Kenduri Kemerdekaan


Sejatinya merdeka adalah terbebas dari apa yang diinginkan. Tidak diperbudak nafsu ataupun dibawah pengaruh untuk berjuang. Kemerdekaan bukan direbut, tetapi diciptakan. Diciptakan dari hasil perjuangan para pahlawan yang dengan lantang dibacakan oleh Bung Soekarno – Hatta di jalan Pegangsaan. Selayaknya kenduri, sebuah perayaan syukur atas karunia yang diberikan Sang Pencipta haruslah berbahagia dan bermakna.

Salah satu pertunjukkan wajib di perayaan kemerdekaan di negeri ini adalah remisi. Pengurangan masa tahanan rutinan tahunan yang diberikan orang nomor satu di negeri ini, secara fungsi. Setuju saja bila memang dikhususkan untuk orang yang masih benar – benar benar dan mereka yang pernah didakwa salah bukan karena kesalahannya.

Agustusan tahun ini, tontonan kita haruslah menjadi salah satu tuntunan. Menghadirkan para anak bangsa yang mendunia untuk menebar inspirasi dan kebaikan. Bukannya mengundang girlband Korea hanya demi prestise sesaat.

Aku merasa terlalu asing untuk berbicara nasionalisme. Mari dengar cerita Gloria tentang pengalamannya tahun lalu. Harusnya bukan kendala ketika sudah mencapai level Paskibraka dan bermimpi mengibarkan bendera pusaka Sang Saka didepan pejabat Negara di lapangan upacara istana. Hanya karena gara – gara paspor ganda Prancis – Indonesia. Lalu akan kita sebut apa mereka yang berdiaspora dan mengharumkan nama Ibu Pertiwi ke seluruh dunia ?

 
Gloria bersama Presiden dan Wakil Presiden RI 2014 - 2019 : Jokowi - JK

Atau coba bertanya kepada Pak Arcandra Taher, orang hebat berbakat yang diragukan oleh patriotisme. Tidak lebih dari 2 hari efektif kerja, dengan mudahnya Pak Presiden mencopot jabatannya. Memang posisi tersebut terlalu strategis dan banyak intervensi. Tetapi lagi – lagi alibi labeling Amerika yang terlalu melekat pada dirinya yang justru menjadi buah bibir. Syukur kita, beliau bisa berkontribusi dengan jabatan lain yang tak kalah genting.


Arcandra Taher : Indonesia - Amerika


Silahkan maknai kemerdekaan dengan cara masing – masing. Pokoknya aku setuju dengan Syahrir dan Tan Malaka. Tak peduli darimanapun asal dan kepentingan golonganmu. Bangsa ini harus benar – benar merdeka, baik dari luar maupun dalam dirinya sendiri. Sebuah refleksi, ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tapi bangsa ini belum se – raya yang semestinya.

Apa kabar negara agraris kalau beras saja harus impor ? Dan dimonopoli.
Apa kabar negeri maritim kalau garam juga harus impor ?
Apa kabar negara hukum hari ini ? Kalau selalu tajam kebawah dan tumpul keatas.
Apa kabar bangsa yang katanya siap perangi korupsi ? E – KTP, BLBI, Century, Hambalang, kami menolak lupa.
Apa kabar yang katanya negara demokrasi ? Setelah ulama dan ormas dibungkan, kini mahasiswa anak kandung rakyatnya sendiri dibelenggu kriminalisasi.

Hari – hari belakangan ini jua kita disibukkan dengan polemik yang dibuat sendiri. Buang – buang energi. Bicara tentang dualisme pemikiran yang multi tafsir dari tiap individu soal kebangsaan dan kedaulatan. Kerukunan umat beragama yang diusik hanya dengan sebuah kursi jabatan. Perebutan kekuasaan semu yang dikhawatirkan hanya menguntungkan sepihak golongan.

Andai aku menjadi burung merpati. Akan kusampaikan pesan tersirat yang tersurat, kepada mereka yang sering disebut jahat dan diharap segera taubat. Semoga saja Indonesia lebih baik dan bermartabat.

Jadi teringat bait – bait terakhir salah satu puisi Gus Mus.
“Akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku,
Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku,
Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku,
Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku

Kusimpan … sendiri …”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa