Retorika Pertanian Indonesia era Jokowi – JK

Aku lahir di negeri sulap
Aku besar di republik sulap
Negerinya para pakar pesulap
Suka menyulap apa saja
Dari ga ada hingga di ada – ada
Dari yang ada hingga tiada
Bim salabim abra akadabra gedebus

Silahkan anda memberikan pandangan dari lagu ‘Negeri Sulap’ diatas. Yang pasti mas Tony Q rastafara adalah orang Indonesia.

Kita begitu terlena dengan sepenggal lirik lagu Kolam Susu yang dalam bait nya “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Saya menyimpulkan, dengan cara sederhana dan tidak sengaja saja kita bisa mendapatkan sebuah keberkahan dari Tuhan. Tidak perlu pupuk, irigasi, traktor, dan sebagainya. Tapi nyatanya, pertanian tidak se – sederhana itu.

Pertanian adalah pemanenan energy matahari dengan fotosintesis untuk meghasilkan bahan pangan dan serat. Pertanian tidak dibatasi oleh padi, kapas, sawah, caping, cangkul, benih, dan bibit. Dalam istilah agrikompleks, pertanian mencakup bidang perikanan, kelautan, peternakan, kehutanan. Disertai juga ilmu sosial ekonomi, sains dasar dan terapan sebagai supporting system pertanian tersebut.

Sebelum lebih jauh kedepan kita kembali mengulang masa sekolah, dimana hafalnya isi Pembukaan UUD 1945 dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menjadi tolak ukur. Yang didalamnya tertuang tujuan bangsa dan Negara Indonesia, salah satunya adalah memajukan kesejahteraan umum. Pembukaan UUD 1945 secara konstitusi tidak bisa dirubah, sekalipun dalam amandemen dan referendum. Sesuatu yang sudah stabil dan dianggap keramat. Dan segala cara telah ditempuh untuk mencapai tujuan itu.

Di era kepemimpinan pemimpin baru dengan pendamping lama, kita diberikan sebuah tawaran menarik dengan target Swasembada Pangan. Jokowi – JK adalah kita. Cara ‘kita’ untuk mewujudkannya melalui pengambilan langkah membuat Paket Kebijakan Ekonomi yang hingga hari ini sudah jilid ke 16. Yang menarik adalah di jilid ke 9, didalamnya terdapat salah satu unsur pertanian yaitu di bidang peternakan khususnya daging sapi. Bagaimana pemerintah pusat menyikapi persoalan impor, termasuk jeroan yang belakangan menjadi isu baru yang seru untuk dikaji.

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini, saya rasa mengkhianati diri mereka sendiri. Ketika dengan Nawacita di kedua point nya yaitu : Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa – bangsa Asia lainnya. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor – sektor strategis ekonomi domestik.

Nyatanya justru pihak asing banyak dilibatkan. Kita lakukan impor bahan makanan yang bahkan dari asalnya itu adalah produk sisa olahan. Bukannya menyalahkan budaya bangsa kita sendiri yang masih hobi mengonsumsinya. Tapi ini tentang sebuah pengucapan janji, pengelabuan pandangan, meyakinkan banyak orang, dengan sebuah trik dan tipuan.

Garam impor yang tidak seasin biasanya dan gula rafinasi yang bukan dari petani tebu dalam negeri. Ini juga harus segera diselesaikan. Agar para anak bangsa yang berbakti pada negeri agraris ini tidak putus asa dan frustasi. Bila pemerintah ingin mereka terus menanam benih – benih kebaikan, sudah seharusnya mereka diapresiasi.

Semoga ini menjadi sebuah bahan untuk refleksi diri bagi kita yang sesungguhnya, pemuda. Sebagai penerus kejayaan bangsa, sudah saatnya bergerak menyadarkan masyarakat. Bahwa apa yang ditawarkan belum tentu direalisasikan. Apa yang didapatkan, itulah kebenaran. Mari sama – sama kita bekerja sama menjadikan Indonesia lebih baik dan bermartabat.

(esai terbaik dalam Agrisimposium Hari Tani 2016). Pusat kajian di bit.ly/KajianHariTani 

Institusi solusi pangan dunia


Ermas Isnaeni Lukman,
Menteri Kebijakan Kampus
BEM KM IPB 2017 Kabinet KITA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa