Investasi Bambu, Mencegah Banjir Tahunan Jakarta
Memasuki
awal tahun baru 2018 di bulan Januari yang masuk kategori bulan basah atau
bagian dari musim penghujan, menimbulkan kekhawatiran akan datangnya banjir
tahunan seperti tahun-tahun sebelumnya. Apalagi khususnya warga Ibu kota
Jakarta yang dipimpin gubernur baru belum tampak keseriusannya untuk mencegah
atau menanggulangi dampak atau risiko bila banjir benar-benar terjadi lagi.
Sudah menjadi rahasia umum salah satu penyebab terjadinya banjir
di ibu kota adalah luapan dari aliran utama sungai Ciliwung yang membelah kota
megapolitan tersebut. Berbagai polemik sungai tersebut dari hulu hingga hilir
bila dihitung akan sangat beranak-pinak dan saling kait-mengait. Mulai dari
alih fungsi lahan di sekitar daerah hulu, pendangkalan badan sungai,
pemanfaatan berlebih, dan pembangunan pemukiman di lokasi yang tidak semestinya
(pinggir sungai), haruslah menjadi musuh bersama semua pihak tidak dititik
beratkan hanya kepada pemerintah. Perlu adanya keinginan untuk saling membantu
agar bencana yang disebabkan prilaku manusiawi ini bisa kita mitigasi. Kerja
sama antarelemen dari aparat pemerintahan, LSM, dan warga sekitar perlu
dikoordinasikan sebaik mungkin.
Salah satu strateginya adalah kegiatan untuk melakukan perawatan
serta menjaga lingkungan tetap baik dan kondusif. DAS Ciliwung dikenal sangat
fenomenal, indikasi bencana banjir daerah hilir yang terjadi beberapa kali
dalam beberapa tahun terakhir ini maupun erosi di beberapa bagian hulu
merupakan salah satu “ulah” aliran sungai Ciliwung. Kerusakan aliran (bagian
bantaran) dan daerah aliran sungai Ciliwung sebenarnya akibat dampak dari
kegiatan manusia yang hidup di DAS tersebut.
Kebijakan yang dianggap tidak pro-lingkungan disinyalir juga
menjadi penyebab degradasi lingkungan DAS Ciliwung. Kebijakan tata ruang
terutama bagian hulu DAS Ciliwung yang tidak dilaksanakan secara konsisten
semakin menurunkan kualitas lingkungan DAS Ciliwung. Perubahan lahan dari
kawasan konservasi untuk kawasan pemukiman di kawasan puncak, meningkatkan
aliran permukaan sampai ke badan sungai, sehingga secara otomatis
kemampuan badan sungai menampung aliran permukaan juga akan semakin kecil, dan
akhirnya berdampak pada banjir dikawasan hilir. Selain beban aliran permukaan
yang semakin besar, aliran sungai Ciliwung juga terbebani oleh limbah industri
di bagian segmen tengah DAS serta limbah domestik dari masyarakat yang tinggal
sepanjang aliran sungai Ciliwung.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung memiliki nilai sangat
strategis karena melintasi dua provinsi, yaitu Jawa Barat yang meliputi
Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok, di bagian hulu dan tengah serta
Jakarta di bagian hilir. Kegiatan pembangunan yang sangat cepat berpengaruh
terhadap pola pemanfaatan lahan bukan hanya pada bagian hilir, tetapi juga pada
bagian hulu dan tengah.
Di samping perkembangan dan kemajuan yang demikian cepat, DAS
Ciliwung kini menjadi sorotan banyak pihak karena dianggap sebagai penyebab
terjadinya banjir dengan tingkat kerugian yang cenderung meningkat setiap
tahunnya. DAS Ciliwung dengan luas total mencapai hampir 39.000 ha, dan 29.000
ha bagiannya ada di Kabupaten Bogor. Tutupan hutan berupa hamparan yang tersisa
hanya 9,2%, terletak di bagian hulu, yaitu kawasan Puncak, sangat kecil dan
berpotensi berkurang. Pada periode tahun 2000-2009 tutupan hutan yang musnah di
DAS Ciliwung mendekati 5.000 ha, sedikit lebih luas daripada Kota Sukabumi.
Degradasi lahan di Indonesia, khususnya di DAS pada bagian
hulu dan bagian hilir, lajunya terus meningkat bahkan terkesan tidak
terkendali, salah satunya kawasan sungai Ciliwung. Hal tersebut berdampak
terhadap rusaknya tatanan siklus hidrologi. Sehingga ketika memasuki musim
penghujan akan mengakibatkan sering terjadinya banjir, sedangkan ketika musim
kemarau terjadi krisis air. Perlu diketahui bahwa tindakan konservasi alam
dalam rangka pemulihan hutan dan lahan serta fungsi DAS dengan menggunakan
tanaman kayu sangat mahal dan membutuhkan perawatan maupun waktu
yang lama. Menyikapi kondisi demikian, pemerintah perlu melakukan kebijakan
jangka pendek, langkah bijaksana yang dapat diambil untuk melindungi DAS adalah
dengan memanfaatkan tanaman bambu sebagai tanaman konservasi.
Pengelolaan DAS pada dasarnya ditujukan untuk terwujudnya
kondisi yang optimal dari sumber daya vegetasi, tanah dan air sehingga mampu
memberi manfaat secara maksimal dan berkesinambungan bagi kesejahteraan
manusia. DAS didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk
dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang
diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air,
ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih,
serta pengelolaan air limbah. Selain itu memperoleh manfaat produksi dan jasa
tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumber daya air dan tanah, yang dalam
hal ini termasuk identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air,
dan keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu DAS.
Berbagai manfaat yang didapatkan karena kondisi disekitar DAS
masih hijau, itu tercapai salah satunya melalui tertanamnya pohon bambu yang
mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat.
Karakteristik perakaran bambu memungkinkan tanaman ini menjaga sistem
hidrologis sebagai pengikat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai
tanaman konservasi tersebut.
Masyarakat yang berada dalam tingkat persaingan tinggi dalam
memperoleh nafkah cenderung akan melahirkan masyarakat yang sangat rasional.
Kerangka budaya rasional dalam hal ini merupakan implikasi dari orientasi
masyarakat yang seluruhnya ditujukan untuk kepentingan ekonomi, sehingga
semuanya akan dihitung berdasarkan nilai-nilai untung dan rugi. Penduduk yang
tinggal di wilayah bantaran sungai Ciliwung sebagian besar merupakan masyarakat
rasional yang sangat berorientasi pada ekonomi terutama untuk pemenuhan
konsumsi keluarga.
Masyarakat dalam DAS masih ditempatkan sebagai objek dan bukan
subjek pembangunan. Manfaat pembangunan DAS lebih banyak dinikmati oleh para
elite tertentu dan belum terdistribusi secara merata. Masyarakat belum mampu
untuk berpartisipasi secara nyata dalam proses pembangunan. Masyarakat masih
menjadi bagian terpisah (eksternal) dari ekosistem DAS.
Rusaknya DAS menjadi salah satu permasalahan bagi
masyarakat yang hidup di sekitar DAS Ciliwung, oleh sebab itu penanaman pohon
sangat diperlukan untuk dapat mencegah banjir dan erosi daerah hulu yang
terjadi, program bamboos in action dinilai
sangat sesuai diterapkan di sekitar sungai Ciliwung, dengan dibantu oleh
masyarakat secara langsung, baik dari perangat desa, karang taruna, PKK maupun
Posdaya. Mayarakat dapat bersama-sama menjalankan gerakan penanaman bambu agar
berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan untuk mencegah kerusakan
ekosistem lingkungan sekitar DAS.
Pada akhirnya, ketika seluruh manusia sudah saling terlibat dan
merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah, Tuhan akan
menilainya. Hingga akhirnya bencana yang seharusnya ditimpakan ke kita sebagai
pengingat, akan ditundanya dan diberikan kembali bila kita lalai atau tidak
konsisten dalam berbuat kebaikan.
Referensi
Erizal. 1997. Karakteristik Pertumbuhan Keanekaragaman Jenis
Bambu Di Arboretum IPB. [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor.
Nurlita AI. 2012.
Identifikasi aktinomiset endofit asal tanaman obat berdasarkan 16S rRNA
[skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Tan RX, Zou WX. 2001. Endophytes:
A rich source of functional metabolites. Nat Prod Rep 18:448-459.
Whitman WB. 2012. Bergey
Manual of Systematic Bacteriology “Ed ke-2”. Goodfellow M, Kampfer
P, Busse HJ, Trujillo ME, Suzuki K, Ludwig W, Whitman WB. Volume 5. The
Actinobacteria, Part A. London: Springer Publishing.


Komentar
Posting Komentar