banyak aktif menulis. “Jangan jadi salah satu dari masalah bangsa ini, minim literasi. Bacalah apapun yang kamu suka atau yang tersedia. Kemudian tuliskanlah pikiranmu. Lalu rajinlah berdiskusi agar dapat banyak masukan dan sudut pandang.”.
Kemampuan menulis Bang Ichsan dilatih sedari dulu, dimulai dari kebiasaannya membaca sejak remaja. Semasa sekolah menengah, setiap hari Bang Ichsan selalu membaca surat kabar harian Kompas seperti ada SOP-nya. “Saya mulai dari halaman 3 yang isinya politik dalam negeri, kemudian langsung lompat ke halaman 9 karena disana ada berita olahraga. Setiap hari Selasa juga saya beli majalah Hai seperti remaja pada umumnya agar tidak ketinggalan informasi.”
 Dari keahliannya menulis, Ichsan Firdaus makin banyak dikenal dan dibutuhkan orang. Ada momen lucu. Bang Ichsan satu waktu sengaja datang kerumah Pak Akom memakai lencana garuda (tanda anggota DPR). Saat itu Bang Ichsan masih sering diminta membantu Pak Akom menulis. Pak Akom bertanya, “Apa maksudmu pakai lencana itu kerumahku?”. “Maaf Bang, kita sekarang setara sama-sama anggota dewan. Abang lupa apa gimana?”. Mereka berdua tertawa dengan candaan itu. Sebegitu kuat branding dari Bang Ichsan sebagai staf ahlinya merupakan seorang aktifis yang pandai menulis di mata Pak Akom. Begitu juga senior lain yang pernah dibantunya atau hanya sekedar mendengar namanya atau mereka yang pernah membaca tulisannya.
Filosofi hidup lain yang dipegang oleh Bang Ichsan adalah filosofi cahaya dikutip dari sebuah pidato mantan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie; Jadilah cahaya, yang laron-laron saja membutuhkan sehingga akan selalu mendekat kepadanya, apalagi manusia. Namun ketika gelap bahkan bayangan pun takut pada kita. Dia tidak tampak dan tidak akan terlihat.”. Dari pernyataan diatas adalah bahwa Bang Ichsan orang yang memegang teguh integritasnya untuk selalu dibutuhkan orang. Beliau menjaga sekali kepercayaan orang kepadanya dan selalu membantu bila memang diperlukan.

Tentang Partai dan Politik
          Diskusi tema ini dimulai dari pertanyaan, Kamu mau jadi presiden jalur apa? Bagaimana caranya?”. Kemudian beliau menjelaskan beberapa jalur yang bisa ditempuh menjadi presiden. Ada dari kalangan aktifis, akademisi, militer, cendekiawan, dan politisi sejati. Belum selesai, beliau melanjutkan dengan pertanyaan “Memang kalau mau jadi presiden harus berpartai?”. Beliau urutkan presiden pertama sampai terakhir republik ini disertai kisah dibalik suksesnya mereka menjadi presiden. Soekarno jadi presiden karena dipercaya banyak tokoh lain karena habis – habisan berjuang menjadi aktifis pergerakan kemerdekaan. Soekarno tidak berpartai sebelum jadi presiden, tetapi membentuk partai setelah terpilih untuk melanggengkan kekuasaannya.
Soeharto menjadi presiden di tengah kemelut isu konspirasi global. Militer saat itu sangat kuat pengaruhnya di republik ini. Soeharto diperkuat oleh Golkar dari parlemen. Golkar menguasai seluruh ABRI dan PNS. Pembangunan di awal kepemimpinannya sangat baik dan terasa. Namun setelah tahun 1988, yang nampak justru Pak Harto yang korup. Power corruption is absolutely. Beliau berniat melanggengkan kuasanya dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keluarga Cendana hampir menguasai seluruh sektor republik ini di akhir masa jabatannya.
Habibie, akademisi yang juga kader partai Golkar diminta menuntaskan berbagai masalah yang ditinggalkan pendahulunya. Gus Dur, ulama besar yang dianggap bisa menjadi penengah dari berbagai konflik yang timbul pasca reformasi dan krisis moneter. Tokoh sentral organisasi masyarakat (ormas) terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) berpolitik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sosoknya sukses mengakar rumput di masyarakat bawah terkhusus umat Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia.
Megawati Soekarnoputri, yang konsisten menjadi politikus meneruskan perjuangan ayahnya mengawal demokrasi dan menjadi ketua umum PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Partai pemenang dua pemilu edisi terakhir. Sukses membersamai wong cilik sehingga siapapun kadernya di dapil manapun pasti menang. SBY, militer yang pandai berpolitik. Beliau belajar sangat baik dari seniornya dan dari posisi kursi menteri yang pernah didudukinya bidang politik, hukum, dan keamanan negara. Kini beliau susah payah membangun partai Demokrat untuk bisa bersaing di papan atas partai politik setiap pemilu (pemilihan umum). Semua anaknya didorong untuk bisa meneruskan kiprahnya.
Terakhir Jokowi, Bang Ichsan beropini kalau ini adalah kecelakaan sejarah. Bukan seorang presiden yang by design dan bisa menurunkan kepemimpinannya. Beberapa anaknya mulai terjun ke dunia politik, akankah berhasil atau tidak kita tunggu saja. Jokowi sebelumnya tidak berlatar belakang politisi meskipun sebelumnya menang di pemilihan kepala daerah. Jokowi dianggap orang baik yang bisa mengakomodir kepentingan banyak orang. Mental pengusaha kayunya melekat kuat. Sebagai kader PDI-P, Jokowi benar – benar sukses menjadi jelmaan wong cilik yang berhasil memimpin republik dengan gaya kekiniannya.
Partai hanya kendaraan politik saja sebagai prasayarat ikut pemilihan. Selebihnya tetap pada basis massa yang dipunya. Basis massa tergantung akan individu yang dicalonkan. Di beberapa daerah banyak kepala daerah yang mencalonkan diri dari jalur independen. Memang kebanyakan kalah. Menurutku ini akan jadi tren. Dimana orang tidak lagi melihat latar belakang partai, tetapi lebih kepada siapa orangnya dan gagasan apa yang dibawa serta integritasnya. Sangat penting memiliki sebuah integritas bagi seseorang apalagi politisi, agar ia menjadi orang yang dicari dan selalu dipercaya. Integritas juga modal utama dalam hidup. Politisi boleh jadi orang pragmatis tapi tidak oportunis.

Dalam hidup kita hanya mati sekali, dalam politik kita bisa mati berkali – kali dan hidup lagi.
– Winston Churcill

Banyak politisi yang dikhianati dan disakiti tetapi mereka bisa bangkit lagi. Mahatir Muhammad, keluar dari penjara kini terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia dan merupakan pimpinan negara tertua di dunia. Ini membuktikan bahwa selama kita berintegritas. Kepercayaan dan dukungan publik tidak akan hilang begitu saja.
Politik penuh dengan simbol. Harus ada yang orang lain lihat dan rasakan dari hasil kerja kita. Legacy sangat penting bagi seorang politisi. Apa yang telah kita perbuat untuk orang lain yang menjadikan kita dikenang orang. Peninggalan haruslah suatu karya orisinil yang bermanfaat dan longlastBang Ichsan kini memiliki 17 desa binaan di dapilnya di Kabupaten Bogor. Hingga tanggal 10 Januari 2019 agenda DPR RI adalah reses, turun ke dapil untuk menyerap aspirasi masyarakat.
Bang Ichsan mendorong saya melakukan akselerasi dalam mewujudkan mimpi. Beliau ceritakan kisah kisah pemuda yang sukses jadi pemimpin dunia seperti Tony Blair, JF Kennedy, dan Soekarno. Program Mentoring Leader diharapkan mampu memotong lag sekitar 20 tahun. Mentor mampu memberikan arahan serta pengalamannya sehingga mentee dapat melakukan pertumbuhan eksponensial. Pilihan jalur apa yang dipakai untuk jadi presiden harus mulai ditentukan sedini mungkin. Agar kedepan jalur tersebut bisa lebih cepat diakses dan diperlebar.
Bidang politik bukanlah sebuah pilihan yang salah, namun harus dipastikan benar caranya. Politik bukan berarti menghalalkan segala cara untuk memenangkan jabatan. Politik justru penuh kebaikan, bagaimana kita memanfaatkan amanah dan jabatan. Banyak hal kebaikan yang tidak semua orang bisa lakukan tanpa jabatan. Politik memang dekat pengkhianatan, tetapi untuk orang yang berintegritas hal tersebut tidak akan pernah dilakukan.
Ketika kita berkuasa, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Yang perlu kita lakukan adalah memposisikan diri sebaik mungkin menjadi orang yang tepat di saat dan tempat yang tepat. Ketika berkusasa perhatikan orang kecil dan minoritas. Obama adalah role model sukses soal minoritas. Negro hitam, muslim, tetapi jadi pemimpin negara super power dunia. Pelajari juga bagaimana cara Lee Kuan Yew membangun Singapura yang merupakan minoritas di tengah orang Melayu. Dengan luas wilayah yang kecil, tetapi menjadi negara dengan pendapatan per kapita terbesar di dunia. Ada juga Xi Jinping yang membawa China membuktikan diri menjadi penguasa dunia dengan paham komunisnya. Prinsipnya yang terkenal adalah ‘Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.’.
Role model kepemimpinan terbaik pasca kenabian sudah dicontohkan dengan baik oleh Khulafaur Rasyidin. Tinggal bagaimana kita menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kondisi bangsa. Banyak contoh kepemimpinan serta sistem negara yang ada di dunia. Seperti demokrasi bangsa kita hari ini yang justru jadi pemicu utama perpecah belahan. Apakah masih relevan saat ini? Atau kembalikan saja kepemimpinan otoriter, bukankah saat itu kita pernah berjaya? Lalu apakah konsep negara Islam adalah yang terbaik? Buktinya hanya Turki dari sekian negara Islam yang masuk menjadi anggota G-20. Bukankah komunis yang justru mendominasi dunia saat ini? Kembali, semua pertanyaan tersebut haruslah disesuaikan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Merdeka sejak dalam pikiran. -Pramoedya Ananta Toer

Kita boleh saja berpaham komunis, liberalis, atau sosialis dalam pikiran. Tetapi tetap Pancasilais dalam tindakan. Dengan khidmat mengikuti aturan negara dan tidak mengganggu hak-hak orang lain.”. Kalimat yang paling aku sukai dari cerita Bang Ichsan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang sering think out of the box dan mampu melakukan perubahan. Di MIT ada 2 prinsip yang dipegang teguh mahasiswanya. If you want to change the world, make a new technology. If you cannot make a new technology, make a new society. Choose it! Kalimat yang luar biasa menurutku untuk membentuk mindset seseorang.
Jadilah pemimpin yang rendah hati. Kita sering kali mendengar kata koordinasi dan kolaborasi belakangan ini. Koordinasi dan kolaborasi adalah dua hal yang paling mudah dikatakan, tapi sulit diimplementasikan. Setiap instansi ataupun personal punya ego, gengsi, dan target masing-masing. Kemudian selalu konkret menjalankan visi misi yang dimiliki. Vision is good, but how to implemented is great.

Golongan Karya
Bahasan akhir sampailah pada partai Golkar (Golongan Karya). Partai yang mengantarkan Bang Ichsan di posisi anggota DPR RI. Beliau cerita beberapa hal unik tentang partainya. Golkar yang sedari dulu selalu mendominasi tiga besar parlemen memiliki rahasia. “Partai Golkar punya ciri khas tidak seperti partai lain. Tidak punya basis massa, namun memiliki tokoh kunci yang bisa mengumpulkan massa dan suara.”. Hal ini juga merupakan titik lemah partai di masa mendatang. Dimana suara dipegang penuh oleh tokoh yang berpengaruh, bukan basis massa. Tokoh tersebut rentan untuk diklaim atau dibajak partai lain dengan tawaran yang menggiurkan. Dengan demikian, suara dan basis massa pun akan ikut pindah.
Salutnya politisi partai Golkar paham betul cara berpolitik. Mereka menghindari politik dua kaki. Banyak kader partai Golkar yang merasa tidak sejalan dengan pengurus partai dan membuat gerakannya sendiri. Daripada harus tetap bertahan mengikuti mekanisme partai tetapi setengah hati dan malah menggerogoti dari dalam. Lihat saja partai baru yang sekarang bermunculan seperti Gerindra, Hanura, dan Nasdem contohnya. Kaderisasi yang kurang baik juga menjadi pekerjaan rumah partai berlogo beringin ini. Ini yang sekarang sangat dikhawatirkan oleh pengurus partai.
Lebih lanjut cerita tentang pengurus, partai Golkar adalah partai oligarki. Sebelum reformasi, tiga pilar utama Golkar dulu adalah dari kalangan ABRI, politisi murni, dan aktifis partai. ABRI dan PNS sudah pasti dipengaruhi Golkar karena rezim Orde Baru yang begitu lama sehingga cenderung mengakar. Politisi murni yang dimaksud adalah tokoh yang memang memiliki kemampuan berpolitik sangat baik sehingga bisa masuk partai sebagai andalan. Pasca reformasi dan pembaharuan internal, kini yang tersisa hanya aktifis partai.
Aktifis partai yang dimaksud adalah para pengurus yang memang menjunjung tinggi nilai partai dan setia dengan alasan bertahan masing – masing. Aktifis partai kini terbagi menjadi tiga, yaitu darah biru atau AMPI (Anak Menantu Ponakan Istri), pengusaha, dan aktifis sungguhan. Darah biru adalah mereka yang mempunyai hubungan keluarga dengan para pendahulunya di partai Golkar. Seperti anak yang mengikuti ayahnya, istri yang menggantikan suaminya, atau sanak saudara lain. Ini juga menjadi salah satu titik lemah Golkar karena dalam partainya sendiri sudah memelihara nepotisme. Pengusaha yang dimaksud adalah mereka yang punya modal sosial finansial besar yang di era seperti ini bisa sangat mempengaruhi apapun. Aktifis sungguhan sebagai contoh adalah mereka yang memang punya basis massa dan memperjuangkan sesuatu hal untuk kepentingan orang banyak.

            Pesan terakhir Bang Ichsan menutup diskusi sore hari itu; “Saya dulu hanya anak seorang marbot masjid, ibu saya hanya mengurus anak, keluarga, dan rumah tangga. Saya bisa jadi anggota DPR. Kamu yang anak PNS bukan tidak mungkin menjadi seorang presiden. Jadikan masalah hidupmu menjadi tantangan agar terus berkembang dan berpikir. Kita harus terus berpikir mencari cara-cara baru menyelesaikannya. Selalu minta ridho kedua orangtua, bapak dan ibu. Ibu terutama. Ridho ibu untuk hidup, ridho ayah untuk rezeki. Kenapa ibu didahulukan dan diulang 3 kali untuk diutamakan. Karena selama kita hidup, pasti ada rezekinya. Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Makanlah untuk hidup, jangan hidup untuk makan. Makanlah secukupnya. Selebihnya manfaatkanlah untuk orang lain yang lebih membutuhkan.”.

Foto bersama mentor: Ichsan Firdaus

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa