Balada Barikade Tani dalam Aksi Mahasiswa #SidangRakyat

[Kronologis Represifitas dalam Aksi Peringatan 3 tahunan pemerintahan Jokowi JK]

Propaganda Aksi dan 3 point utama tuntutan

Aku ingat benar apa yang akan dibawa dalam tuntutan Aksi hari ini ? Karena aku berkesempatan ikut jadi delegasi BEM KM IPB dan merumuskannya dalam ajang Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Badan Eksekutif Mahasiswa se Indonesia (BEM SI) di Malang, Jawa Timur. Dengan modal bacaan sebelumnya di link bit.ly/KajianTuguRakyat

Sudah lebih dari 12 hari sejak kejadian malam kelam lalu, ketika kami yang berbondong – bondong datang ke Jakarta diusir paksa dengan bijaksana oleh aparat penindak. Tapi tetap tertanam dalam benak apa yang sebenarnya terjadi malam itu dan mengapa bisa demikian. Terkhusus bagi para mahasiswa IPB yang dengan tanda tanya maha besarnya mempertanyakan, Mengapa bisa demikian ? Mengapa KITA paling banyak ditahan ?. Semoga sedikit penjabaran dariku atas waktu yang sangat sempit saat itu bisa mencurahkan.

Percaya atau tidak sejak pagi aku menaksir mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ada sekitar 400 orang yang hilir mudik Stasiun Juanda – Bogor dan moda transportasi lain untuk ikut #SidangRakyat ini. Data ini aku cermati dari absensi kloter pemberangkatan massa aksi dan pengamatan di lapangan mereka yang datang tidak bergerombol, cenderung masing – masing namun juga tidak sendirian, termasuk aku yang mungkin tidak terdata. Harapan tinggi ketika di aksi sebelumnya kami bisa dijanjikan hal sederhana yaitu bertemu dengan Bapak Presiden yang terhormat untuk bercengkerama dan ceritakan bahwa kami mahasiswa punya usulan untuk perbaikan Indonesia kedepan. Sayang saja semua tidak semudah menangkap angin atau membual angan. Kami dipaksa menunggu hingga lebih dari 18.00 tanpa ada itikad baik dari pihak istana maupun pemanggilan perwakilan.

Menikmati hari perjuangan ini dengan menjadi border

Penampakan di bagian depan barisan massa aksi

Massa aksi srikandi IPB yang bertahan hingga malam hari

Aksi yang bila mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku hanya sampai pukul tersebut kami laksanakan sebaik mungkin tanpa ada huru hara berarti. Memang ada upaya penginjakkan barrier oleh garda terdepan tapi bukan berarti sebuah ancaman untuk melawan, hanya sebagai wujud totalitas perjuangan bahwa kami tidak perlu ditahan dengan ancaman. Lepas shalat magrib dan Isya dilanjut pembacaan ayat suci Al – Qur’an dilanjut zikir dan shalawat secara bergantian oleh mahasiswa lain. Subhanallah walhamdulillah wala illa haillallah wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billa hil aliy hil adzim. Dan disambut dengan baik juga oleh pihak keamanan berupa sambutan zikir shalawat seakan saling berlomba – lomba dalam kebaikan malam itu. Aku ingat betul khidmatnya shalawat bersahutan dari ujung pembatas jalan persis didepan barrier. Aku yang sedari pukul 7 malam di posisi ini semakin menikmati sambil mengobrol dengan rekan – rekan mahasiswa yang berdatangan dari jauh dan berbagi kisah perjalanan masing – masing.

Untuk membangkitkan kembali semangat juang rekan – rekan, para presma mencoba memimpin barisan untuk bernyanyi bersama lagu – lagu perjuangan mahasiswa, lagu nasional, bahkan hingga lagu daerah Apuse. Suasana malam itu makin riuh ramai. Dalam waktu tersebut juga, beberapa kali adanya mediasi serta wawancara dari pihak pers maupun kepolisian untuk menemui kata sepakat soal pembubaran aksi. Namun pimpinan massa aksi tetap bersikeukeuh untuk bertahan hingga ditemui. Ada sekitar 2 kali pertemuan sebelum adanya tindakan lanjut dari pihak keamanan. Mulai adanya provokasi berupa penyorotan lampu tembak dari arah mobil ke massa aksi dengan daya yang cukup besar dan menyilaukan mata. Bertahan beberapa menit saja memang.

-----

Panji (Presma IPB) malam itu menghampiri kami sekawanan para menteri kabinet yang masih tetap bertahan malam itu hingga sekitar pukul 22.30 WIB. Sederhana. Aku tetap bertahan disini, kalian mau gimana? Aku ga maksa anak – anak untuk tetap ikut. Aku tetap disini pokoknya. Sebuah statement yang silahkan tafsirkan masing – masing. Pikirku dan yang lain, Yaudah ayo disini aja nemenin Panji. Toh ini aksi terakhir di kepengurusan KITA kan. Dan kami pun benar – benar bertahan. Melihat massa IPB lain juga yang tanpa komando dan kebingungan karena waktu semakin malam dan tidak memungkinkan untuk pulang. Kami intruksikan massa aksi IPB yang sejak awal ditengah barisan untuk pindah ke barisan paling depan tepat depan barrier terinjak tadi. Gunanya agar tetap dalam control dan satu komando. Tapi ternyata inilah yang justru jadi boomerang dan harus dibayar mahal.
Massa IPB yang bertahan hingga terjadi chaos

Sekitar pukul 23.00 WIB intervensi semakin kuat, melihat kearah belakang dari jalan depan gedung RRI. Barikade polisi sudah dengan atribut lengkap terus berjalan serentak menghentak menghampiri massa aksi yang posisisnya didepan Gedung Menko PMK sambil memukul toya dan tameng plastiknya. Dari kejauhan aku melihat 2 orang mahasiswa IPB bertopi dan membawa bendera di sekitar sana. Spontan aku lari dan hampiri mereka untuk segera ke barikade IPB agar tidak tercecer dan bermasalah nantinya. Siapa lagi disini? | Gak ada cuma kita berdua. Kami pun langsung duduk di barisan terluar dari border massa aksi. Bersama rekan – rekan UNJ terdekat, kami berbagi odol sebagai bentuk persiapan bila kami dibubarkan dengan water cannon ataupun gas air mata. Odol mah buat dipake di gigi, bukan di muka. Lagian siapa yang mau pakai gas air mata ? Haha. Cemooh salah seorang oknum, dengan tatapan sinis dan wajah lebah menahan amarah untuk segera menuntaskan tugas.

Pukul 23.30 WIB mobil pengeras suara mundur, dibelakangnya sudah siap mobil water cannon dan Anoa. Barrier pun dibuka dan ditarik seutuhnya hingga tidak ada lagi batasan kami dengan aparat. Kalau disemprot, kita berbalik badan! Seraya mengingatkan yang lain untuk tetap waspada. Aku masih cukup jelas ingat beberapa aparat berseragam polo, berrambut cepak, badan tegak yang terus ada di dekat barisan massa aksi dan seakan terus mengisyaratkan untuk segera membubarkan paksa. Apalagi wajah muda membara yang dilengkapi Kevlar serta helm pelindung semakin mengindikasikan mereka siap adu fisik masuk ke tengah barisan. Malam mulai mencekam. Jarak kami dengan aparat tinggal hitungan langkah saja. Lutut – lutut aparat sudah cukup dekat didepan mata. Kami terus bershalawat sembari merapatkan barisan dan bersama menghangatkan diri. Mereka mulai menghampiri massa aksi dan melucuti seluruh benda keras seperti kayu, pipa, dan besi yang digunakan sebagai tiang panji untuk diamankan dari lokasi. Saat itu juga aku hitung manual sekitar ada 40 massa aksi IPB yang bertahan dan semua sudah di data.
-----

Bang, benderanya gue pake ya buat nutupin. | Pake aja, asal lo selamat, benderanya juga selamat. Tanya 2 jagoan PPKU54 yang ngeyel banget sedari pagi dalam aksi hari itu. Apapun yang terjadi tetap pegang border. Jangan ada yang tercecer. Jangan lepas almamater! Teriakku sesaat menjelang chaos. Provokasi semakin jelas, para polisi mulai mengeluarkan kata – kata bijaknya untuk mengintimidasi kami agar mau segera membubarkan aksi. Dan ternyata tepat di belakang barikade polisi sudah ramai oleh kendaraan warga ibukota yang seakan juga menunggu kami untuk dibubarkan paksa. Suara geberan motor entah sengaja oleh oknum atau tidak seakan menjadi tanda pertumpahan darah malam itu.

Teriakan sumpah serapah yang tidak sepantasnya dilontarkan anggota Polri semakin menjadi – jadi. Pukulan dan tendangan tidak bisa dielakkan. Sementara barisan terus ditekan dari badan jalan kearah trotoar. Aku terus menahan diri dan yang lain untuk tidak terprovokasi dan lanjut shalawat. Ketika posisi pertama berdiri, Yahya (Menteri Jagrikom) memang sudah out of position border dan diluar dari jangkauan penyelamatanku juga geraknya yang lambat untuk berdiri sigap (mohon maaf). Pasti dia sangat ingat teriakan terakhirku, Yahya!!! sambil mencoba meraih badannya yang sudah dilepit 3 – 4 orang untuk kemudian diangkut. Bodoh bila aku melanjutkan, mungkin akan menjadi orang kedua yang diamankan petugas malam itu.

Aku terus terdesak sambil posisi berjalan mundur. Namun situasi berbalik ketika dipepetkan ke tembok Gedung PMK yang didalamnya juga sudah ramai pasukan polisi dengan tongkat yang seakan mempermainkan kami menyodok – nyodokkan tongkatnya kea rah barisan agar segera bubar dan tidak merapat ke tembok. Kami terus berjalan. Kini aku berinisiatif memunggungi barisan aparat dibelakangku. Dalam situasi kacau dan terjepit dari mana – mana ini aku coba tahan sebisa mungkin anak IPB yang mencoba keluar dari barisan untuk menyelamatkan rekan kami yang diciduk dengan agak kasar mendorong kepala mereka dan membanting kearah dalam barisan badan mereka. IPB mikir! Terus zikir! Kurang lebih demikian yang kuingatkan ke rekan – rekan. Satu per satu, Susilo dan Yogi ditarik paksa. Seakan aparat sudah sejak lama mengincar dan mengenali wajah mereka seperti provokator aksi.

Barisan terus mundur jalan menuju depan gedung RRI, disana aku melihat rekan perjuanganku Golbi (Menteri Pendidikan) memaksakan diri untuk melawan represifitas. Memang Golbi sejak sore sudah sangat diincar polisi karena terus memasang banner bekas diatas barrier dan diikuti oleh beberapa anak IPB lainnya.Jelas betul Golbi melakukan perlawanan dengan tendangannya yang tidak mengenai siapapun, namun cukup meyakinkan bahwa kami punya nyali. Tak lama setelah itu, Golbi digelandang petugas, dengan posisi juga sudah diluar border dan tidak sampai naik ke trotoar seperti massa aksi kebanyakan. Kami terus mundur hingga satu kondisi aku lihat Bang Ian (Menteri Olahraga) lari tunggang langgang dikejar polisi sambil membawa toa dengan posisi sudah akan menyeberang kearah Monas. Yang mana sebelumnya aku juga tidak tahu bahwa beliau sudah mendapat pukulan dari tongkat polisi yang menyebabkan pendarahan di kepalanya. Bang Ian terus didorong hingga tersungkur dan langsung ditangkap aparat didepannya. Bang Seto (Menteri Kesmah) segera lari mengambil toa dan diikuti massa IPB yang perlahan jalan cepat bubar.

Posisiku saat ini berada di barisan terbelakang massa aksi, masih berjalan santai sambil dirangkul dan agak didorong serta tendang manja aparat untuk segera bubar. Aku berjalan bersama rekan – rekan kampus lain yang kukenal di Konsolnas BEM SI terakhir. Kami berbincang siapa saja yang tertangkap, mau kemana setelah ini, bagaimana nanti, dan lain sebagainya. Dari arah berlawanan dengan bubarnya massa aksi, aku melihat Bang Ardi (Menteri Jaknas) yang hari ini juga menjadi Korlap Pusat BEM SI sudah babak belur diseret 2 orang aparat sekaligus dengan kondisi hanya menggunakan kaos dalam dan wajah lebam sana sini. Tidak hanya pilihan lain selain menunduk dan berpikir siasat terbaik untuk segera menyelamatkannya dan yang lain.

Aku terus jalan. Kami yang dipaksa naik ke trotoar dekat Monas, justru dilempari batu oleh oknum aparat yang sedang beristirahat dan nampaknya juga memendam kekesalan. Bagaimana mungkin ditemukan batu bata merah utuh dan kerikil sebesar genggaman tangan di tengah aspal mulus jalan ibukota kalau tidak dilakukan dengan sengaja. Kami melanjutkan perjalanan sambil mencari bantuan medis rekan kami yang terluka. Hingga di ujung pintu Monas yang lain, seakan sudah siap menyambut angkutan kota mikrolet untuk membawa kami ke daerah asal. Ayo ini kan sudah berkelompok – kelompok, langsung naik aja omongin nanti ongkosnya. Kata salah seorang polisi yang terus membuntuti kami dan menyarankan untuk segera naik keatas bus. Seakan seperti sebuah setting-an ada sekitar 6 bus kosong standby yang siap mengangkut massa aksi. Hal baru bagiku.
------

Massa IPB didepan dipimpin oleh Bang Aming (Wapresma IPB) yang selalu meneriakkan namaku bila tidak terlihat di bagian belakang, karena khawatir tertangkap apalagi aku yang juga terkenal emosional dalam hal hal seperti ini. Tapi Alhamdulillah aku bisa menahan diri. Massa IPB krisis kepemimpinan malam itu, Bang Jaya (Menteri Jakda) harus mencari keberadaan Bang Ian malam itu juga yang belum diketahui dimana keberadaannya.  Panji harus segera mengatur strategi arah gerak mahasiswa kedepan. Malam itu malam terakhir bertemu dengan Panji, beliau hanya menitipkan jas almamaternya sambil berkata Kamu disini pak? Aku balik dulu ya, nanti kukabari. Kita harus dapat kabar Ardi dan anak anak yang lain mala mini. Bang Seto dan Bang Aming membawa rombongan kearah Masjid Istiqlal, namun sayang kawasan masjid ditutup sejak sebulan lalu ramai kehilangan barang jamaah. Dalam kondisi lemah daya tenaga dan battery HP untuk mengabarkan siapapun, kami memilih akhirnya beristirahat di selasar Stasiun Djuanda sambil menunggu kereta paling pagi ke Bogor. Kami menyebar tidur, ada yang ke warkop dulu, beli nasi goring, cari musholla karena belum shalat Isya, sialnya tidak ada yang buka dan hanya bisa numpang toilet serta wudhu.

Tidak lama pagi menjelang, Bang Aming mengarahkan massa IPB untuk shalat berjamaah di Masjid Istiqlal karena musholla stasiun belum buka. Aku dan Bang Seto ditugaskan mengkordinir tiket pulang sebanyak 35 orang single trip tujuan Bogor. Dan cerita pagi ini menjadi mulai babak baru perjuangan pembebasan penahanan. Syukur puji kepada Tuhan semalaman ini, kami semua masih bisa bertahan dari civil war yang tidak jelas. Masih cukup banyak mahasiswa IPB yang bisa pulang pagi ini dan menyebarluaskan bahwa kejayaan mahasiswa masih ada dan akan terus menggema.
-----

Memang masih jadi pertanyaan. Kelanjutan gerakan seperti apa yang akan dilakukan mahasiswa. Apakah bertahan malam itu adalah strategi terbaik ? Dengan mengorbankan tetesan darah dan duka penahanan. Lihat sekarang opini yang berkembang, publik tidak respect sepenuhnya bahkan cukup banyak juga yang kontra di kalangan mahasiswa. Benarkah ditunggangi atau bagaimana ? Mari reflesikan diri, jangan lagi saling menyalahkan, toh semua sudah kejadian.
Selamat menghirup kembali janji – janji kemerdekaan abang – abang sekalian! Aku sekarang sungguh mengerti betapa kesalnya anak – anak pergerakkan IPB atas hal taktis yang kau sajikan di tiap kajian ataupun teknis lapang aksi. Mendadak dan dinamis, tapi tidak pernah mengeluh. Ya, karena dirimulah yang menjadi teladan bahwasanya tidak boleh setengah – setengah dalam perjuangan. Sekalipun kita ada di jalan yang berbeda, namanya orang yang sama – sama berjuang untuk kebaikan, pasti akan bertemu di persimpangan jalan yang sama.
Terima kasih panutan, Panji dan Ardi. Ayo demisioner lengkap!

-----
Point penting :
1.     Massa aksi IPB menjadi tanggungjawab penuh dari BEM KM IPB karena dipertanggungjawabkan langsung ke Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan.
2.     Terkhusus massa dari PPKU yang memiliki layanan akademis khusus sebaiknya selalu mengikuti arahan yang diberikan agar tidak terjadinya hal yang tidak diinginkan, karena adanya proses birokrasi yang sulit.
3.     Tetaplah mengikuti arahan dan intruksi komando dari siapa saja yang dipercaya menjadi koordinator lapangan.
4.     Jangan lepas dari border! Ini hal paling utama ketika dalam barisan.
5.     Jangan mudah terpancing provokasi aparat atau melakukan hal mencolok karena bisa jadi kamu ditandai dan siap diciduk suatu saat.
6.     Bawa perbekalan yang cukup seperti makanan, minuman, powerbank, dan uang tunai.
7.     Kabari orang tua atau kerabat terdekat khawatir hal – hal buruk menimpa sewaktu – waktu tanpa terrencana.


Ermas Isnaeni Lukman,
Menteri Kebijakan Kampus
BEM KM IPB 2017 Kabinet KITA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa