Dibawah Langit Asrama : Kawah Candradimuka Para Pandawa Lima

Seiring perjalanan menujunya kita, berbagai fenomena telah terlewati. Namun yang harus adalah, kesediaan kita untuk mengindahkannya. Entah indah bermakna konotasi atau sifat sebagai sesuatu yang cantik, atau maksudnya memperhatikan. Hingga terkadang di fase inilah kita terlena dan terjebak dalam ruang nostalgia.
Tutuka atau Gatotkaca semasa bayi dibawa oleh Batara Guru ke kahyangan yang diriwayatkan memiliki panas 7 kali lipat dari api terpanas yang pernah ada. Tempat itu adalah ternyata sebuah kawah aktif bernama Candradimuka. Tapi tempat itu bukanlah secara real yang dimaksud, yaitu sebuah tempat wisata di daerah Banjarnegara. Ini hanya perumpamaan saja. Bayi putra Pangeran Bima tersebut terpaksa harus dibawa sang guru ke Kawah Candradimuka untuk dilatih dan dibiasakan dengan hal – hal sulit agar nantinya bisa mengalahkan semua ego dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada di negerinya. Memang beliau dianugerahi kekuatan dan kebijaksanaan dari ayahnya yang merupakan Pandawa Lima. Namun, Batara Guru melihat hal itu tidak cukup untuk Gatotkaca yang kedepan diperkirakan akan mendapatkan berbagai hambatan dan rintangan untuk meraih kejayaan. Oleh karena itu, sang guru menggemblengnya setiap hari untuk berlatih hingga siap menjalani pertarungan kehidupan yang penuh intrik ini.
---
Pandawa adalah sebuah nama yang digunakan oleh para peserta Rumah Kepemimpinan Regional V Bogor untuk menjadi identitas asrama. Pandawa dipilih karena identic dengan angka 5. Ya, karena memang anak Pandawa berjumlah 5 orang dengan gaya kepemimpinan masing – masing. Kurang lebih juga 30 peserta memiliki keunikan ini. Yudhistira sebagai anak pertama yang arif dan bijaksana. Bima sebagai yang terkuat. Nakula dan Sadewa kembar yang tak terpisahkan dan sangat taat kepada orangtuanya. Dan Arjuna sang pujaan wanita. Kurang lebih karakter ini juga coba dilekatkan kepada kami.
Melalui pembinaan di asrama inilah yang kami sebut kawah Candradimuka. Dimana kurang lebih dalam kurun waktu sekitar 22 bulan kami akan ditempa menjadi pribadi yang paripurna. Kami akan dihadapkan pada kondisi genting dan selalu didesak untuk mengambil tangungjawab besar. Menentukan pilihan hidup dan merencanakan sebaik mungkin dalam hal apapun kedepan untuk dilakukan.
Kamar – kamar dalam dua lorong bersiku menjadi saksi proses yang dilalui. Ruang keluarga dan aula tempat istimewa program bulanan atau tahunan yang juga bila diminta, mereka siap bersaksi. Dimana setiap 4 bulan sekali kami harus berganti rekan diskusi malam hari sebelum tidur, mendekorasi bilik berukuran 2,5 m x 3 m agar tampak lebih menarik, merapihkan meja belajar dan ranjang peristirahatan.
Pagi hari menjadi waktu yang benar – benar milik kami. Saat kami berkumpul dan memenuhi rasa rindu karena semalam tak sempat berjumpa dikarenakan amanah masing – masing. Waktu penuh berkah, dengan lantunan ayat suci serta Al – Matsurat pagi atau sekedar sharing intisari buku Dalam Dekapan Ukhuwah. Yang mana sebelum adzan subuh kami juga selalu paksakan untuk bangun dan beribadah kepada Allah dalam setiap sujud shalat malam kami. Itu sudah menjadi tugas bagi para penjaga hirosah. Memastikan seisi asrama bangun dan melaksanakannya. Hal ini san       gat berat dirasa bagi mereka yang tidak menikmatinya. Apalagi dalam keadaan terkantuk dan gontai harus menempuh perjalanan darat dengan kaki sekitar 10 menit menuju Masjid Al – Adjrumi. (kecepatan berjalan normal manusia 5km/jam). Belum lagi menunaikan piket sebelum berangkat ke kampus di hari kuliah yang sibuk dan padat.
Kehadiran para alumni yang kembali untuk berbagi menjadi booster bagi kemauan kami untuk terus berkembang dan melampaui mereka. Mendatangkan tokoh sekalipun yang ternyata juga berdampak penting bagi pola pikir kami. Atau kabar akan hadirnya Direktur dan Pendiri yang selalu dinantikan setiap bulannya adalah sebuah alasan untuk segera berbenah dan menyiapkan diri mendapat motivasi dan pencerahan. Untuk menjawab segala pertanyaan kenapa dan keraguan kami untuk tetap disini.
Program istimewa bersama dan capaian lain dalam Leadership Project yang harus selalu terpublikasi dengan baik serta terstruktut via apapun yang kekinian dan mampu diakses secara bebas adalah sebagai bentuk laporan kami kepada umat. Apa saja yang sudah dan akan kami lakukan kedepan, karena kami disini ada untuk berbakti kepada umat. Laskar Cibeureum Oncom yang akan terus memberikan senyuman lucu di wajah warga khususnya anak – anak kecil di desa sekitar asrama.
Kegiatan rutin tahunan yang mau tidak mau melibatkan umat seperti Idul Fitri dan Idul Adha adalah titik balik untuk merefleksikan diri untuk mengetahui bagaimana ke-ter-terima-an kita di mata umat.
Hari demi hari berganti, hinga tak terasa sudah 9 bulan kami bersama. Yang artinya adalah seorang calon manusia sudah siap menghadpi dunia dengan segala keterbatasan dan keberaniannya. Hingga akhirnya kami juga berani punya mimpi besar untuk menikmati winter di negeri Sakura bersama – sama. Namun yang terpenting adalah perjalanan kami menuju surga. Sama seperti perjalanan Pandawa menuju moksa. Dimana penuh perjuangan berat, bahkan harus mengorbankan darah dan air mata.
---
Akhirnya Pandawa bersama – sama  mendaki gunung Himalaya untuk bertapa dan mencapai tingkatan diri yang lebih tinggi. Tak berapa lama Sadewa terjatuh, badannya lemah sekali. Hawa yang dingin dan sulitnya jalur pendakian membuat Sadewa kehabisan tenaga dan meninggal dipangkuan Yudhistira. Yudhistira menahan rasa sedihnya dan meninggalkan jenazah adik tercintanya melanjutkan perjalanan.
Gunung Himalaya memang ganas. Tak puas membunuh Sadewa, kini Nakula jatuh tersungkur kelelahan. Yudhistira hanya menghela napas melihat adiknya meninggal. Nakula meninggal karena merasa dia yang paling pandai diantara mereka. Setelah Sadewa meninggal kemudian disusul oleh Nakula dan Arjuna. Bhima sangat terpukul dengan kematian adik – adiknya. Yudhistira yang menahan sedih berkata bahwa Arjuna meninggal karena dia merasa paling cakap dan paling tampan.
Bhima terjatuh, nafasnya berat, kemudian Bhimapun akhirnya meninggal. Bhima meninggal karena merasa yang dialah yang paling kuat. Bagaimana dengan Yudhistira ? Orang yang selama ini dianggap lemah dan bodoh masih mendaki Gunung Himalaya dengan tekad kuat. Yudhistira kini hanya sendiri melanjutkan perjalanan melihat jenazah adik – adiknya di lereng gunung. Kemudian dia melihat keatas, tampak puncak Himalaya yang disinari matahari. Segera ia mempercepat langkahnya, dan tak terasa sampailah Yudhistira dipuncak gunung Himalaya.
Seketika itu, langit terbelah dan Dewa Indra turun dari langit menaiki kereta kencana, dia mengajak Yudhistira menuju Surga. Sesampainya disurga, Yudhistira melihat para Kurawa dan Sengkuni sedang berpesta pora. Indra berkata bahwa para Kurawa masuk surga karena mereka membela tanah air mereka, sehingga mendapat karma untuk tinggal disurga. Kemudian Yudhistira bertanya adik – adiknya ? Oleh Dewa Indra, Yudhistira diajak keneraka dimana adik – adiknya disiksa di neraka karena dosa – dosa mereka. Tak lama, Dewa Indra kembali mengajak Yudhistira kembali ke surge. Yudhistira berkata kepada Indra, “ Biarlah aku tinggal disini bersama adik – adikku. Apalah arti sebuah surga apabila saudaramu yang kamu cintai tidak bersamamu ? ”.
---
Semangat kebersamaan dalam persaudaraan dan ikatan aqidah lah yang coba kami anut menjalani proses ini. No one left behind. Zero PAW. Kami tidak ingin ada yang tertinggal. Sekalipun di belakang, jaraknya tidak terlalu jauh. Masih terlihat dan mampu segera disusul dan ditarik bersama untuk terus bergerak kedepan. Kami tidak ingin ada yang tercecer dan tercerai – berai antar kami hanya karena kesalahan pribadi yang dilakukan yang padahal bisa dihindarkan dengan cara saling mengingatkan dan menguatkan. Yang kami harap adalah kesetiaan terhadap komitmen menjalani ini tanpa terkecuali.
---
Salam penulis, dari gerimis romantis kota Hujan dan sepotong manisnya talas brownies. Yang hiruk pikuk dengan riuh keramaian suara angkot lalu – lalang, namun tampak eksotis dikelilingi bukit dan pegunungan. Dihiasi amparan padi hijau siap menguning sebagai perlambang ketahanan pangan.



*tugas bulanan asrama, di tahun baru bulan kelima, menuju memperingati 15 tahun RK*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Rektor Baru Idaman Mahasiswa IPB

Paradigma dalam Ideologi dan Paradigma Materialisme

Reorientasi Gerakan Politik Mahasiswa