Aku dan Persib [5] : Totalitas dan Fanatisme


#AwayDay
Menjelang pertandingan semifinal Indonesia Super League (ISL) 2014 saat itu, Bobotoh dilarang memberikan dukungan secara langsung saat Persib bermain di luar kandang oleh PT. Liga karena supporter Persib dianggap melakukan pelanggaran di pertandingan sebelumnya. Oleh karena itu Ridwan Kamil mengajak Bobotoh untuk menyiasati hukuman tersebut dengan bertelanjang dada, melepaskan segala macam atribut yang mewakili kecintaan mereka terhadap Persib. "Kita simpan semuanya di dalam dada," barangkali seperti itulah makna aksi Ridwan Kamil dan para bobotoh tersebut.

Mengetahui tim kesayangannya melaju ke final, semakin banyak Bobotoh yang berdatangan ke Jakabaring. Mereka tak keberatan tak beratribut. Sudah 19 tahun mereka menanti gelar juara. Ketika ada tanda-tanda besar bahwa penantian tersebut akan segera berakhir, mereka akan melakukan apa saja agar dapat terlibat di dalamnya. Maka, pada pertandingan final melawan Persipura, Jakabaring dipenuhi oleh puluhan ribu orang yang "berhati biru", yang akan mendukung Persib dengan segenap jiwa dan raganya.

Away day adalah sebuah tagar yang selalu digunakan ketika Persib harus bertandang ke markas lawan mainnya. Away day juga berarti bahwa Bobotoh harus ikut bertandang. Bertandangnya bobotoh selalu menjadi perhatian bagi media dan seluruh jajaran apparat keamanan. Karena harus dicermati daerah tujuan tersebut bukanlah sebuah daerah konflik supporter atau yang didalamnya terdapat rival dari bobotoh sendiri.


“Lebih dari 100 Bis Berarak ke Jakarta,” tulis Pikiran Rayat, salah satu surat kabar terbesar di Jawa Barat, menjelang pertandingan final Perserikatan 1986 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, antara Persib Bandung melawan Perseman Manokwari.

Atmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta ketika final Piala Presiden 2015.

Away day sudah sangat sejak lama dikenal bobotoh. Mungkin ilustrasi diatas salah satu yang terhebat sebelum 2015 lalu, bobotoh kembali menginvasi dan membirukan Jakarta. Persis seperti yang juga pernah dilakukan saudara tuanya, Bonek Mania Persebaya. Lain cerita dengan final ISL 2014 yang harus diselenggarakan di Palembang. Bobotoh harus rela menyebrang ke pulau Sumatra. Para bobotoh sendiri datang ke Palembang dengan berbagai macam perjuangan. Twitter, salah satu media sosial, saat itu dipenuhi oleh kicauan para bobotoh yang sedang mencari modal. Motor, alat-alat elektronik, hingga koleksi buku kesayangan mereka tawarkan agar bisa datang langsung ke Palembang.

Dalam setiap pertandingannya entah berapa banyak anak bolos sekolah, pegawai cuti kerja, dan biaya lainnya yang harus dikeluarkan. Semua semata hanya untuk mendukung tim kesayangan agar bisa meraih kemenangan dan mengawal mereka yang dianggap pahlawan. Sebuah kajian yang cukup menarik untuk dibahas sendiri tentang perekonomian yang ada ketika Persib bertanding. Khususnya bagi kawasan venue pertandingan tersebut.

Diaspora bobotoh adalah sebuah bentuk pangumbaraan ke seluruh dunia. Bobotoh yang berdiaspora sangat membantu menyebarluaskan kecintaan atas Persib. Hampir di seluruh pertandingan Persib, para pemain selalu disambut hangat oleh para bobotoh di kota pertandingan. Begitu pula dengan para supporter yang rela jauh – jauh away day, tidak jarang juga difasilitasi oleh para bobotoh yang berdiaspora disana. Bentuk rasa cinta yang tidak rela Persib berjuang sendiri. Bobotoh akan selalu berusaha memberikan rasa nyaman dalam bertanding seakan dirumah sendiri yang harapannya bisa fokeus memenangkan pertandingan. Hal ini mengartikan bahwa bobotoh terdapat dimana saja, tidak mengenal batas waktu dan wilayah. Dimanapun mereka tetaplah bobotoh yang berhati biru. Ini tentang komitmen. Sebuah pengawalan atas mereka yang dianggap pahlawan dan kebanggan.

Saat final Perserikatan di Senayan (Stadion Utama Gelora Bung Karno) yang mempertemukan Persib dan PSMS Medan tahun 1983, misalnya, mobilisasi lebih dari 100.000 orang menuju Jakarta serempak dilakukan di banyak daerah di Jabar. Bahkan, Gubernur Aang Kunaifi meminta aktivitas di Jawa Barat saat pertandingan final dihentikan sementara guna memberikan dukungan kepada Persib. Meski Persib kalah 2-3 dari PSMS Medan lewat adu penalti, lolosnya Persib ke partai puncak itu diapresiasi pencinta sepak bola di Jawa Barat karena mereka bermaterikan pemain lokal. Bahkan, permainan Persib di laga itu memberikan rasa bangga bagi masyarakat Jawa Barat.

Pada kompetisi perserikatan berikutnya, demam Persib makin menjangkiti warga Jawa Barat. Pertandingan final yang digelar di Senayan mencatat rekor penonton terbesar dalam sejarah sepak bola nasional. Saat itu, stadion disesaki lebih dari 150.000 penonton, sebagian besar dari bobotoh Persib. Padahal, kapasitas Senayan hanya mampu menampung 120.000 penonton. Dalam buku Asian footbal club 1987, pertandingan itu tercatat memecahkan rekor dunia sebagai pertandingan amatir dengan jumlah penonton terbanyak. Meski Persib kembali kalah 3-4 melalui adu penalti dari PSMS, sambutan bobotoh kepada tim kesayangannya tak pernah surut.

Puncaknya saat Persib kembali tampil di laga final kompetisi perserikatan pada 11 Maret 1986 di Senayan. Kali ini menghadapi Perseman Manokwari, Papua. Lebih dari 100.000 bobotoh dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka, Cianjur, Kuningan, Cirebon, dan kota lainnya di Jawa Barat berbondong-bondong ke Jakarta. Dalam pertandingan final itu, Persib unggul 1-0 dan meraih juara perserikatan untuk ketiga kalinya.

Prestasi Persib yang relatif stabil pada dekade 1980-an hingga 1990-an, tak pelak, membuat publik sepak bola Jawa Barat tak bisa berpaling lagi dari Persib. Di mana pun Persib bertanding, ribuan bobotoh selalu menonton dan mendukungnya. Bahkan, jika main di kandang sendiri, bobotoh menyesaki stadion untuk mendukung tim kebanggaannya.
--

Belajar dari Sejarah
Menurut Jared Diamond dalam buku Collapse, bangsa Viking punah bukan karena kalah perang dengan suku Inuit, atau karena teknologi mereka yang lebih inferior. Bangsa Viking justru datang dengan membawa ternak-ternak seperti sapi dan kambing yang memberi mereka pilihan makanan lebih beragam dibanding suku Inuit. Sebagai pendatang dari Skandinavia (terutama Norwegia), bangsa Viking tidak hanya datang secara fisik, tetapi membawa serta budaya dan cara pikir nenek moyang mereka. Karena keterasingan mereka dan terkenang sangat konservatif, budaya tersebut mencengkram lebih kuat dan menolak budaya lain secara keras. Akibat cara pikir tersebut, nilai-nilai yang membawa mereka sukses di tanah leluhur (dan berlanjut ke penaklukan Inggris dan Irlandia), dianggap sebagai kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Tapi nyatanya tidak demikian di Greenland.

Pada awal mereka mendirikan pemukiman, kondisi cuacanya memang tidak berbeda dengan Skandinavia, yaitu cukup hangat. Mereka juga masih mampu menjaga hubungan dengan Skandinavia lewat kapal – kapal dagang yang datang secara teratur. Tetapi saat iklim berubah, cara hidup dan cara pikir yang mereka bawa dari Skandinavia justu mencelakakan. Kapal-kapal yang sebelumnya datang teratur dari Norwegia juga menghentikan perjalanan karena cuaca buruk. Bangsa Viking sebagaimana masyarakat Eropa Daratan kala itu yang mayoritas beragama Kristen, dengan sumber daya terbatas, sangat memprioritaskan pembangunan dan perawatan gereja (dan kehidupan para pendetanya). Kapal dagang yang merapat kebanyakan membawa barang – barang untuk keperluan gereja, dan bukannya untuk kebutuhan rakyat banyak seperti besi atau senjata (untuk berburu atau mempertahankan diri bila diserang suku Inuit).

Gaya hidup bangsa ini juga sangat Euro-sentris. Fashion yang sedang in di Eropa pun diikuti. Tidak heran, meski hidup di suhu yang dinginnya menusuk, kaum wanitanya tetap lebih suka memakai gaun panjang dan para pria menggunakan jas. Sementara suku Inuit yang tidak punya selera fashion sama sekali, dengan efisien memakai pakaian yang paling cocok untuk mengatasi musim dingin yaitu baju dari kulit binatang.

Cara pikir mereka yang konservatif juga membuat suku Viking menolak belajar dari suku Inuit yang menurut mereka barbar dan derajatnya lebih rendah. Akibatnya, cara berburu anjing laut dan ikan paus yang dikembangkan oleh suku Inuit gagal mereka pelajari. Inuit dipandang sebagai musuh (atau setidaknya kaum yang lebih rendah), dan bukan rekan yang bisa diajak bekerja sama.


Kunjungan kenegaraan Raja dan Ratu dari Kerajaan Swedia (salah satu negara di Skandinavia, asal bangsa Viking) ke Indonesia yang mampir ke Kota Bandung bertemu dengan beberapa anggota Viking Persib Fans Club didampingi Kang Aher (Gubernur Jawa Barat), Kang Emil (Walikota Bandung), dan Wa Haji Umuh (Manajer Persib Bandung).

--
Budaya dan nilai-nilai yang kita bawa memang mempermudah hidup. Kita bisa menjalani hidup sehari-hari tanpa perlu pusing apa yang harus dilakukan karena sudah diprogram otomatis oleh nilai-nilai budaya dan cara pikir yang sudah kita pelajari bertahun-tahun. Namun seiring berjalannya waktu dan terus berjalannya perkembangan zaman seharusnya juga kita mengimbangi dengan perubahan. Kita tidak akan pernah bisa bertahan dengan suatu pemikiran lama yang menahun dan tidak mau berganti arah. Lihat saja bagaimana perusahaan besar seperti Nokia, Blackberry, dan 7Eleven yang kini kalah bersaing dengan brand lain. Hal itu terjadi karena mereka terlalu betah tinggal di zona nyaman nya dan tidak mempersiapkan diri untuk bersaing dengan para rival yang ternyata sudah jauh lebih maju.

Apa yang berbeda dengan bobotoh dulu dan bobotoh sekarang? Penyair Sunda Ami Raksanagara pernah menulis di Majalah Mangle edisi 2366 mengatakan bahwa antusiasme bobotoh pada Persib tak pernah berkurang dari waktu ke waktu, dan hanya cara para bobotoh mengekspresikannya saja yang berbeda. Viking sebagai kelompok supporter terbesar haruslah menjadi contoh dan garda terdepan dalam memberi teladan. Jangan lagi menebar kebencian atas supporter klub manapun. Viking harus mampu menampilkan banyak hal positif tentang arti totalitas dan fanatisme, pengkhidmatan atas tim yang didukung juga pemain yang merupakan elemen terpenting.

Bobotoh pada umumnya harus lebih kooperatif. Menjadi supporter santun yang menguntungkan Persib, bukan malah merugikan. Cukup sudah sanksi selama ini yang sudah menyentuh angka 150 juta dan menjadi tim terrugi dalam kompetisi. Kritik membangun harus terus diberikan, koreksi dalam segi apapun segera disampaikan, tapi tetap dengan adat dan budaya yang kita anut bersama.

No flare! No racist!  No calo! No illegal ticket!

Jangan lagi ada korban jiwa, sepakbola hanya untuk hiburan semata. Tidak ada harta ataupun kemenangan yang lebih berharga bagi sebuah nyawa. Sudah cukup. Fanatisme boleh, tapi jangan sampai membutakan. Pertengkaran yang terjadi dan tertanam dalam sanubari ini bukanlah sebuah keharusan yang dijalani. Ego dan gengsi semata sudah terlalu banyak dan cukup mengorbankan banyak hal. Entah berapa luka yang harus diseka baik dalam maupun luar fisik. Sudah cukup perseteruan yang dipicu media sosial harus diselesaikan dengan kepala dingin dan hati terbuka. Bersama menatap sepakbola Indonesia yang lebih baik dan modern, serta mendunia.


Poster film yang kontroversial karena menceritakan tentang perseteruan kelompok suporter Persib (Viking) dan Persija (The Jak).

Selamat jalan ksatria! Hatur nuhun Ricko!


Almarhum Ricko Andrean, bobotoh sejati sampai mati. Anggota Viking Frontline Boys. Korban amukan salah sasaran bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) yang mencoba menyelamatkan oknum The Jak yang menyusup dan dipukuli.

--


Sumber referensi :
Gambar di google

Rekomendasi bacaan lanjutan :
Buku “Persib ; Menuju Klub Sepakbola Modern Indonesia”
Buku “Selangkah Lebih Maju” karya Miljan Radovic
Buku ”Hati Biru” karya Vladimir Vujovic

Komentar

  1. Telah hadir di bolavita deposit via pulsa telkomsel dan XL
    dan banyak bonus2 mendarik lain nya min depo 25 rbu bisa jadi jutawan
    ayo segera daftar dan buktikan sendiri ayam bangkok vietnam

    info lbh lanjut:

    whatup : +62812-2222-995

    BalasHapus
  2. Aturan Taruhan Permainan Bingo Rio Ayo Daftar Sekarang Juga Dan Dapatkan Bonus Berlimpah !!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa