Kenduri Kemerdekaan
Sejatinya
merdeka adalah terbebas dari apa yang diinginkan. Tidak diperbudak nafsu
ataupun dibawah pengaruh untuk berjuang. Kemerdekaan bukan direbut, tetapi
diciptakan. Diciptakan dari hasil perjuangan para pahlawan yang dengan lantang
dibacakan oleh Bung Soekarno – Hatta di jalan Pegangsaan. Selayaknya kenduri,
sebuah perayaan syukur atas karunia yang diberikan Sang Pencipta haruslah
berbahagia dan bermakna.
Salah
satu pertunjukkan wajib di perayaan kemerdekaan di negeri ini adalah remisi.
Pengurangan masa tahanan rutinan tahunan yang diberikan orang nomor satu di
negeri ini, secara fungsi. Setuju saja bila memang dikhususkan untuk orang yang
masih benar – benar benar dan mereka
yang pernah didakwa salah bukan karena kesalahannya.
Agustusan
tahun ini, tontonan kita haruslah menjadi salah satu tuntunan. Menghadirkan
para anak bangsa yang mendunia untuk menebar inspirasi dan kebaikan. Bukannya
mengundang girlband Korea hanya demi prestise sesaat.
Aku
merasa terlalu asing untuk berbicara nasionalisme. Mari dengar cerita Gloria tentang
pengalamannya tahun lalu. Harusnya bukan kendala ketika sudah mencapai level
Paskibraka dan bermimpi mengibarkan bendera pusaka Sang Saka didepan pejabat
Negara di lapangan upacara istana. Hanya karena gara – gara paspor ganda
Prancis – Indonesia. Lalu akan kita sebut apa mereka yang berdiaspora dan
mengharumkan nama Ibu Pertiwi ke seluruh dunia ?
Atau
coba bertanya kepada Pak Arcandra Taher, orang hebat berbakat yang diragukan
oleh patriotisme. Tidak lebih dari 2 hari efektif kerja, dengan mudahnya Pak
Presiden mencopot jabatannya. Memang posisi tersebut terlalu strategis dan
banyak intervensi. Tetapi lagi – lagi alibi labeling
Amerika yang terlalu melekat pada dirinya yang justru menjadi buah bibir.
Syukur kita, beliau bisa berkontribusi dengan jabatan lain yang tak kalah
genting.
![]() |
| Arcandra Taher : Indonesia - Amerika |
Silahkan
maknai kemerdekaan dengan cara masing – masing. Pokoknya aku setuju dengan
Syahrir dan Tan Malaka. Tak peduli darimanapun asal dan kepentingan golonganmu.
Bangsa ini harus benar – benar merdeka, baik dari luar maupun dalam dirinya
sendiri. Sebuah refleksi, ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi bangsa
ini belum se – raya yang semestinya.
Apa kabar negara
agraris kalau beras saja harus impor ? Dan dimonopoli.
Apa kabar negeri maritim
kalau garam juga harus impor ?
Apa kabar negara hukum
hari ini ? Kalau selalu tajam kebawah dan tumpul keatas.
Apa kabar bangsa yang
katanya siap perangi korupsi ? E – KTP, BLBI, Century, Hambalang, kami menolak
lupa.
Apa kabar yang katanya
negara demokrasi ? Setelah ulama dan ormas dibungkan, kini mahasiswa anak
kandung rakyatnya sendiri dibelenggu kriminalisasi.
Hari
– hari belakangan ini jua kita disibukkan dengan polemik yang dibuat sendiri.
Buang – buang energi. Bicara tentang dualisme pemikiran yang multi tafsir dari
tiap individu soal kebangsaan dan kedaulatan. Kerukunan umat beragama yang
diusik hanya dengan sebuah kursi jabatan. Perebutan kekuasaan semu yang
dikhawatirkan hanya menguntungkan sepihak golongan.
Andai
aku menjadi burung merpati. Akan kusampaikan pesan tersirat yang tersurat,
kepada mereka yang sering disebut jahat dan diharap segera taubat. Semoga saja
Indonesia lebih baik dan bermartabat.
Jadi
teringat bait – bait terakhir salah satu puisi Gus Mus.
“Akan kusimpan sendiri
mendung dukaku dalam langit dadaku,
Kusimpan sendiri badai
resahku dalam angin desahku,
Kusimpan sendiri
gelombang geramku dalam laut pahamku,
Kusimpan sendiri api
dendamku dalam gunung resamku
Kusimpan … sendiri …”


Komentar
Posting Komentar