Ironi Menteri di Kabinet ala Mahasiswa
Heterogenitas
background
Indonesia dikenal dengan
negeri agraris. Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berfokus pada
pertanian dalam arti luas, tercatat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB)
berasal dari 27 provinsi di Indonesia. Hal ini menjadi parameter bahwa
pertanian memanglah menjadi identitas bangsa kita. Dimana masih dijadikan
prioritas utama oleh anak mudanya dari seluruh daerah untuk melanjutkan
pendidikan. Dengan demikian pula mengindikasikan bahwa keberragaman adat,
Bahasa, budaya, dan suku di IPB sangat tinggi dari sisi kedaerahan. Dari sisi
kerohanian, IPB menaungi seluruh mahasiswa nya dari seluruh agama yang resmi
diakui oleh pemerintah dengan mempersilahkan untuk berhimpun dan melaksanakan
kegiatan yang positif di dalam kampus.
Mahasiswa IPB program
sarjana dalam tahun pertama perkuliahannya wajib tinggal dan mengikuti seluruh
kegiatan asrama yang ada, sebagai salah satu syarat lulus menjadi sarjana.
Kontribusi di-monitoring melalui
absensi dan dinilai dengan IPK, persis seperti pada perkuliahan. Di asrama
inilah orientasi awal serta nilai – nilai kehidupan kampus diajarkan baik
secara pesan moral ataupun keteladanan. Mahasiswa dituntut hidup mandiri mulai
dari kebutuhan makanan, mencuci pakaian, dan membiasakan berjalan kaki dalam
kampus.
Terlebih dalam kehidupan
berasrama, adanya pembinaan dari senior asrama sebagai fasilitator selama satu
tahun kedepan. Mulai dari baca serta hafalan Al – Quran, kajian rutin, mentoring dan lain sebagainya. Untuk
yang non-muslim pun serupa demikian,
adanya kurikulum tentang mata kuliah Keagamaan yang isinya disesuaikan dengan
ajaran kitab masing – masing. Namun semuanya memiliki tools yang sama yaitu melalui program asistensi atau pendampingan. Asistensi
adalah setiap sekitar satu kelompok mahasiswa baru sekitar 8 – 10 orang
dibimbing selama satu tahun oleh 1 orang senior. Inilah sebenarnya salah satu core dan rahasia IPB menjadi kampus
agamis dan humanis. Pun dari sisi teamwork,
karena sudah dibiasakan untuk berkelompok dan bersama – sama dengan intensitas
bertemu rutin sekitar sekali sepekan.
Masjid menjadi pusat utama
pergerakkan keagamaan Islam di kampus, khususnya Masjid Al – Hurriyah dan
Masjid Al – Ghiffari dan biasanya dijadikan tempat berkumpul baik untuk belajar
ataupun hal positif lain. Masjid juga menjadi salah satu tempat sebagai poros
pergerakkan mahasiswa.
IPB sering diplesetkan singkatannya
menjadi Institut Pesantren Bogor karena mahasiswa muslim nya sangat taat dalam
menjalankan syariat Islam tetapi tetap menjaga kerukunan dengan agama lainnya.
Hampir seluruh kegiatan di IPB dimulai dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an
dan doa bersama. Positifnya hal ini dihargai oleh umat beragama lain tanpa
adanya pertentangan. Toleransi kehidupan beragama dalam kampus sangat tinggi
dan tentram.
Dari sisi kebudayaan dan daerah. Mahasiswa IPB terbiasa dengan kemajemukan yang ada, karena dalam bilik asrama yang biasa diisi 4 orang. Diatur sedemikian rupa terdiri dari mahasiswa dengan asal daerah berbeda, agar mampu beradaptasi nantinya dimanapun mereka berada dan tumbuh kembang dewasa bersama. Inilah cara IPB untuk meng – Indonesia – kan maahasiswanya.
Kedua variabel diatas, asal daerah dan agama yang biasa disebut dalam istilah SARA bukanlah sebuah masalah di IPB. Justru menjadi sebuah ikatan kekeluargaan untuk saling menghormati dan melindungi satu sama lain. Masing – masing individu merasa saling melengkapi dan satu paradigma bahwasanya perbedaan inilah yang mengajarkan kedewasaan dan kesatuan bangsa.
--
Organisasi
dan Pergerakkan
Dengan latar belakang yang
berragam, mahasiswa IPB memilih untuk berhimpun agar tercapainya visi bersama
dengan biaya yang ditanggung bersama. Organisasi kemahasiswaan (ormawa) internal
di IPB sangat berragam dan terbagi menjadi beberapa cluster, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa,
Lembaga Dakwah, Lembaga Struktural, Komunitas, Unit Kegiatan Mahasiswa,
Organisasi Mahasiswa Daerah, dan Komunitas. Dimana cluster ini pun terbagi menjadi beberapa wilayah bertingkat lagi
mulai dari tingkat departemen, fakultas, dan perguruan tinggi.
Setiap ormawa memiliki
tugas pokok, fungsi, dan peran masing – masing. Semuanya mencoba saling
mensinergiskan visi besar dalam misi – misi kecil agar tidak saling tumpang
tindih atau overlapping. Secara
selaras pergerakkan IPB memiliki arah yang jelas, baik secara vertikal maupun
horizontal. Asas Tri Dharma perguruan
tinggi dijunjung tinggi sekali untuk terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan
bermartabat. Dari seluruh ormawa ada yang berfokus di bidang keagamaan, sosio humaniora, pengabdian masyarakat, pengembangan
karakter, peduli pendidikan, lingkungan hidup, inovasi dan kreasi teknologi, pengembangan
minat bakat, pelayanan kemahasiswaan, advokasi, multimedia, dan agrokompleks.
Kegiatan – kegiatan yang
dilaksanakan setiap unit pun di filter oleh pihak kampus melalui Direktorat
Kemahasiswaan nya seketat mungkin dengan kriteria utama adalah berdampak dan
berkembang. Dalam penilaian akreditasi BAN – PT untuk aspek kemahasiswaan IPB
masih berada di peringkat 8 dibawah perguruan tinggi negeri lain. Hal ini
diduga karena mahasiswa masih belum mengerti tentang pentingnya softskill dalam
kehidupan, yang bisa dipelajari dan dilatih dalam berorganisasi.
Mahasiswa IPB cenderung
apatis karena dirinya sendiri merasa sudah cukup terbebani dengan perkuliahan
yang memang padat lagi sukar. Standar pendidikan IPB yang tinggi seperti
kualitas penelitian dan laporan praktikum juga menjadi penyebab mahasiswa sulit
meluangkan waktu untuk kegiatan lain, karena harus bersungguh – sungguh
menyelesaikan kewajiban utamanya.
Berikut beberapa tipe mahasiswa IPB dan kegiatannya :
Kupu – kupu : kuliah pulang
– kuliah pulang. Tipe mahasiswa yang cenderung apatis karena akan lebih
berfokus kepada pengerjaan tugas kuliah dan hal – hal yang menurutnya memiliki
keuntungan untuk pribadi.
Kura – kura : kuliah rapat
– kuliah rapat. Inilah para aktifis kampus yang waktu luangnya diisi dengan
diskusi, merumuskan, dan melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler.
Kuda – kuda : kuliah dagang
– kuliah dagang. IPB sebagai kampus berwawasan entrepreneurship secara tidak
langsung mendidik mahasiswanya untuk berani berwirausaha terlepas factor apa
yang melatarbelakanginya. Baik untuk memenuhi kebutuhan atau menambah
penghasilan semata.
--
Dinamika
kemahasiswaan
Mahasiswa IPB sangat
homogen dalam kontruksi berpikir, dan cara pandang. Mungkin ini salah satu
dampak dari kehidupan bersama di asrama selama satu tahun pertama yang terkesan
memaksa. Hal ini sangat positif dampaknya dirasakan. IPB sangat menjunjung
tinggi semangat kebersamaan dalam satu naungan tertinggi yang disebut Keluarga
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (KM IPB). Yang direpresentasikan dalam
organisasi BEM KM, DPM KM, dan MPM KM yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan
Raya (Pemira) yang diikuti oleh seluruh mahasiswa IPB multiangkatan baik dari
Sarjana maupun Vokasi di setiap fakultas. Ini merupakan cerminan demokrasi
Indonesia dalam lingkup kampus dengan konsep Trias Politica (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dari Plato.
Pesta demokrasi mahasiswa, Pemira
sendiri berlangsung satu tahun sekali untuk memilih Ketua dan Wakil Ketua BEM
KM serta Ketua dan Wakil Ketua BEM Wilayah (Fakultas) secara serentak dalam
satu hari dengan mahasiswa memberikan suaranya secara langsung di TPS baik
melaui cara offline ataupun online disesuaikan dengan panitia
fakultas penyelenggara.
IPB memiliki stabilitas
organisasi yang baik, ketika setiap terjadinya pergantian kepengurusan
kecenderungannya berjalan lancar tanpa banyak hambatan atau gangguan internal
maupun eksternal. Tidak adanya golongan radikal dan ekstrimis yang muncul ke
permukaan dan menyita perhatian. Golongan tersebut sebatas bergerak underground tapi tidak mengakar,
sehingga kadernya tidak terlalu kuat dalam perpolitikan kampus. Partai dan
ormas yang biasa membayangi para aktifis mahasiswa di kampus lain seolah malu
sendiri untuk banyak tampil di kampus ini. Pernah sesekali, tapi ternyata tak
berarti dan malah merugi.
Diskusi – diskusi disini sangat
sehat iklimya. Setiap permasalahan yang dibahas selalu menghasilkan gagasan –
gagasan inovasi, entah nanti hanya wacana ataupun sampai tahap implementasi.
Tapi tidak masalah, setidaknya kita sudah peduli dengan realita yang ada. Yang
jelas IPB selalu mencari dan memberi solusi yang terbaik. Terbukti dengan hasil
Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) yang terbanyak didanai oleh Kementerian
Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) hamper setiap
tahunnya. Begitu pun dengan penemuan terbarukan yang paling banyak
dikomersialisasi oleh pemerintah Indonesia karena selalu menjadi penyumbang
kontribusi terbanyak.
Perbedaan pendapat sangat
sering terjadi, mengingat dengan terlalu tingginya keragaman background
mahasiswa IPB. Hal demikian selalu selesai di tahap musyawarah dalam forum,
tidak berlarut – larut apalagi sampai menjadi dendam. Tidak pernah ada kontak
fisik ataupun sesuatu kekerasan lain yang primitif.
--
Di tahun ketiga perkuliahan
ini, aku bergabung dalam organisasi kemahasiswaan (ormawa) terbesar dan
tertinggi di kampus bagian eksekutif. Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga
Mahasiswa (BEM KM) memposisikan diri sebagai sebuah wadah yang siap
memfasilitasi berbagai keinginan dari mahasiswa IPB tanpa terkecuali, pastinya
dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keadaan. BEM KM IPB dibuat seperti
miniatur sebuah negara. Dikepalai oleh seorang presiden mahasiswa (presma) yang
dipilih secara demokrasi langsung, serta dibantu oleh beberapa orang menteri
untuk menyusun sebuah cabinet kerja dan melakukan aksi nyata.
Menteri adalah istilah
jabatan yang digunakan oleh seseorang yang kerjanya menjadi pembantu tugas
seorang presiden di bidang tertentu. Pemilihan menteri adalah hak prerogatif
seorang presiden. Dipilih berdasar kompetensi, profesionalisme, dan kesesuaian
lain. Menteri terpilih mungkin tidak merepresentasikan keinginan pemilih
presiden, tapi di pundaknya tetaplah tersemat tanggung jawab besar dan amanah
dari para pemilih presiden tersebut. Dan aku adalah seorang menteri.
Kementerian Kebijakan
Kampus adalah salah satu bidang kerja di BEM KM dengan fungsi sebagai wadah
untuk membuat kajian mengenai berita, isu, dan kebijakan yang ada di tingkat
IPB serta melakukan advokasi bagi kesejahteraan mahasiswa. Dan aku adalah
Menteri Kebijakan Kampus.
Sebagai seorang Menteri
Kebijakan Kampus, aku dianggap sebagai mahasiswa yang memiliki posisi paling
strategis di kampus. Dimana aku harus memposisikan diri sebagai mahasiwa serba
tahu akan hal apapun yang terjadi di kampus, segala sesuatunya dinamis dan
sulit diprediksi. Aku harus menjadi seorang tritagonis di hadapan pengambil
kebijakan kampus (rektorat) dan penikmat kebijakan kampus (mahasiswa). Aku
harus bermuka banyak dan setebal kulit badak. Pandai mencari muka, dan tahan
akan malu.
Aku menjadikan diriku
layaknya sebuah jembatan. Jembatan yang harus menyambungkan kedua ujung jalan
ataupun tebing terjal agar dapat dilalui dan tidak terputus silaturahminya. Aku
adalah seorang mahasiswa yang peduli dengan sesama mahasiswa lain, tapi aku
juga adalah mahasiswa yang cinta akan kampusnya. Aku saat ini berdiri pada
irisan dua kepentingan. Aku harus mampu men-transfer-kan
informasi dari rektorat kepada mahasiswa. Begitu juga sebaliknya, aku harus
mampu menyampaikan idealism mahasiswa kepada pengambil kebijakan. Di titik
kritis inilah biasanya banyak sekali tekanan datang dari berbagai arah dan
pihak yang tak terduga. Sering sekali ketika dalam forum pimpinan kampus aku
dimarahi, diinterogasi, dinilai tidak obyektif karena membawa aspirasi dari
sudut pandang mahasiswa saja. Di forum mahasiswa pun demikian, caci maki dan
cap sebagai budak rektorat selalu disematkan bilamana argumen mahasiswa yang
aku bawa di forum rektorat gagal mengubah kebijakan. Dianggap terlalu menurut
dan hanya bisa manut.
Setiap hari dan malam, begitu banyak laporan dari mahasiswa yang merasa dirugikan dan ingin menuntut keadilan. Mulai dari hal berat sampai ringan. Mulai dari berita kehilangan barang, kerusakan fasilitas kampus seperti jalan bolong atau pohon tumbang, indikasi pelecehan seksual, pembayaran uang kuliah, jadwal akademik, lokasi ruangan, konflik Unit Keamanan Kampus (UKK) UKK dengan ojek kampus, penyelenggaraan acara keagamaan, pelayanan administrasi yang bermasalah, hingga dugaan penyebaran paham radikal. Tidak jarang aku secara mendadak dipanggil rektor, wakil rektor, direktur unit, dan stakeholder lain dalam kampus untuk dimintai keterangan atau ikut menyelesaikan permasalahan. Tidak terjadwal, tidak mengenal waktu dan tempat. Hingga pernah beberapa saat aku mengorbankan agenda lain yang sudah diatur sedemikian rupa sebelumnya.
Orang yang pintar akan kalah dengan
yang rajin, siap, dan bersedia.
Aku adalah orang yang
sebelumnya tidak pernah mengerti dan peduli bidang advokasi. Aku juga tidak
mendaftarkan diri untuk terlibat dalam kompleksitas ini. Ini tidak ringan, tapi
aku tetap bertahan. Bertahan atas apa yang aku percayakan, tentang kesediaan
menerima amanah dan siap mempertanggungjawabkan. Aku selalu berpikiran positif,
bahwa benar Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian berat diluar kemampuan
hamba-Nya. Aku merasa mampu, dan menganggap ini bukan ujian. Justru sebagai
kesempatan belajar untuk mengukur kemampuan diri dan meningkatkan keimanan.
Demikianlah, aku dan
kampus.
Menteri Kebijakan
Kampus BEM KM IPB 2017 KABINET KITA,
Ermas
Isnaeni Lukman

Komentar
Posting Komentar