Jika aku seorang supervisor, ...

Aku adalah seorang supervisor istimewa, bukan seperti supervisor pada umumnya. Aku bukanlah supervisor yang bekerja di perusahaan yang berorientasi keuntungan, tapi supervisor yang diamanahkan 30 adik binaan di Rumah Kepemimpinan. Walau begitu, aku tetap menjunjung tinggi profesionalisme. Bekerja tanpa disuruh, bertanggungjawab tanpa diminta, dan disiplin tanpa diawasi. Karena aku ingin memberi teladan, tidak hanya melalui ucapan perkataan, tapi langsung dengan sebuah tindakan perbuatan.

Aku sadar benar, situasiku akan sulit dan rumit. Bagaimana bisa mudah, ketika diberi kesempatan membimbing dan membina 30 orang calon pemimpin muda. Dengan berbagai latar belakang, misi, alasan, dan tujuan bergabung kesini yang berbeda. Aku harus menjadi kakak yang baik. Kakak yang senantiasa mengayomi dan mengerti kondisi adik – adik nya. Keseragaman memang perlu, untuk mendapatkan hasil dengan standar yang sama. Namun disisi lain harus adanya penyesuaian ke tiap individu, dengan alasan perbedaan latar belakang tadi. Disinilah titik kritis kesabaranku diuji, menghadapi berbagai hal – hal tak terduga yang diceritakan mereka. Memberi pengertian agar mudah dicerna bahwa ini adalah bagian dari proses dan perjuangan. Hingga akhirnya nanti, mereka sendiri yang memanen keberhasilan.

Pembinaan seakan sebuah keterpaksaan dan sesuatu yang tidak nyaman, namun akan menjadi menyenangkan bila semuanya sudah mendapatkan alasan untuk bertahan. Alasan untuk tetap teguh meraih cita dan mimpi yang harus diwujudkan. Dan tugaskulah untuk memfasilitasi ini semua. Setiap hari mendampingi, mengawasi, dan memberi arahan agar para peserta tetap istiqomah mengejarnya. Dalam pelaksanaan keseharian, dengan program yang sudah disusun sedemikian rupa, tetapi tetap saja banyak masalah baru yang timbul tanpa bisa diprediksi.

Tenang saja, ini bukanlah sebuah keluhan. Ini hanyalah sebuah pengandaian. Andai saja aku bisa diberi kesempatan dan melakukan. Ini sebuah bentuk harapan yang mungkin akan direalisasikan meskipun entah kapan. Setidaknya hal ini pernah dipikirkan dan tuliskan. Selamat datang, di Rumah Kepemimpinan!
--

Jika aku seorang supervisor, aku akan memberikan intruksi sesuai perintah atasanku. Agar mereka mengerti arti sebuah profesionalisme dan idealisme, yang tidak akan pernah bisa dilacurkan oleh apapun termasuk harta, tahta, dan wanita.

Jika aku seorang supervisor, aku akan menterjemahkan sebaik mungkin perintah dari atasanku. Mentransfer seluruh ilmu dan informasi yang aku dapat, agar adik binaanku paham artinya sebuah pengorbanan.

Jika aku seorang supervisor, aku akan mengimplementasikan perencanaan organisasi dengan efektif. Taktis tidak bertele – tele, langsung ke inti. Biar mereka langsung eksekusi saja tanpa lagi harus merumuskan konsepannya. Karena akan percuma bila mereka sudah merumuskan, tapi aku masih ikut campur karena semuanya tidak sesuai menurutku.

Jika aku seorang supervisor, aku akan memfokuskan diri untuk memahami satu per satu karakter dari 30 orang anak muda potensial ini. Karena bagiku 22 bulan sangat cukup untuk membentuk pribadi mereka dengan berbagai model pendekatan yang nyaman.

Jika aku seorang supervisor, aku akan melatih bawahanku (adik – adikku) agar bisa bekerja dan belajar dengan baik. Memiliki kompetensi dasar dan mampu mengamalkan seluruh nilai – nilai institusi di segala sendi kehidupan fana ini.

Jika aku seorang supervisor, aku akan memperkerjakan sesuai kebutuhan. Aku tidak akan memaksakan suatu kehendak yang berlebihan. Yang menurut hemat tidak mungkin. Namun aku akan minta kontribusi dalam hal lain sebagai gantinya, pastinya dengan takaran yang seimbang atau bahkan lebih.

Jika aku seorang supervisor, aku akan mengatur jadwal kerja seefisien mungkin. Efisien dalam arti semuanya secara utuh menerima dan bisa mengikuti. Menyesuaikan seluruh kondisi dan harus siap menerima konsekuensi bila tidak ditepati tanpa sakit hati.

Jika aku seorang supervisor, aku akan berkomunikasi sebaik mungkin menghubungkan manager dengan para peserta. Menjadi jembatan yang ramah bagi siapa saja yang melaluinya.

Jika aku seorang supervisor, aku akan menyusun program dengan hati – hati. Menjaga hati dan tidak melukai hati siapapun. Aku akan sangat berhati – hati menentukan agenda dan tanggal krusial karena paham adik – adikku orang penting yang berdampak di lingkungannya. Karena baik aku ataupun lingkungan mereka sangat membutuhkan kehadirannya.

Jika aku seorang supervisor, aku akan menanyakan satu per satu individu mereka mengenai apa yang mereka suka and tidak sukai sejauh ini dalam pembinaan asrama. Agar aku bisa mengintropeksi diriku sendiri.

Jika aku seorang supervisor, bila aku mendapati berbagai kasus khusus tentang adik yang bermasalah. Aku akan meminta adikku yang lain untuk membantuku menangani hal tersebut. Agar semakin timbul kepedulian antar mereka. Tapi tetap aku akan berjuang lebih mendekatkan diri kepada si yang bermasalah tersebut.

Jika aku seorang supervisor, melihat kurangnya kepedulian yang timbul karena kesibukan masing – masing. Aku akan memberikan mereka waktu untuk berkumpul tanpa diriku, karena bisa saja aku yang salah. Mereka tidak enak atau malu terbuka, karena bisa jadi akulah masalahnya.

Jika aku seorang supervisor, aku akan menanyakan kepada setiap kepala apa yang mereka inginkan dan ada dalam otak mereka. Karena aku harus tahu itu terlebih dahulu sebelum mengajak mereka kedalam satu visi.

Jika aku seorang supervisor, dan mulai dijauhi adik – adikku. Aku akan selalu mencoba mendekati, mencari orang yang bisa membantuku akan hal ini. Mempercayakan lebih padanya sebagai kepanjangan tangan, mata, dan telingaku. Bisa saja mereka justru tidak nyaman dengan kehadiranku.

Jika aku seorang supervisor, dan punya banyak waktu lenggang. Aku akan memilih menghabiskan waktu bercengkerama dengan mereka dan mencoba mengerti apa pembicaraan serta selera bercandanya.

Jika aku seorang supervisor, aku akan memberikan kesempatan untuk berbicara dan berkarya semau mereka selama dalam koridor kebaikan dan tidak menyalahi aturan. Tidak serta merta memotong kreatifitas mereka oleh formalitas.

Jika aku seorang supervisor, aku tidak ingin menjadi penuntun tapi ingin menjadi penunjuk jalan. Mengarahkan dan akhirnya tersenyum dari kejauhan, melihat mereka sampai dengan selamat serta bahagia di tujuan. Karena aku sangat percaya, mereka pasti bisa.

Jika aku seorang supervisor, aku akan menjadikan diriku sebaik – baik kakak dan teman.


Jika aku seorang supervisor, …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa